Obituari

Wismoyo Arismunandar: Perwira Baret Merah, Adik Ipar Tien Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 28 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah hidup Wismoyo Arismunandar, adik ipar Siti Hartinah dan sering diberi wejangan oleh Presiden daripada Soeharto.
tirto.id - Jenderal TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar wafat hari ini, Kamis (28/01/2021) di Jakarta. Di antara saudara-saudarinya, ia satu-satunya yang berkarier di militer.

“Adik saya, Wismoyo Arismunandar, diizinkan masuk Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang,” kata Wiranto Arismunandar.

Kakak-kakaknya, yaitu Wiranto Arismunandar adalah Guru Besar Termodinamika ITB yang pernah menjadi Rektor ITB (1988-1997), dan sempat menjadi Menteri Pendidikan (1998). Sementara Budiono Arismunandar yang pernah belajar di Akademi Perkebunan pernah jadi Direktur PT Perkebunan Nusantara di Jawa Timur dan Aceh. Adapun Artono Arismunandar yang keluaran Teknik Elektro ITB, pernah jadi Inspektur Jenderal Listrik dan Energi Baru, Departemen Pertambangan dan Energi. Sedang saudari-saudari mereka, yakni Titi Rarasati dan Retnowati, pernah belajar di UGM dan jadi guru sains (matematika dan fisika) di SMA Negeri.

Orang tua mereka, Sri Wurjan dan Raden Arismunandar, sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya.

Wismoyo lulus dari AMN pada tahun 1963, berbarengan dengan Sintong Panjaitan. Saat masih berpangkat Letnan Dua, keduanya dikirim ke Sulawesi Selatan untuk membantu operasi penumpasan Kahar Muzakar. Lalu pada 1965, seperti dicatat Solemanto dalam Feisal Tanjung, Terbaik untuk Rakyat Terbaik bagi ABRI (1999:189), keduanya menjadi komandan peleton dalam kompi yang dipimpin Letnan Satu Feisal Tanjung.

Menurut Terence Lee dalam Defect Or Defend: Military Responses to Popular Protests in Authoritarian Asia (2015:130), di awal kariernya Wismoyo Arismunandar sempat menjadi pengawal presiden daripada Soeharto selama tiga tahun. Masa-masa menjadi pengawal presiden menajdi momen sangat penting dalam hidupnya. Dia meminang Datit Siti Hardjanti--adik Tien Soeharto--pada 1968.

“Begitu saatnya tiba, saya pun harus melamarnya kepada Pak Harto dan Ibu Tien,” kata Wismoyo dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (2011:101). Lamarannya diterima. Ia pun segera menjadi ipar daripada Bapak dan Ibu Negara Republik Indonesia.


“Setia itu apa?"

Pada 1974, saat Komandan Jenderal (Danjen) Korps Baret Merah atau Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) dijabat oleh Witarmin, Wismoyo menjadi Wakil Asisten Pengamanan Kopassandha. Di masa genting Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari), ia diperintahkan Danjen untuk menemui Presiden Soeharto yang saat itu sedang santai berkain sarung dan memakai kaus oblong di rumahnya.

Kepada iparnya itu, Wismoyo menyampaikan bahwa Kopassandha setia kepada Presiden Soeharto.

Setia iku opo? (Setia itu apa?)” tanya Soeharto dengan santai.

Wismoyo yang masih berpangkat Mayor pun bingung. Soeharto pun menjelaskan bahwa setia adalah berpegang teguh kepada kebersamaan dalam cita-cita. Wismoyo juga diberi wejangan agar dirinya pandai membaca situasi dan membuat analisis.

Infografik Wismoyo Arismunandar
Infografik Wismoyo Arismunandar. tirto.id/Quita


Ketika berpangkat Kolonel, seperti dicatat Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989:71-72), Wismoyo pernah menjadi Komandan Grup 1 Kopassandha di Serang, Banten. Lalu pada 6 April 1983, ia menjadi Komandan Jenderal Kopassandha hingga 22 Mei 1985. Saat itu usianya sudah 43 tahun dan berpangkat Brigadir Jenderal.

"Wismoyo Arismunandar menjadi orang pertama lulusan AMN Angkatan 1963 yang menjadi perwira tinggi berbintang satu,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:61).

Saat menjadi Danjen Kopassandha, Soeharto berpesan kepadanya: "[Jadi orang itu] sing sabar, sing sareh, sing soleh (yang sabar, yang tenang, yang saleh)."

Bagi Prabowo Subianto--juniornya di Korps Naret Merah--Wismoyo adalah orang penting. Atas bantuannya, Prabowo mulai berhubungan dengan Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto. Pada 1983, Prabowo pun menjadi bagian dari Keluarga Cendana.

Setelah jadi Danjen Kopassus, Wismoyo Arismunandar sempat menjadi Kepala Staf Kodam Udayana selama satu setengah tahun. Awal 1987, barulah ia menjadi Panglima Kodam VIII/Trikora.


Dari Agustus 1990 sampai Juli 1992, Wismoyo menjadi Pangkostrad seperti Soeharto pada 1965. Lalu setelah itu menjadi Wakil KSAD, dan pada Maret 1993 hingga Februari 1995 ia menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Setelah pensiun, ia dikenal sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mengantarkan Indonesia menjadi Juara Umum SEA Games 1997 yang diselenggarakan di Jakarta.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight