Warga Urban Kesepian Akut, Jasa Sewa Keluarga Laris di Jepang

Seorang wanita berjalan di tengah hujan dengan latar belakang gambar pemandangan sketsa kota yang menyembunyikan sebuah situs konstruksi di Tokyo, Jumat, 15 Juni 2018. AP Photo/Shuji Kajiyama
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 26 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Materialisme, tekanan keluarga, dan keengganan menikah atau punya anak turut mendorong tumbuhnya bisnis unik ini.
Lampu-lampu rumah yang telah menyala, makan malam siap di atas meja, istri dan anak yang menyambut pulang kerja dengan kalimat “selamat datang". Impian Kazudhige Nishida terwujud kembali.

Semuanya berkat Family Romance. Perusahaan ini menyewakan aktris dewasa untuk menggantikan istrinya yang telah meninggal, juga aktris cilik untuk menukar sosok anak perempuannya yang di usia 22 pergi dari rumah usai sebuah pertengkaran hebat.

Nishida membeberkan kisahnya kepada Elif Batuman, yang pada akhir April kemarin terbit sebagai laporan panjang nan bernas di New Yorker. Selain memesan yang mirip secara fisik, Nishida juga meminta agar kedua aktris menduplikasi perilaku dan gaya bicara mantan istri dan anaknya.


Pegawai kantoran itu mengaku bahagia lagi. Dulu Nishida mengira dirinya akan kuat menahan tragedi yang menyangkut dua perempuan yang paling ia cintai di dunia. Tapi ia keliru. Duit yang ia habiskan untuk menenggak alkohol plus obrolan bersama para pelayan perempuan juga bukan solusi terbaik.

Bersama istri-anak pengganti, hatinya nyaman kembali, meski barang sebentar saja. Namanya juga menyewa: ada masa habisnya. Barangkali ia juga dicap tetangga sebagai pencari kebahagiaan palsu. Tapi Nishida merasa jasa Family Romance telah cukup untuk mengusir derita kesendiriannya.

Sepi Membunuhmu

Kesepian adalah musuh nomor satu masyarakat Jepang modern, terutama mereka yang tinggal di kawasan perkotaan.

Saking kronisnya, muncul fenomena kodokushi atau meninggalnya seseorang tanpa diketahui siapapun, selama berhari-hari atau berbulan-bulan. Korban tinggal sendiri, dan meninggal pun dalam sepi.

Independent pernah melaporkan bahwa terjadi peningkatan tajam korban kodokushi selama satu dekade terakhir. Think-tank asal Tokyo, NLI Research Institute, memperkirakan jumlah korbannya sebanyak 30.000 orang per tahun.

Berdasarkan laporan Reuters, satu dari empat orang Jepang yang mengalami kodokushi berumur di atas 65—usia yang kini sedang dijajaki Nishida. Sebanyak 80 persen korbannya adalah laki-laki.


Selain kaum tua, korban dari generasi muda di usia 20-an dan 30-an tahun juga cukup banyak, demikian menurut data yang pernah dilansir Japan Today.

Biro Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Masyarakat pemerintah Tokyo mencatat sebanyak 238 orang berumur kepala dua dan tiga ditemukan meninggal sendirian di 23 wilayah sepanjang 2015.

Selama tiga tahun terakhir, jumlah kodokushi di kalangan anak muda Jepang tergolong masih naik-turun. Rata-ratanya bertengger di angka 250 kasus.

Paling Mahal Memerankan Ortu

Dalam situasi yang demikian, bisnis sewa aktor/aktris sebagai anggota keluarga, juga teman atau rekan kerja, laris manis.

Family Romance hanya satu dari belasan biro yang menawarkan jasa serupa dan kini tersebar di seantero Jepang. Mereka akan menemani klien dalam berbagai kepentingan, situasi, acara resmi, termasuk tinggal di rumah seperti pengalaman Nishida.

Kembali mengutip Batuman, suami dan istri temporer dikekang peraturan yang tegas. Mereka tidak boleh berduaan di satu ruangan yang sama. Paling intim hanya pegangan tangan. Pelukan, apalagi ciuman atau aksi lain yang berlanjut pada hubungan seksual, haram hukumnya.


Aktor/aktris harus mampu mengontrolnya, terutama yang laki-laki, sebab kadang klien terlalu terbawa perasaan sampai menyatakan ingin dilamar. Beberapa biro membatasi agar seorang aktor/aktris hanya bekerja melayani maksimal lima klien dalam satu waktu. Tujuannya agar tetap profesional.

Pemilik biro Heart Project, Ryuchi Ichinokawa, berkata pada Bloomberg Businessweek bahwa biaya sewa orang tua biasanya dipatok paling mahal di antara peran lain, yakni sekitar Rp4 juta-an/orang.

Mengasuh anak memang perlu kemampuan khusus dan kesabaran ekstra. Risikonya turut jadi yang terbesar. Banyak kasus di mana si anak tumbuh besar dengan mengira ayah sewaan sebagai ayah kandungnya.

Si ibu tak tega memberi tahu fakta sesungguhnya. Jadi, si ayah palsu ada yang harus menghadiri pernikahan si anak di kala dewasa, juga di momen-momen penting lain.


Kisah ini terjadi antara lain kepada Yuichi, salah seorang aktor Family Romance. Dalam wawancara bersama Roc Morin dari Atlantic, Yuichi mengungkapkan ia pernah memerankan ayah bagi anak usia 12.

