Industri Sepeda Lokal Terpukul

Wimcycle di Ujung Tanduk, Polygon Siap Menyelamatkan

Ilustrasi sepeda. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 14 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Persaingan dengan sepeda impor membuat Wimcycle terpukul terus menerus.
tirto.id - “Wimcycle.. heeebooohhh!!!”

Tagline itu sangat mengena dan dikenang sampai saat ini. Banyak orang mengingat jargon kata heboh itu sebagai representasi merek sepeda Wimcycle, pabrikan PT Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries.

Sayang, belakangan sepeda hasil rakitan salah satu produsen lokal ini sedikit sulit didapat di pasaran. Di salah satu toko penjual sepeda di kawasan Kebayoran Lama saja, sepeda merek Wimcycle sudah tidak ada dalam daftar.

Menurut sang pemilik toko, sudah sejak tahun lalu tokonya sudah tidak lagi menjual sepeda merek Wimcycle. “Sudah dari tahun lalu saya tidak lagi menjual sepeda merek Wimcycle karena memang sudah kalah saing,” jelas Wawan (bukan nama sebenanya) sang pemilik toko kepada Tirto.

Meski demikian, masih ada beberapa toko yang memiliki stok dan menjual sepeda merek Wimcyle. Namun, para pemilik toko sepeda tersebut mengakui bahwa stok barang yang ada adalah stok sepeda yang lama. Sebab, sudah sejak dua tahun terakhir produsen sepeda merek Wimcycle berhenti memproduksi sepeda baru dan hanya menghabiskan stok barang yang ada saja.

Kepada Tirto, pemilik toko sepeda Tri Jaya yang berlokasi di Pondok Labu mengaku bahwa berbagai stok sepeda merek Wimcycle yang dimilikinya adalah stok hasil produksi lama. “Wimcycle sepertinya mau off (berhenti) dulu untuk produksi sepeda yang baru. Kemarin saya sempat ditawarin untuk menyetok lagi dan bahkan dikasih diskon sampai 20 persen, jadi kayak sedang cuci gudang,” ungkap pemilik toko sepeda Tri Jaya yang enggan disebutkan namanya.


Produksi varian anyar sepeda Wimcycle sepertinya memang terganggu, sebab perseroan terlilit utang. Bahkan, saat ini PT Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries tengah menjalani proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan secara suka rela di Pengadilan Niaga Surabaya, Jawa Timur, dengan nomor perkara 47/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga Sby sejak 23 November 2018.

Permohonan PKPU lantaran keuangan perusahaan dinilai bermasalah ini dikabulkan pada 6 Desember 2018. “Ini salah satu itikad baik dari perusahaan kepada kreditur-krediturnya karena nyatanya klien memang mengalami masalah keuangan sehingga membutuhkan restrukturisasi untuk membayar utang-utang,” kata kuasa hukum Wimcycle, Faizal Asikin Karimuddin dari Kantor Hukum Faizal Karimuddin & Co, melansir pemberitaan Kontan awal tahun 2019.

Dalam berkas perkara permohonan PKPU hingga permohonan didaftarkan, saldo utang Wimcycle mencapai Rp504,03 miliar yang berasal dari 37 kreditur. Selain itu ada juga tagihan yang didominasi dari pinjaman perbankan dengan jumlah tujuh kreditur senilai Rp457,24 miliar.

Masih melansir Kontan, Faizal mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Wimcycle sebagai pabrikan sepeda lokal kerap kalah bersaing dengan serbuan sepeda impor asal Cina. Akibatnya, pendapatan perusahaan terus tergerus setiap tahun.

Di tengah proses perkara yang sedang berlangsung, PT Insera Sera yang merupakan produsen sepeda dengan merek dagang Polygon diketahui memiliki rencana untuk mengambil alih PT Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries, sekaligus mengambil alih seluruh kewajiban utang yang dimiliki perseroan.

William Gozalli, Direktur Insera Sera menyebut bahwa saat ini perseroan masih melakukan tahap due diligence atau uji aspek hukum dan keuangan terkait akuisisi. Alasan perseroan berniat mengambil alih, lantaran tidak ingin merek dagang Wimcycle dan juga PT Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries hilang dari daftar produsen sepeda lokal di Tanah Air.

“Kami merasa sayang kalau Indonesia harus kehilangan salah satu brand (merek) sepeda yang sudah sangat dikenal,” ucap William kepada Tirto.


Pengurus PKPU, Rifwaldi Rivai M. Noer menyebut, agenda siding PKPU pada 22 April 2019 kemarin mendapat perpanjangan 60 hari. Batas waktu berlangsung sampai dengan 20 Juni 2019 dan diharapkan sudah memiliki homologasi perdamaian.

PT Wijaya Indonesia Makmur (WIM) Bicycle Industries ini dahulu bernama CV Indonesia Makmur. Perusahaan ini didirikan oleh Hendra Widjaja pada 1972, pada awalnya memproduksi komponen sepeda di Surabaya, Jawa Timur. Dalam perjalanan waktu, perusahaan tidak hanya memproduksi spare part komponen sepeda, tetapi juga membuat sepeda di Desa Bambe Driyorejo Industrial Estate dan menggunakan merek dagang Wimcycle untuk produksi sepedanya.

Wimcycle menjadi salah satu pabrikan sepeda terbesar ketiga di Indonesia selama beberapa dekade, bersaing dengan PT Insera Sera sebagai produsen sepeda merek dagang Polygon dan PT Terang Dunia Internusa produsen sepeda merek dagang United Bike.



Sepeda Lokal Menghadapi Gempuran Impor

Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) yang menaungi produsen sepeda lokal menyatakan saat ini terdapat 12 produsen sepeda dalam negeri. Penguasa pasar sepeda Tanah Air dikuasai oleh tiga merek besar yaitu Polygon, United Bike, dan juga Wimcyle dengan persentase mencapai 90 persen.

Selain perusahaan tersebut, saat ini terdapat tiga nama produsen sepeda lain yang juga cukup tersohor seperti PT Jakarta Tunggal Citra dengan merek dagang Family Bike, PT Roda Pasifik Mandiri dengan merek dagang Pacific Bike, dan juga PT Indonesia Bike Works produsen sepeda merek Thrill dan Tabibitho.

Sayangnya dari segi produksi, produsen sepeda lokal belum sanggup memenuhi kebutuhan permintaan sepeda Tanah Air yang mencapai 6 juta sepeda. Menurut Rudiyono, Ketua Umum AIPI, angka produksi yang dihasilkan produsen sepeda lokal baru sanggup memenuhi separuh kebutuhan sepeda nasional.

“Produsen sepeda hanya sanggup memproduksi 2,5 juta sampai dengan 3 juta sepeda setiap tahun. Jadi sisanya dipenuhi oleh impor dari Cina dan juga Taiwan,” jelas Rudiyono kepada Tirto.

Persaingan dengan sepeda impor inilah yang menggerus keberadaan produsen sepeda nasional. Sebabnya, ongkos importasi sepeda jauh lebih murah ketimbang biaya produksi sepeda dalam negeri. Ini karena, Indonesia hanya menetapkan pajak bea masuk impor sebesar 5 persen untuk impor sepeda.

Pajak tersebut sama dengan bea masuk yang ditetapkan untuk mengimpor berbagai komponen sepeda yang memang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Sehingga hasil akhirnya, sepeda produksi lokal jauh lebih mahal ketimbang sepeda impor.

Belum lagi sepeda hasil produksi nasional harus memenuhi kriteria standar nasional Indonesia atau SNI. Pemenuhan syarat ini yang membuat produsen sepeda lokal harus menggunakan bahan baku ekstra dalam memproduksi barang.

“Padahal sepeda impor dari Cina dan Taiwan itu kalau diukur dengan menggunakan syarat SNI, sama sekali kualitasnya tidak layak. Sepeda impor itu kualitasnya jauh lebih rendah misalnya saja besinya tipis, berbeda dengan produksi Indonesia yang harus memenuhi syarat SNI,” rinci Rudiyono.

Nilai pajak bea masuk yang hanya sebesar 5 persen ini tentu memiliki hasil akhir harga jual yang rendah dibanding sepeda hasil rakitan pabrik lokal. Ujungnya, persaingan pasar yang berbicara. Harga sepeda yang lebih murah dengan kualitas rendah tentu lebih bisa memikat konsumen dibanding sepeda mahal namun memiliki kualitas mumpuni.

Rudiyono bilang, mangkraknya produksi sepeda merek Wimcycle merupakan salah satu contoh tidak bisa bertahannya produsen sepeda lokal di pasar dalam negeri. Saat ini, menurut Rudiyono, produsen sepeda lokal yang bisa bertahan adalah produsen yang memiliki orientasi ekspor selain memenuhi pasar dalam negeri.

“Sebab dengan nilai tukar rupiah yang juga tidak stabil, maka pasar ekspor lebih bisa menjanjikan karena produk sepeda rakitan Indonesia dengan kualitas bagus bisa dijual lebih murah di luar negeri. Orientasi ekspor jadi salah satu kunci bertahan produsen sepeda dalam negeri,” ungkap Rudiyono.

Baca juga artikel terkait SEPEDA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight