Wenger dan Ferguson Saling Berbagi Kegagalan dan Kejayaan

Oleh: Bulky Rangga Permana - 21 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Selama sembilan tahun, rivalitas antara MU dan Arsenal berlangsung sengit. Mulai dari perseteruan pribadi sampai kebetulan ganjil.
tirto.id - Ketika Sir Alex Ferguson mengumumkan pengunduran dirinya pada 8 Mei 2013, The Guardian menyebutnya “akhir sebuah era”. Dalam kadar yang berbeda, pengumuman pengunduran diri Arsene Wenger pada Jumat (20/4/ 2018) kemarin bisa digambarkan serupa.

Karier Arsene Wenger di Arsenal memang tak sesukses karier Alex Ferguson di Manchester United. Lewat ukuran yang paling mudah terlihat, jumlah trofi pelatih kelahiran Strasbourg, Perancis, ini kalah jauh dibanding Ferguson.

Kendati demikian, sebagaimana Ferguson adalah pelatih tersukses di Manchester United, begitu pula dengan Wenger di Arsenal. 3 trofi Liga Premier, 7 gelar Piala FA, dan 7 kali memenangi FA Community Shield cukup bagi Wenger menyandang epitet itu.

Namun, ada hal lain yang membuat Wenger pantas disandingkan dengan Ferguson, yakni lama keduanya melatih di klubnya masing-masing. Selama 27 tahun Ferguson menukangi Manchester United; di Arsenal Wenger bertahan selama 22 tahun—sebuah pencapaian yang rasanya sulit untuk diulang kembali di Liga Premier atau di bawah iklim persepakbolaan dewasa ini.

Maka, tak keliru jika tiadanya sosok Fergie dan Wenger di Liga Premier menandai “akhir sebuah era”. Sebuah era ketika pelatih memiliki kekuasaan yang besar untuk menentukan kebijakan terbaik bagi klubnya, juga rivalitas yang bisa bertahan sampai bertahun-tahun seperti ditunjukkan keduanya dari 1996 sampai 2005. Sebuah era yang masih menghargai proses, setidaknya bersedia menunda vonis, ketimbang seketika memecat hanya karena kalah dalam beberapa pertandingan atau gagal meraih trofi dalam semusim dua musim.

Rivalitas itu tak hanya terjadi di lapangan mengenai dua tim terbaik di Inggris saat itu, melainkan membesar menjadi perseteruan pribadi. Wenger vs Ferguson dan Viera vs Keane menjadi simbol dari perseteruan epik tersebut.

Dua pemain Belanda yang sama-sama berposisi sebagai penyerang, Denis Bergkamp dan Ruud van Nistelrooy, berada di tengah-tengah rivalitas itu. Namun, bukan perseteruan yang melibatkan keduanya, melainkan suatu kebetulan aneh.

Masing-masing Bergkamp dan Van Nistelrooy diberi kesempatan untuk menghentikan prestasi terbaik rivalnya itu—raihan treble Manchester United musim 1998/99 dan tak terkalahkannya Arsenal dalam satu musim pada 2003/04. Namun, keduanya menyia-nyiakan kesempatan itu.

Semifinal Piala FA 1999


Pada 21 April 1999 laga semifinal kedua Piala FA yang mempertemukan Manchester United dan Arsenal di gelar di stadion Villa Park. Tiga hari sebelumnya, di pertemuan pertama, kedua tim berbagi bermain imbang 0-0.

Saat itu Manchester United tengah mengincar gelar treble, sedangkan Arsenal tengah berusaha mengejar gelar dobel dua musim berturut-turut. Di Liga Premier The Red Devils memuncaki klasemen sementara, hanya terpaut satu poin dari Arsenal.

Dalam pertandingan semifinal yang menentukan itu, Manchester United unggul terlebih dahulu. Gol tercipta lewat sepakan melengkung David Beckham dari jarak sekitar 20 meter di menit 17 setelah menerima umpan Teddy Sheringham. Keunggulan itu bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, anak-anak asuhan Alex Ferguson langsung gencar melancarkan serangan menit-menit awal. Peluang yang didapat Ole Gunnar Solskjaer dan Jesper Blomqvist sayangnya gagal berbuah gol.

Arsenal yang sesekali melakukan serangan balik justru berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Dennis Bergkamp di menit 69. Seakan membalas gol cantik Beckham, gol Bergkamp pun tercipta lewat tendangan dari luar kotak penalti.

Setelah gol Bergkamp, Arsenal berbalik menjadi tim yang gencar melakukan serangan. Hasilnya adalah gol yang dicetak Nicholas Anelka setelah mendapat bola muntah hasil tendangan Bergkamp yang gagal ditangkap Peter Schmeichel. Namun, gol tersebut dianulir karena Anelka berada pada posisi offside.

Memasuki menit ke-75 Roy Keane mendapat kartu kuning kedua setelah mengganjal Marc Overmars. Hal ini semakin menambah semangat para pemain The Gunners. Apalagi ketika di menit akhir, Arsenal mendapat hadiah penalti akibat pelanggaran yang dilakukan Phil Neville terhadap Ray Parlour. Arsenal kini hanya terpisah satu sepakan saja dari Wembley.

“Aku berani bertaruh rumahku kalau Dennis Bergkamp akan berhasil mencetak gol penalti itu,” kenang Parlour.

Namun, Bergkamp gagal menuntaskan tugasnya tersebut. Tendangannya berhasil ditepis Schmeichel. Kegagalan itu tampak membuat mental para pemain Arsenal ambruk. Hasilnya adalah gol Ryan Giggs di menit ke-109 yang ia cetak setelah melewati empat pemain belakang Arsenal.
Kegagalan Bergkamp mengeksekusi penalti bukan saja membuat Manchester United melangkah ke partai final, melainkan memungkinkan mereka meraih gelar treble musim itu, pencapaian terbaik United dan Ferguson sepanjang kariernya.

Andai saja Bergkamp berhasil, cerita mungkin saja akan berbeda.

"Kegagalan [penalti] itu menjadi salah satu pukulan terbesar dalam karier saya," sesal Bergkamp bertahun-tahun kemudian.

Wenger berkata, "Dia meminta maaf setelah pertandingan."

Bukan hanya Bergkamp yang merasa bersalah dan dihantui kegagalan itu. Wenger pun demikian.

Saat Ryan Giggs mengumumkan pensiun pada musim 2014, Wenger bahkan mengaku menyempatkan diri menonton rekaman gol yang menyakitkan itu.

Dengan nada pahit, Wenger mengenang: "Itu menjadi trauma bagi kami."

infografik rivalitas mu arsenal


Pekan ke-6 Liga Premier 2003/04


Apa yang menimpa Bergkamp terulang di pertandingan Liga Premier pekan ke-6 musim 2003/2004. Saat itu Arsenal bertandang ke Old Trafford. Kali ini giliran penyerang asal Belanda yang lain, Ruud van Nistelrooy, yang mengalaminya.

Di akhir musim itu, Arsenal menjuarai gelar Liga Premier ketiga dan terakhirnya di bawah asuhan Arsene Wenger. Namun, itu bukan hanya juara, melainkan juara yang sangat istimewa: The Gunners melakukannya dengan tak sekalipun menelan kekalahan sepanjang musim. Bisa dibilang itu merupakan musim terbaik Arsenal (dan Arsene Wenger) sepanjang sejarah.

Van Nistelrooy berpeluang untuk menghentikan pencapaian setelah MU mendapat hadiah penalti di menit akhir pertandingan. Jika di semifinal Piala FA 1999 itu Phil Neville melanggar Parlour, kali ini Martin Keown dianggap menjatuhkan Diego Forlan yang berupaya menyambut umpan silang Gary Neville.

Sayangnya, sebagaimana Bergkamp, Van Nistelrooy gagal menjadikan peluang itu sebagai gol. Ia gagal membobol gawang Arsenal yang saat itu dijaga kiper Jerman, Jens Lehmann.
Nistelrooy tampak percaya diri saat mengeksekusi. Ia mengarahkan bola agak ke sisi kanan Lehmann, dan kiper Jerman itu bergerak ke kiri. Sejauh itu sempurna. Sampai kemudian bola yang bergerak sangat cepat itu, yang melayang di depan Lehmenn itu, ternyata terlalu tinggi dan menerpa mistar gawang.

Lehmann sangat ingat rincian detik demi detik kejadian. Ia masih ingat hiruk-pikuk, teriakan, dan makian yang menyerangnya dari segala sisi. Setelahnya, Old Trafford sempat membisu.

"Saat itu, seisi stadion mendadak senyap selama sepersekian detik," kenang Lehmann.


Dua Kegagalan dan Berbagi Kejayaan


Kebetulan aneh yang dialami Bergkamp dan Van Nistelrooy ditambah pula oleh kebetulan aneh yang lain. Pada pertandingan semifinal Piala FA 1999 itu, kapten tim Manchester United, Roy Keane, diusir lapangan setelah menerima kartu kuning kedua karena mengganjal pemain asal Belanda Marc Overmars.

Begitu pula dalam pertandingan yang dijuluki “Battle of Old Trafford”. Kapten tim Arsenal, Patrick Viera, yang kali itu diusir lapangan setelah dianggap melakukan tendangan pada pemain asal Belanda, Van Nistelrooy. Wenger sendiri menuduh Nistelrooy bereaksi berlebihan sehingga Viera harus terusir dari lapangan.

"Pada momen itulah saya membencinya [Nistelrooy]," kenang Viera.

Belum lagi hadiah penalti yang didapatkan terjadi di menit akhir pertandingan. Plus: yang memperoleh penalti juga sama-sama tim tuan rumah. Dan satu lagi: eksekutor yang gagal sama-sama berposisi sebagai striker. Oh, jangan lupa: juga sama-sama berasal dari Belanda.

Dua momen itulah yang menjadikan Manchester United dan Arsena berbagai kegagalan, namun dengan itu pula mereka berbagi kejayaan: United meraih treble pada 1999, Arsenal menjadi juara musim 2003-2004 tanpa terkalahkan.

Dan untuk itulah, rivalitas klasik Wenger dan Ferguson akan dirindukan.

Baca juga artikel terkait ARSENE WENGER atau tulisan menarik lainnya Bulky Rangga Permana
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Bulky Rangga Permana
Penulis: Bulky Rangga Permana
Editor: Zen RS