Ibu si anak, seorang single mother, meminta jasa Family Romance sebab ketiadaan sosok ayah membuat si anak sering dirisak di sekolah. Kehadiran Yuichi mengatasi persoalan tersebut. Ia mampu memerankan sosok ayah yang baik, sesuai permintaan si ibu.

Saking baiknya, Yuichi diminta menjalankan peran tersebut selama delapan tahun. Mulai dari si anak masih ingusan hingga lulus sekolah menengah atas. Sekali lagi, sebab ibunya memilih diam. Ia memilih kebahagiaan anak, meski dibungkus kebohongan besar.

Jasa Multifungsi

Para aktor/aktris ini harus menuruti kemauan klien asal bukan perbuatan kriminal. Beberapa aktor/aktris yang diwawancara Batuman pernah menemani klien ke seminar spiritual, pernikahan, ajang pencarian kerja, kontes komedi stand-up, hingga peluncuran album grup idola.

Di luar peran sebagai anggota keluarga, para biro memang membuka jasa “teman” dalam arti yang seluas-luasnya. Jasanya begitu multifungsi, sampai-sampai memunculkan banyak cerita menarik.

Salah satu yang paling populer adalah menyewa satu atau beberapa orang sekaligus untuk menjadi teman atau anggota keluarga palsu di hari pernikahan klien. Kembali mengutip Yuichi, biaya jasa ini sekitar Rp2 juta-an/orang.


Uniknya, ada biaya tambahan Rp1 juta-an untuk aktor/aktris yang mampu pidato yang menyentuh hati para tamu undangan. Ada juga kompensasi sebesar Rp650 ribu-an untuk pasangan sewaan yang bisa menyanyi dan/atau menari.

Menurut laporan Reuters, fenomena ini muncul karena pernikahan di Jepang dianggap sebagai acara yang mesti diramaikan banyak pihak. Perkembangan bisnis sewa teman/keluarga di Jepang amat dipengaruhi oleh tekanan sosial.

Tekanan lain berasal dari keluarga. Biasanya dialami oleh orang yang memilih hidup sendiri tapi orang tuanya terobsesi dengan pernikahan, atau minimal pacaran, atau status apa saja asal dalam hubungan yang stabil. Lebih sempurna lagi, mau kasih cucu.


Klien jenis ini akan menyewa seorang aktor atau aktris yang dikenalkan sebagai pacar. Tak lama kemudian ia berkata pada orang tua bahwa dirinya dan si pacar (sewaan) sudah putus. Dalam situasi yang pelik, kadang kebohongan diteruskan hingga pernikahan palsu. Klien pun harus mengarang cerita mengapa ia akhirnya bercerai.

Tekanan sosial lain bernuansa amat kiwari: keinginan terlihat punya lingkaran pertemanan yang sehat di media sosial.

Aktor/aktris, kadang lebih dari satu, disewa dengan biaya Rp1 juta-an/orang/jam untuk diajak jalan-jalan. Foto atau video dokumentasi mereka unggah ke media sosial agar klien seakan-akan punya kehidupan sosial yang membahagiakan.



Evolusi Menuju Individualisme

Batuman mencatat ideologi nasionalis yang mengakar di era Meiji merepresentasikan Jepang sebagai satu keluarga besar. Kaisar dianggap kepala rumah utama dan setiap rumah tangga lainnya adalah cabangnya.

"'Familisme' jadi pusat identitas nasional, dan dikontraskan dengan individualisme yang egois ala Barat,” imbuhnya.

Usai Perang Dunia II, konstitusi baru dibuat oleh Sekutu. Rupanya aturan struktural ini memengaruhi Jepang secara kultural. Pernikahan paksa dilarang. Pasangan laki-perempuan dibikin setara di depan hukum. Properti keluarga dibagi rata ke seluruh anak tanpa memandang jenis kelamin atau urutan kelahiran.

Jepang berevolusi menjadi makin kebarat-baratan. Pertumbuhan ekonomi nasional yang mengagumkan makin menyukseskan proses tersebut.


Lama-kelamaan, tempat tinggal orang-orang tambah terkonsentrasi di perkotaan. Gaya hidup urban diadopsi, warganya makin tidak berminat menikah. Anak, yang dulu dianggap sebagai pelengkap hidup yang berharga, kian dinilai sebagai beban. Apalagi, bekerja seharian sudah amat menyita waktu.

Perempuan yang bekerja sebagai pegawai meningkat. Angka kelahiran turun, angka perceraian naik. Populasi warga yang tinggal sendirian makin melimpah. AFP pernah melaporkan jumlah rumah tangga dengan penghuni tunggal bertambah dua kali lipat menjadi 14,5 persen dari total penduduk dalam tiga dekade terakhir.


Penduduk Jepang makin materialistis sekaligus individualistis. Kantong warga Jepang memang makin tebal, melahirkan gelombang kelas menengah yang mapan secara finansial.

Tapi, di sisi lain, mereka malah kesusahan memenuhi kebutuhan akan kasih sayang dari manusia lain. Saat hidup menyendiri mereka pilih atau terpaksa melakoninya, kesepian akut makin mudah menjangkiti.

Puncak situasi yang demikian terjadi pada era 1980-an, sehingga bisnis penyewaan teman/keluarga pertama kali muncul pada awal 1990-an.

Masyarakat Jepang makin melazimkan praktik membeli kebahagiaan dengan uang, berwujud teman atau keluarga. Fenomena yang dianggap aneh, atau bahkan menyedihkan, bagi masyarakat di negara lain.

Baca juga artikel terkait URBANISASI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight