Menuju konten utama

Waspada 7 Tanda Preeklamsia pada Ibu Hamil & 3 Cara Mencegahnya

Tanda preeklamsia pada ibu hamil di antaranya muntah-muntah hingga sakit kepala parah.

Waspada 7 Tanda Preeklamsia pada Ibu Hamil & 3 Cara Mencegahnya
Ilustrasi tanda preeklamsia pada ibu hamil. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang biasanya ditandai dengan tekanan darah tinggi dan proteinuria.

Preeklamsia biasanya dapat terjadi pada ibu hamil saat kandungannya menginjak usia 20 minggu. Preeklamsia sendiri termasuk kondisi kesehatan yang serius dan harus segera diatasi.

Dikutip dari Mayo Clinic, preeklamsia bisa berujung pada komplikasi yang lebih fatal seperti berikut:

  1. Pertumbuhan janin terganggu karena plasenta tidak mendapat suplai darah berisi oksigen dan nutrisi.
  2. Kelahiran prematur.
  3. Solusio plasenta atau terlepasnya plasenta dari rahim sebelum kelahiran. Hal ini bisa menyebabkan pendarahan sekaligus mengancam keselamatan ibu dan janin.
  4. Eklamsia atau kondisi kejang yang bisa disertai koma.
  5. Kerusakan organ seperti ginjal, hati, paru-paru, jantung, hingga otak.
  6. Meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular
  7. Sindrom HELLP yang bisa merusak fungsi beberapa organ dan mengancam nyawa ibu hamil.

7 Tanda Preeklamsia pada Ibu Hamil

Menurut laman NHS, setidaknya ada tujuh gejala preeklamsia yang bisa terjadi pada ibu hamil:

1.Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan gejala khas preeklamsia. Namun, tidak semua kasus hipertensi pada ibu hamil akan berkembang menjadi preeklamsia.

Situs Ners Unair menyebutkan bahwa ibu hamil harus waspada dengan risiko preeklamsia apabila memiliki tekanan darah sebesar 140/90 mmHg atau lebih pada dua kali pemeriksaan dengan jarak waktu 4-6 jam.

2. Proteinuria

Proteinuria adalah kondisi ketika urine ibu hamil mengandung sejumlah protein. Secara normal, protein ditemukan dalam aliran darah. Jika protein terdeteksi di dalam urine, berarti telah terjadi kerusakan fungsi ginjal akibat adanya preeklamsia.

3. Sakit kepala parah

Sakit kepala parah kerap kali menjadi tanda bahwa ibu hamil mengalami gejala preeklamsia. Sehingga jika Anda, kerabat atau teman Anda sedang hamil dan mengalami sakit kepala hebat, maka tak ada salahnya untuk segera membawanya ke dokter atau rumah sakit terdekat.

4. Gangguan penglihatan

Gangguan penglihatan misalnya pandangan kabur atau seperti melihat kedipan lampu juga bisa menjadi salah satu tanda-tanda terjadinya preeklamsia.

5. Muntah-muntah

Muntah-muntah bisa menjadi tanda lain dari gejala preeklamsia. Muntah-muntah pada perempuan yang mengalami preeklamsia bisa terjadi lantaran sakit kepala hebat atau pusing yang tengah di alaminya.

6. Sakit tepat di bawah tulang rusuk atau area ulu hati

Gejala atau tanda lain dari preeklamsia adalah munculnya sakit di bagian bawah tulang rusuk atau area ulu hati.

7. Terjadi bengkak pada kaki, tangan, dan wajah secara tiba-tiba

Kaki, tangan hingga bagian wajah yang bengkak secara tiba-tiba adalah gejala atau tanda yang kerap muncul pada penderita preeklamsia. Sehingga jika hal tersebut terjadi maka segeralah pergi ke rumah sakit atau dokter agar mendapat penanganan dengan cepat.

Penyebab Preeklamsia pada Ibu Hamil

Preeklamsia diduga disebabkan oleh plasenta yang tidak berkembang secara normal. Plasenta sendiri adalah organ berupa lapisan yang berkembang di dalam rahim dan menghubungkan janin dengan ibunya. Darah dari sang ibu yang membawa suplai makanan dan oksigen akan melewati plasenta untuk disalurkan ke janin.

Pada kasus preeklamsia, plasenta tidak mendapat suplai darah yang cukup karena plasenta tidak terbentuk sempurna pada masa-masa awal kehamilan. Akibatnya, suplai darah untuk janin juga bisa terganggu.

Di sisi lain, plasenta yang rusak berpengaruh pada pembuluh darah ibu hamil dan memicu terjadinya hipertensi. Ginjal juga mulai mengalami masalah sehingga tidak mampu menyaring darah dengan baik.

Lantaran filter ginjal yang tidak berfungsi dengan benar, protein penting yang seharusnya tetap berada dalam darah justru ikut ke dalam urine dan menyebabkan proteinuria.

Preeklamsia sendiri bisa menyerang siapa saja, namun risikonya meningkat jika wanita hamil memiliki kondisi di bawah ini:

  1. Kehamilan pertama
  2. Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.
  3. Punya penyakit hipertensi, diabetes, lupus, dan penyakit ginjal.
  4. Hamil lagi setelah 10 tahun tidak hamil.
  5. Keluarga punya riwayat preeklamsia
  6. Hamil di usia lebih dari 40 tahun
  7. Obesitas
  8. Hamil anak kembar

Cara Mencegah Preeklamsia

Mencegah preeklamsia penting dilakukan demi kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya. Berikut beberapa cara mencegah preeklamsia seperti dilansir dari laman Ners Unair dan FKKMK UGM:

1. Pemeriksaan antenatal care (ANC) secara rutin

Ibu hamil wajib melakukan pemeriksaan ANC secara rutin selama kehamilan, baik di puskesmas, klinik, atau rumah sakit. Pemeriksaan ANC bertujuan untuk memantau perkembangan janin, meningkatkan sekaligus mempertahankan kesehatan ibu dan janin, serta mendeteksi adanya potensi gangguan kehamilan, termasuk preeklamsia.

Pemeriksaan kehamilan wajib dilakukan minimal empat kali selama hamil. Satu kali di trimester pertama, satu kali di trimester kedua, dan dua kali di trimester ketiga. Tentunya akan lebih baik lagi jika pemeriksaan kehamilan dilakukan lebih sering, misalnya sebulan sekali atau sesuai anjuran dokter.

2. Asupan makanan dan suplemen

Ibu hamil dianjurkan menjaga pola makan yang sehat dengan memperbanyak asupan makanan yang kaya antioksidan dan protein. Selain itu, ibu hamil juga bisa mengonsumsi suplemen kalsium. Namun, konsumsi obat maupun suplemen sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan.

3. Menjaga berat badan dan gula darah sejak sebelum hamil

Pencegahan preeklamsia bisa dilakukan sedini mungkin sejak merencanakan kehamilan. Ikuti gaya hidup sehat demi menjaga berat badan dan gula darah. Seperti yang diketahui, obesitas dan riwayat penyakit seperti diabetes bisa meningkatkan risiko preeklamsia.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Nur Hidayah Perwitasari