WHO dan Kemenkes Upayakan Eradikasi Penyakit Demam Keong

Oleh: Yulaika Ramadhani - 5 April 2018
Dibaca Normal 1 menit
Penyakit schisto atau lebih dikenal dengan penyakit keong ini disebabkan oleh cacing schistosoma
tirto.id - Pejabat Perwakilan Badan Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) dari India dan Badan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kemenkes mengunjungi Kabupaten Poso untuk melihat dari dekat upaya eradikasi penyakit demam keong atau schistosomiasis.

"Mereka terjun langsung ke dataran Lore, Kabupaten Poso, untuk melihat dari dekat lokasi fokus cacing schistosoma atau penyakit Keong dalam program pemberantasan penyakit itu," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso Taufan Karwur yang dihubungi di Poso, Kamis (5/4/2018) dilansir Antara.

Seluruh personel Operasi Tinombala di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, khususnya yang bertugas di wilayah Lore atau Dataran Napu, diingatkan untuk mewaspadai penyakit schistosomiasis, sejenis penyakit yang disebabkan cacing schisto yang hidup di dalam keong.

Keterangan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Poso menyebutkan bahwa penyakit schistosomiasis hanya terdapat di dua tempat di Indonesia yakni Dataran Napu Kabupaten Poso dan wilayah Lindu, Kabupaten Sigi.

Penyakit schisto atau lebih dikenal dengan penyakit keong ini disebabkan oleh cacing schistosoma yang berbentuk pipih yang hanya terlihat dengan mikroskop yang tinggal di rumah keong yang sudah tidak bertuan. Cacing schistosoma kemudian masuk ke dalam darah manusia melalui pori-pori saat manusia masuk ke daerah berair tempat berkembangnya keong schicto.

Cacing itu kemudian akan tinggal dan bertelur di hati manusia dan merusak organ hati. Karena itu ciri-ciri orang terkena penyakit langka di dunia ini adalah perut membesar yang lama kelamaan akan meninggal dunia.

Cacing schistosoma hidup dan berkembang biak pada air yang tidak mengalir yang tidak terkena sinar matahari. Penularannya ke tubuh manusia melalui kulit ari lalu bertelur dan berkembangbiak di hati manusia sehingga merusak hati.


Taufan Karwur menyatakan tim WHO yang didampingi Direktur P2PTVZ dr Elizabet Jane Soepardi dan Kadis Kesehatan Sulteng Reny Lamadjido berada di dataran Lore atau Napu sejak Selasa (3/4/2018).

Mereka mendatangi desa-desa fokus seperti Desa Watumaeta dan Desa Sedoa di Kecamatan Lore Utara serta Desa Dodolo, Kecamatan Lore Peore selanjutnya ke Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi.

Menurut Taufan, kedatangan tim WHO dan P2PTVZ itu untuk mengambil sampel fokus keong di tiga lokasi dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah kader schistosomiasis yang sedang bekerja untuk membasmi keong penyebar cacing schisto itu.

Tim WHO dan P2PTVZ ini juga mengamati perkembangan cacing schistosomiasis dewasa di laboratorium Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara.

Tim WHO dan P2PTVZ ini mengusulkan agar pemberantasan penyakit schistosomiasis dilakukan dengan sistem padat karya oleh masyarakat setempat sehingga masyarakat lokal mendapat manfaat secara ekonomi.

Dari dataran Lore, tim akan mengunjungi juga wilayah Lindu di Kabupaten Sigi, yang juga menjadi fokus keong penyebar cacing schisto.

Kabupaten Poso dan Sigi merupakan dua daerah lokasi berkembangbiaknya keong penyebar cacing schisto, dan pemerintah provinsi sedang melakukan gerakan eradikasi yang diharapkan tuntas pada 2023.


Salah satu gerakan eradikasi penyakit di seluruh dunia hanya terdapat di Sulawesi Tengah itu adalah dengan gerakan massal minum obat schistosomiasis bagi warga yang tinggal di daerah fokus keong atau sering bekunjung ke lokasi tersebut.

Eradikasi schistosomiasis merupakan salah satu perintah Presiden Joko Widodo kepada Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola dalam rapat khusus membahas percepatan pembangunan Sulawesi Tengah beberapa bulan lalu.

Untuk mempercepat pemberantasan penyakit yang menyerang hati ini, Pemprov Sulteng telah menyerahkan asetnya berupa laboratorium kesehatan di Napu kepada pemerintah kabupaten Poso untuk dibangun kembali guna kepentingan penelitian keong penyebar cacing schisto.


Baca juga artikel terkait CACING atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Sumber: antara
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani