Wayne Rooney: Si Bengal yang Tak Pernah Bisa Lepas dari Judi

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 8 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pemilihan nomor 32 untuk Rooney terindikasi sebagai upaya komersialisasi perusahaan judi.
tirto.id - Hanya setahun setelah memulai hidup baru di Amerika Serikat, Wayne Rooney mengambil langkah putar balik. Di usia yang sudah tidak muda lagi, Rooney pulang ke Inggris untuk menjadi player-coach (pemain sekaligus staf pelatih) bagi klub Divisi Championship, Derby County.

Kepindahan Rooney ke Derby, salah satunya karena keluarganya tak betah bermukim di AS. Namun, kepada BBC, Rooney mengaku transfer ini bukan semata didasari kerinduan terhadap Inggris, tapi juga keinginannya menimba ilmu sebagai calon pelatih.

"Aku telah membuat keputusan. Tawaran bermain di Inggris dan berkembang sebagai seorang pelatih bersama Phillip Cocu [manajer Derby] terlalu bagus untuk ditolak. Sebuah peluang untuk menyiapkan transisi karierku adalah salah satu alasan, kepindahan ini bukan hanya soal kepulangan," tuturnya.

Rooney memang mantap mencanangkan karier kepelatihan, tapi dalam kontraknya disebutkan prioritasnya tetap sebagai seorang pemain. Rooney sendiri membenarkan hal tersebut.

"Aku akan tetap bermain sampai tubuhku mengatakan aku tak bisa melakukannya lagi," kata Rooney menegaskan.

Tidak lama setelah penegasan status utamanya sebagai pemain, Derby County membuat sebuah pengumuman di berbagai kanal media sosial. Mereka menyebut Rooney akan memakai seragam dengan nomor punggung 32.

Di sinilah permasalahan muncul. Angka 32 yang diplot buat Rooney ternyata identik dengan nama 32Red, perusahaan judi yang juga sponsor dada di seragam Derby untuk musim 2019/2020. Publik pun ramai-ramai menduga kepindahan Rooney kental dengan kesan komersialisasi.


Dugaan komersialisasi dalam transfer Rooney semakin santer karena tidak lama setelah kesepakatan tersebut, 32Red meningkatkan nilai kontrak mereka sampai-sampai memecahkan rekor sponsorship klub. Del Morris, pemilik Derby, kemudian mengonfirmasi kabar pemecahan rekor ini.

"Kedatangan 32Red jelas meningkatkan peluang komersial kami dengan signifikan," kata dia.

Namun, Morris menampik tudingan kalau 32Red ikut mendanai transfer Rooney ke Derby. Menurut dia, 32Red sama sekali tak ikut campur dalam transfer maupun penggajian Rooney, apalagi meminta agar Rooney diberi kostum nomor 32. Bantahan juga dilontarkan Rooney.

"Aku telah memakai banyak nomor di seragam selama bermain: 18, 8, 9, 10, 23, dan sekarang 32. Bagiku itu bukan hal penting karena yang terpenting adalah aku bisa kembali untuk membantu tim," ujar dia.

Bantahan-bantahan itu belum cukup bikin kecurigaan sebagian kalangan lenyap. Ini karena dari segi gaji, nominal yang diterima Rooney di Derby (90 ribu paun per pekan) terbilang tak realistis untuk ukuran klub Divisi Championship. Berdasarkan survei terakhir, rata-rata gaji pemain di Divisi Championship adalah 20 ribu paun.

Angka tak realistis dan kesan komersialisasi ini kemudian turut bikin eks Menteri Olahraga Inggris (2001-2007), Richard Caborn geram. Kepada The Telegraph, Caborn berharap Rooney lebih memikirkan keluarganya dengan tidak menghidupi mereka dari 'uang judi'.

"Ini bukan tindakan yang cerdas. Rooney telah memiliki keluarga dan anak, harusnya dia tahu kalau ini bukan langkah cerdas. Harusnya dia membantu perusahaan judi sadar bahwa mereka tak cocok ikut campur dengan otoritas olahraga atau pemerintah," tutur Caborn.

Caborn merupakan salah satu penggagas 2005 Gambling Act (PDF), sebuah akta yang digagas parlemen Inggris untuk menyelamatkan anak-anak dan berbagai bidang—termasuk olahraga—dari bahaya eksploitasi yang bisa dihadirkan perusahaan judi.

Terhadap sepakbola, Caborn mengaku cuma khawatir apabila keterlibatan perusahaan judi bisa bikin netralitas olahraga ini terganggu.

"Kehadiran perusahaan ini bisa melemahkan posisi mereka [klub-klub]," tandas Caborn.


Rooney dan Judi


Caborn boleh saja ceramah sampai mulutnya berbusa soal bahaya judi bagi profesionalitas olahraga, tapi bagi Rooney, imbauan itu tampaknya akan dianggap omong kosong belaka. Alasannya: Rooney merupakan seorang penggila judi.

Hobi ini digeluti Rooney sejak muda. Dalam buku autobiografinya yang berjudul Wayne Rooney: My Story So Far (2006), Rooney menceritakan dirinya pernah merugi 50 ribu paun karena judi, hanya beberapa saat setelah menerima gaji pertama sebagai pemain Everton.

"Sebenarnya aku cuma datang dan menaruh sedikit uang, tapi di banyak jenis taruhan. Mulai dari pacuan kuda, balapan anjing, sampai pertandingan sepakbola. Setahun kemudian aku baru sadar kalau saat itu aku merugi 50 ribu paun, itu sungguh hal bodoh," tulis Rooney.

Meski tahu tindakannya bodoh, Rooney nyatanya tak pernah bisa menghilangkan kebiasaannya itu.

Pada 2006, ia sempat ditegur FA. Musababnya si pemain memancing kegaduhan karena dikabarkan terlilit utang 700 ribu paun dalam sebuah 'judi rahasia' dengan para pemain di ruang ganti Timnas Inggris.

Menurut laporan The Independent, Si Bengal berjudi dengan beberapa pemain Inggris lain seperti Michael Owen, John Terry, Frank Lampard, dan Rio Ferdinand. Utang Rooney muncul setelah dia meminjam uang dari Stephen Smith, seorang pebisnis yang juga relasi Michael Owen.

Dua tahun kemudian, Rooney kembali memancing pemberitaan media-media lokal karena dikabarkan merugi 65 ribu paun hanya karena beberapa jam berada di sebuah rumah judi bermana 235 Casino, yang terletak di Manchester.

Dan percayalah, Rooney tak melulu kalah. Si Bengal beberapa kali memenangkan judi. Salah satunya pernah ketiban 'durian runtuh' sampai 51 ribu paun.

Kebiasaan berjudi itu sama sekali tidak hilang ketika Rooney sudah meninggalkan periode emasnya di Manchester dan pulang ke klub masa mudanya, Everton. Terakhir, pada Mei 2017, media-media Inggris ramai menyebut Rooney merugi sampai 500 ribu paun karena bermain roulet dan blackjack di sebuah rumah judi.

Akibat kerugian terakhir ini, seperti dikabarkan Metro, istri Rooney, Coleen sampai meminta si pemain mengakhiri pertemanannya dengan mantan pemain MU, West Brown. Coleen menilai kebiasaan judi Rooney muncul akibat pengaruh Brown yang sejak awal merupakan pejudi berat.

Namun, pada dasarnya bukan cuma Brown yang memperparah kebiasaan judi Rooney. Peribahasa buah tak jatuh jauh dari pohonnya barangkali terjadi dalam hobi judi Rooney. Ayah Rooney, juga pejudi kelas kakap.

Wayne Rooney Senior, nama ayahnya, bahkan sempat terlibat skandal dugaan penipuan judi. Pada 6 Oktober 2011 tepatnya, Wayne dan Richie, paman Rooney, diringkus polisi di kediaman mereka yang terletak di sebelah barat distrik Derby, Liverpool.

Seperti dilaporkan The Guardian, bersama dua orang lain, Wayne dan Richie diduga terlibat skandal penipuan dalam judi pertandingan sepakbola Liga Skotlandia antara Motherwell vs Hearts, tertanggal 14 Desember 2010. Total, kepolisian Inggris dan Skotlandia menangkap sembilan orang yang diduga menjadi dalang atas kasus ini, termasuk pemain Motherwell, Steve Jeanings yang diduga sengaja mencari kartu merah dalam pertandingan yang sama.

Pada akhirnya Wayne dan Richie tak terbukti bersalah dalam kasus ini. Menurut laporan BBC per April 2012, keduanya dibebaskan dari segala dakwaan. Kendatipun demikian, peristiwa itu bikin orang-orang paham bahwa hobi berjudi adalah hal wajar belaka bagi keluarga besar Rooney.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight