Winamp, Legenda yang Menolak Menjadi Nostalgia

Oleh: R. A. Benjamin - 3 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Winamp adalah kenangan indah masa remaja. Mereka menolak menjadi sekadar nostalgia dengan proyek terbaru. Tapi, akankah berhasil?
tirto.id - Itu adalah hari-hari yang baik. Sepulang sekolah, saya kerap menuju warnet tercepat demi menyusuri internet pada masa awal teknologi canggih ini tiba di kota kecil tempat saya berasal. Youtube belum begitu populer seperti hari ini. Lama buffer-nya kadang lebih panjang ketimbang durasi videonya sendiri.

Lumba-lumba billing menanti, menghitung, kadang meneror. Minuman botolan dingin disiapkan untuk mengiringi aktivitas terkoneksi ke dunia lain. Turut bertengger di layar, teman untuk menanti buffer, loading, atau unduhan apa pun yang lama minta ampun, sebuah aplikasi bernama Winamp.

Lagu-lagu dari Avenged Sevenfold seperti "Dear God", "Rhyme in Peace" dari Bondan Prakoso & Fade2Black, atau siapa pun yang sedang tren diputar. Bodo amat dengan headphone yang penuh daki bekas puluhan-ratusan pengunjung lain, atau komputer yang sarat virus. Colokkan flashdisk, setel lagu favorit, atau isi dengan lagu-lagu terbaru dari internet maupun komputer warnet. Segar.

Jikalau loading atau unduhan masih kelewat lama dan kerap kali menahanmu untuk browsing dengan lancar, Winamp menyediakan aktivitas menyenangkan lain: menggonta-ganti skins. Fitur sampingan saja, memang. Untuk fitur utamanya, selain sebagai pemutar musik, saya biasa menggunakan Winamp untuk membetulkan tag, album art, dan informasi pada lagu baik berformat MP3 atau lainnya. Namun tetap saja mengasyikkan melihat pemutar musik yang dapat berganti tema dan warna sehingga tampak lebih berkarakter.

Aplikasi ini seolah bercakap, "Hey, kau, ekspresikanlah dirimu seperti yang kau mau!" Kendati, jika diingat-ingat, sebagian skins yang pernah kita gunakan bakal terasa antara masih tampak keren atau norak bukan main.


Ketika internet kian cepat, meski belum cepat-cepat amat, saya mulai beralih ke banyak hal lain, Youtube, forum, dan media sosial. Winamp lantas berfungsi sebagai pemutar musik belaka yang bisa dikoneksikan ke Last.fm, platform yang memungkinkan kita mencari lebih banyak musik baru.

Akhirnya Winamp benar-benar ditinggalkan, oleh saya dan banyak pengguna lain.

Itu adalah hari-hari yang baik. Mungkin karena saya belum bekerja saja; belum kelewat banyak hal yang perlu dipikirkan. Yang pasti, saya mengenang Winamp sebagai salah satu fosil dari hari-hari yang baik. Mitra setia yang juga ringan dan tak rewel. Penuh gaya, bisa memecut pantat llama.

Ia yang pernah "mati" sekarang menyongsong kebangkitan kedua.

Legenda yang Nyaris Mati

"Program jukebox komputer pertama di pasar dan tetaplah yang terbaik, meskipun pernah melalui krisis menyakitkan," begitu Dan Goodin tentang Winamp, dalam tulisannya di Wired.

Winamp pertama kali dirilis pada 1997 oleh dua lulusan Universitas Utah, Justin Frankel dan Dmitry Boldyrev. Nama Winamp merupakan gabungan dari "Windows" dan "AMP", engine pemutar fail MP3. Ia lahir dari keinginan mendengarkan lagu secara nyaman di komputer. Menurut Frankel, pemutar MP3 yang lebih dahulu muncul sulit digunakan. Kehadiran Winamp menjadi jawaban untuk MP3, format audio generasi baru yang lebih ringkas dan kelak mengganti format-format sebelumnya yang berukuran lebih besar seperti WAV.

Winamp dengan cepat meraih popularitas. Di bawah bendera Nullsoft yang dibentuk Frankel dan Boldyrev, Winamp dikembangkan hingga versi Winamp 2. Pada 1999 AOL membeli Nullsoft dengan mahar mencapai 80 juta dolar AS. Di bawah payung AOL, Winamp terus berlanjut hingga versi 5.66.


Masa jaya itu berangsur menuju akhir. Jumlah pengguna Winamp terus menurun. Kemunculan iTunes disebut-sebut menjadi faktor utamanya. Berikutnya, seperti yang kita tahu, layanan-layanan streaming mengambil alih posisi yang lama ditempati pemutar musik seperti Winamp—musik diputar dengan cara yang lebih praktis lagi. Pada November 2013, AOL mengumumkan akan menutup situs Winamp.com dan apikasi itu takkan pernah bisa diunduh lagi.

Kendati demikian, Winamp tak jadi dikuburkan. Pada Januari 2014, aggregator radio daring dari Belgia, Radionomy, mengakuisisi merek-merek di bawah Nullsoft, termasuk Winamp. Sementara di Indonesia, setidaknya hingga 2017 atau empat tahun setelah nyaris mangkat, Winamp masih digunakan 7 persen pengguna smartphone.

Winamp 5.8 dirilis pada 2018 oleh Radionomy setelah ia terlebih dulu bocor di internet. Di saat yang sama, Radionomy mengumumkan bahwa versi tersebut bukanlah proyek yang sedang mereka kembangkan, yakni Winamp dalam wujud baru. Itulah kabar terakhir dari pemutar musik favorit kita.

Tanpa ada bocoran kabar apa pun yang mendahului, tiga tahun kemudian, Winamp mengumumkan bangkit kembali. Pada penghujung 2021, sang legenda memutuskan kembali, masih dengan llama sebagai maskot, minus logo petir yang ikonik—berganti logo yang minimalis dan lebih kekinian.

Hadir Lagi dengan Penuh Janji

Mengunduh lagu atau bahkan me-rip dari CD untuk kemudian disetel di Winamp telah lama ditinggalkan sebagian besar pengguna. Seni berupa kreasi skins telah pantas dimuseumkan. Winamp kini dibicarakan dengan kaidah-kaidah past tense. Lantas, apa dan bagaimana "Winamp baru" itu?

Tidak hanya update, tapi juga remastered, begitu klaim di situs resmi soal Winamp baru kelak. Mereka juga menyebutnya "penyegaran inovatif." Winamp 6 itu akhirnya bakalan tiba. Ia dimaksudkan untuk lebih "musiksentris" lagi, pula dijanjikan akan menjadi one-stop platform "yang menghubungkan para kreator dan konsumen musik, podcast, stasiun radio, audiobook, dan segala macam peripheral content lain."

Ketimbang seperti selama ini mereka dikenal, Winamp baru terdengar lebih menyerupai Spotify atau Pandora. Digital Music News menyebut upaya atau niat itu sebagai "jaring yang lebar untuk ditebarkan," terutama mengingat Spotify yang kini juga berfokus pada audiobook dan podcast.


Infografik Winamp
Infografik Winamp. tirto.id/Quita


Winamp juga menjanjikan "pendapatan yang lebih adil" bagi para pekerja bebunyian. Itu adalah sebuah janji muluk untuk para musisi dan konten kreator yang selama ini kepayahan mengeruk pendapatan yang layak dari layanan streaming.

Para musisi, label, konten kreator, podcaster, dan produsen audiobook mungkin tertarik untuk menjajal versi beta dengan meninggalkan alamat email di situs Winamp, untuk kelak dikabari jika versi tersebut telah hadir. Kendati belum benar-benar jelas, Winamp yang baru terdengar bakal memecut pantat llama lebih keras.

Beberapa pihak memperkirakan AudioValley (perusahaan yang memayungi Radionomy), hanya membuat layanan streaming lain lagi dengan memanfaatkan popularitas Winamp—dengan reputasinya yang mengingatkan pada hari-hari yang baik. Dalam ranah teknologi, punya modal nama besar di masa lampau saja sepertinya tidak cukup. Terlebih lagi dalam kancah platform yang menghadirkan layanan serupa.

Kita nantikan saja bagaimana sepak terjang dan pastinya, janji-janji dari sang legenda.

Baca juga artikel terkait atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Musik)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight