Wartawan Perang Rusia Pengkritik Pemerintah Ditembak di Ukraina

Oleh: Yuliana Ratnasari - 30 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Wartawan perang Arkady Babchenko dinilai telah sangat kritis terhadap pemerintah Rusia dalam beberapa tahun terakhir.
tirto.id - Seorang wartawan Rusia yang sangat kritis terhadap Kremlin ditembak dan dibunuh di ibu kota Ukraina pada Selasa (29/5/2018) waktu setempat. Polisi nasional menduga jurnalis itu menjadi sasaran pembunuhan terkait pekerjaannya.

Arkady Babchenko, seorang koresponden veteran perang Rusia, ditembak tiga kali di punggung saat dia meninggalkan apartemennya untuk membeli roti. Pembunuhan itu tampaknya ditargetkan sebab pria bersenjata itu diperkirakan telah menunggu di luar apartemennya sebelum beraksi.

Ia ditemukan berdarah oleh istrinya di gedung apartemen mereka di Kiev, demikian diungkapkan polisi Ukraina. Istrinya kemudian memanggil ambulans, tetapi Babchenko meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Versi pertama dan paling jelas adalah terkait kegiatan profesionalnya," kata Kepala Polisi Kiev Andriy Krishchenko, seperti dikutip Time.

Pembunuhan Babchenko dengan cepat menarik perhatian internasional. Harlem Desir, perwakilan kebebasan pers di Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa, mengatakan dia "terkejut" dengan kematian Babchenko.

"Saya meminta pihak berwenang Ukraina untuk melakukan penyelidikan langsung dan penuh," kata dia.


Sementara itu, pejabat Ukraina dan Rusia saling tuding dan melempar kesalahan kematian Babchenko.

Anton Gerashchenko, seorang anggota parlemen Ukraina mengatakan bahwa para penyelidik akan melihat pada upaya "agen mata-mata Rusia." Menurutnya, ada langkah untuk menyingkirkan mereka yang mencoba mengatakan kebenaran tentang kondisi yang sedang terjadi di Rusia dan Ukraina.

Di Moskow, pejabat dan anggota parlemen mengkritik pemerintah Ukraina karena dugaan kegagalan mereka melindungi wartawan.

Mikhail Fedotov, kepala Dewan Hak Asasi Manusia Kremlin, mengatakan pembunuhan Babchenko adalah "provokasi yang jelas."

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa aksi itu adalah "kejahatan berdarah dan impunitas total yang menjadi rutinitas" di Ukraina.

Sebelumnya, jurnalis terkenal lainnya, Pavel Sheremet yang pernah bekerja untuk media Rusia di masa lalu, tewas dalam pemboman mobil di Kiev pada Juli 2016. Kasus ini tetap tidak terpecahkan. Beberapa wartawan mengklaim bahwa badan intelijen kuat Ukraina berusaha untuk menahan penyelidikan.


Seperti dilansir The Guardian, Babchenko dinilai telah sangat kritis terhadap pemerintah Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Dia mengkritik pencaplokan Vladimir Putin atas Krimea dan dukungannya bagi separatis dari Ukraina tenggara.

Ia kemudian memutuskan meninggalkan Rusia pada Februari 2017 karena menerima ancaman dan khawatir akan dipenjara. Babchenko menulis bahwa Rusia adalah "negara yang saya tidak lagi merasa aman."

Dia pindah ke Republik Ceko dan kemudian ke Israel. Sejak musim gugur lalu, Babchenko menetap di Kiev di mana dia bekerja sebagai penyiar ATR di stasiun TV Krimea.

Babchenko pernah bertugas di militer Rusia dan bertempur selama perang separatis pertama di Chechnya selama tahun 1990-an. Dia kemudian menjadi seorang wartawan dan bekerja sebagai koresponden militer untuk beberapa media Rusia. Dia juga menerbitkan beberapa buku berdasarkan pengalaman masa perangnya.

Beberapa artikel dan tulisan Babchenko telah membuat marah banyak orang Rusia. Dia pernah menyatakan tidak merasa menyesal tentang kematian anggota paduan suara tentara Rusia dalam kecelakaan pesawat Desember 2016. Beberapa anggota parlemen Rusia bahkan menyerukan untuk menghapus Babchenko dari kewarganegaraannya atas komentar tersebut.

Hanya beberapa jam sebelum dia ditembak, Babchenko menulis di Facebook bahwa dia berhasil lolos dari kematian empat tahun. Ini terjadi ketika militer Ukraina menolak untuk membawanya ke sebuah helikopter menuju garis depan di timur Ukraina. Pesawat itu lantas ditembak jatuh beberapa menit kemudian.

"Saya beruntung, ini adalah ulang tahun kedua saya," tulisnya pada Selasa.


Baca juga artikel terkait RUSIA atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Politik)


Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari