Women's March Jakarta 2020: Bergerak Mendobrak Dinding Patriarki

Oleh: Alfian Putra Abdi - 9 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Melihat dari dekat parade hari perempuan internasional 2020 di Jakarta.
tirto.id - Margianta Suraman berdiri di tengah-tengah kerumunan massa aksi yang mayoritas perempuan. Pada siang yang terik itu, Minggu 8 Maret 2020, sedang berlangsung parade Hari Perempuan Internasional di Taman Aspirasi Monas, Jakarta Pusat.

Ia menahan diri dari terik matahari yang garang dan hawa panas yang menyengat di dalam kostum Batman—tokoh fiksi pahlawan super rekaan DC Comics.

Margi tidak sedang salah kostum atau sengaja menarik perhatian publik meskipun beberapa peserta aksi menjadikannya sebagai objek foto bersama. Ia berpakaian demikian untuk mengingatkan massa bahwa Batman sebenarnya adalah representasi pemilik modal yang justru harus diwaspadai.

"Kalau Anda senang berfoto sama saya, hati-hati, karena kalian seharusnya mengawasi orang-orang seperti Batman—orang kaya yang merasa pahlawan bagi orang banyak padahal menimbulkan masalah bagi masyarakat sehari-hari," ujarnya kepada saya.

"Pahlawan sesungguhnya bagi saya ialah kaum perempuan yang turun hari ini: buruh, petani, kaum minoritas seksual. Bukan Batman, bukan pemilik modal."

Margi menjadikan Batman sebagai simbol ketimpangan sosial dan gender. Ia menegaskan bahwa masih banyak kasus-kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan di Indonesia. Hal itu diperburuk dengan kebijakan pemerintah yang menurutnya seksis.

"Makanya, saya bawa poster ini: Hey, Goverment! Stop Mansplaining Women with Your Policy," ujarnya.



RUU Cipta Kerja, peraturan usulan pemerintah bermodel omnibus law dan kini siap dibahas DPR, juga termasuk kebijakan yang menurutnya tidak pro terhadap perempuan.

Suara Margi berkelindan dengan pernyataan Koordinator GERAK Perempuan, Nining Elitos, yang mengatakan tujuan mereka turun ke jalan untuk menyuarakan sejumlah hak perempuan agar aman sebagai warga negara dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan.

Nining merujuk data Catatan Akhir Tahun (CATAHU) Komisi Nasional Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) 2020.

Terdapat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terlaporkan pada tahun lalu. "Angka ini naik 6 persen dari tahun sebelumnya yang berjumlah 406.178," ujarnya saat massa aksi ada di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Masih menurut Komnas Perempuan, hingga kini semakin banyak peraturan di Indonesia, baik di tingkat nasional maupun daerah, yang mendiskriminasi perempuan. Mulai dari kewajiban berjilbab bagi anak sekolah sampai jam malam.

Kewajiban berjilbab bisa menciptakan perundungan terhadap anak perempuan, kata Nining. Di berbagai kabupaten, jilbab juga dipaksakan kepada siswi yang tidak beragama Islam. "Ini melanggar kebebasan beragama," ujarnya menegaskan.

Menurut data yang sama, terdapat 420 peraturan yang mendiskriminasi perempuan pada 2017. Salah satunya tes keperawanan bagi perempuan yang hendak melamar ke TNI. Praktik memeriksa selaput dara menurut WHO tidak bisa membuktikan perempuan pernah berhubungan seks atau tidak.

"TNI harus meniru Kepolisian RI yang secara resmi telah menghentikan praktik—yang traumatik dan melanggar hak asasi—ini sejak 2015," tegasnya.


Lukisan Tolak Patriarki

Leolintang Anies berjalan di tengah kerumunan massa aksi Hari Perempuan Internasional sembari menenteng kanvas. Tangan kiri Leo menggenggam cat akrilik kuning dan tangan kanannya lentur memainkan kuas.

Ingar-bingar parade massa aksi yang bertabrakan dengan suara Toa komandan kepolisian tak membuat Leo bergeming. Jalan Medan Merdeka Barat sisi kanan siang itu menjadi ruang kerja Leo.

"Ini lukisan menolak patriarki," ujarnya kepada saya.

Ia sudah terlibat di Hari Perempuan Internasional sebanyak tiga kali, pertama 2008, kedua 2009, dan terakhir tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, Leo juga melukis.

"Sebagai pelukis. Saya berkontribusi dengan cara yang saya bisa. Melukis ini," ujarnya.

Persoalan patriarki di Indonesia memang menjadi salah satu fokus isu parade kali ini.

Koordinator GERAK Perempuan Lini Zurlia mengatakan kultur patriarki di Indonesia masih tergambar jelas dalam berbagai kebijakan, sikap politik, norma sosial, sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem teknologi, sistem ekonomi, sistem kepercayaan dan kesenian.

Ia bak dinding tak kasat mata yang "memenjarakan" sekaligus turut menyebabkan kekerasan kultural dan struktural terhadap perempuan.

"Baik terhadap perempuan biologis (cisgender) maupun individu yang mengidentifikasi diri sebagai perempuan (transgender). Kekerasan tersebut dilandasi oleh nilai hetero-patriarki: yakni nilai yang memberikan keistimewaan lebih pada laki-laki biologis, heteroseksual, dan maskulin," ujarnya pada kesempatan yang sama.


Parade Hari Perempuan Internasiona
Parade Hari Perempuan Internasional di depan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020). tirto.id/Alfian


Parahnya lagi, seringkali hal itu dilanggengkan melalui cara-cara militeristik, manipulatif, berulang dan tidak pernah putus. "Ia bekerja melalui institusi agama, budaya, dan negara," ujarnya.

Lini mengatakan mereka membawa sejumlah tuntutan dalam parade Hari Perempuan Internasional kali ini: tangani dan tuntaskan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan; bangun sistem perlindungan komperhensif bagi perempuan, anak dan kelompok minoritas; cabut produk perundang-udangan dan batalkan rencana perundang-udangan yang diskriminatif, tidak berkeadilan gender, dan melanggar hak.

Mereka juga menunutut pemerintah menghentikan agenda pembangunan yang berpihak pada investor; batalkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja, RUU Ketahanan Keluarga, dan RKUHP; serta mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, RUU Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat, dan ratifikasi Konvensi ILO 190 tentang penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.

==

Sayup-sayup terdengar seorang orator dari mobil komando memberikan aba-aba kepada massa aksi. Sebagai awalan, ia melontarkan lirik-lirik guna diikuti massa yang berjejer di depannya.

"Ini harus dihentikan: pemerkosaan, pelecehan, kekerasan, pembunuhan, yang korbannya para perempuan," teriaknya di depan Kantor Kemen PPPA, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020). Ia mengambil jeda sekian detik.

"Ini bukan salahku. Ini bukan salah tubuhku. Ini bukan salah pakaianku. Ini salah patriarki!" lanjutnya.

Sembari menghentakkan kaki ke tanah dan mengepal tinju ke langit, seruan itu diikuti oleh massa aksi.


Baca juga artikel terkait HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 2020 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Hendra Friana
DarkLight