Wall Street Sepekan: Heboh GameStop yang Menjatuhkan Indeks Saham

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 1 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Gejolak pada saham GameStop memicu volatilitas di Wall Street. Indeks saham utama jatuh ke titik terendahnya.
tirto.id - Pekan terakhir Januari 2021 diwarnai oleh laporan keuangan yang baik dari Apple Inc, Microsoft Corp, dan beberapa perusahaan besar lain. Ini seharusnya menjadi sentimen positif yang mendorong kenaikan indeks saham. Namun, hal itu tak terjadi. Indeks utama di Wall Street anjlok tajam.

Pada perdagangan Jumat (29/1), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok hingga 620,74 poin (2%) ke level 29.982,62. Untuk pertama kalinya sejak Desember 2014 Dow Jones anjlok di bawah 30.000. Sementara indeks S&P 500 anjlok 1,9% ke level 3.714,24 dan Nasdaq melorot 2% ke level 13.070,69.

Seluruh indeks utama itu tercatat turun 3% selama pekan lalu--merupakan yang terburuk sejak Oktober, menurut CNBC. Total selama Januari, Doe Jones turun 2%, S&P 500 turun 1,1%, tetapi Nasdaq naik 1,4%.

Saham Apple Inc yang baru saja mengumumkan kenaikan pendapatan justru turun hingga 3,7%. Demikian pula Microsoft yang mencatat kenaikan kinerja, turun 2,92%.

Perdagangan saham di bursa paling berpengaruh di dunia itu berjalan sangat bergejolak selama sepekan. Volatilitas yang tinggi memicu kenaikan volume perdagangan yang sangat tinggi, hingga mencapai 20 miliar lembar saham untuk setiap dua sesi terakhir.

Menurut catatan Refinitiv seperti dilansir Reuters, ini merupakan hari perdagangan paling aktif sejak 2014. Pada Jumat, volume perdagangan di seluruh pasar saham AS mencapai 17,13 miliar lembar saham, dibandingkan rata-rata untuk seluruh sesi dalam 20 hari terakhir perdagangan yang mencapai 15,26 miliar lembar saham.


“Ini adalah pekan yang paling sibuk untuk laporan keuangan, dengan 82% perusahaan melaporkan pendapatan yang lebih baik dari ekspektasi. Ini adalah kuartal yang benar-benar bagus, tapi jelas tertutupi oleh berita seputar ‘short squeeze’ [GameStop],” jelas Leo Grohowski, chief investment officer BNY Mellon Wealth Management, seperti dilansir CNBC.

Dipicu Saham GameStop

Volatilitas di Wall Street terutama dipicu oleh gejolak saham GameStop. Saham GameStop melonjak tajam dengan kenaikan mencapai 400% dalam sepekan. Secara total, selama Januari, harga saham GameStop sudah melonjak hingga 1.600%. Harga tertingginya dicapai pada 27 Januari di level $347,51.

GameStop merupakan salah satu perusahaan retail video game. Ia menjadi salah satu saham yang diburu investor retail untuk menandingi short selling yang dilakukan hedge fund besar. Para investor retail kompak membeli saham dan call option GameStop sehingga harganya terus melonjak naik.


Para investor itu berdiskusi dalam forum “WallStreetBets” di Reddit. Mereka melawan para hedge fund besar yang bertaruh harga saham GameStop akan turun.

Aksi para investor retail itu berhasil. Harga saham melonjak sehingga hedge fund menderita kerugian besar. Menurut data S3 Partners seperti dilansir dari CNBC, para hedge fund yang melakukan short selling atas GameStop mengalami kerugian “mark-to-market” sebesar $19,75 miliar secara year to date.

Aksi para investor retail terhadap saham GameStop itu menjungkirbalikkan Wall Street sepanjang pekan ini. Pada Rabu (27/1), indeks Dow Jones turun 633,87 poin (2,05%) ke level 30.303,17. Nasdaq turun 355,47 poin (2,61%) ke level 13.270,6 dan S&P 500 merosot 98,85 poin (2,57%) ke level 3.750,77.

Akibat kalah bertaruh di saham GameStop, para hedge fund itu harus menjual sahamnya yang berada pada “long position” untuk membayar kerugian akibat “shorting” saham GameStop. Hal itu menjadi salah satu pemicu anjloknya indeks utama di Wall Street hingga 2%.

Reuters melaporkan, kekisruhan pasar akibat GameStop tersebut ikut menarik perhatian Gedung Putih. Sekretaris Pers Jen Psaki mengatakan tim ekonomi Presiden Joe Biden–termasuk menteri keuangan Janet Yellen yang baru satu hari bekerja–langsung memantau situasi.

Saham GameStop baru melemah setelah Robinhood, sebuah aplikasi perdagangan yang banyak digunakan investor retail, mengumumkan pembatasan perdagangan pada Kamis (28/1). “Kami bertanggung jawab untuk patuh dengan mereka [investor dan pasar] secara serius, termasuk melalui kebijakan-kebijakan yang kita ambil hari ini,” jelas Robinhood.


Saham GameStop memang akhirnya turun 44% menjadi $193,60. Namun, pembatasan itu juga memicu kemarahan para investor retail. Kamis malam, Robinhood mengumumkan akan memulihkan perdagangan. Saham GameStop pun kembali melonjak pada praperdagangan. Pada perdagangan Jumat (29/1), saham GameStop kembali melonjak hingga 68%.

Volatilitas perdagangan jelas mengkhawatirkan pada pelaku pasar. Ini karena fakta-data fundamental terkait perusahaan yang biasanya menjadi penggerak, tak lagi diperhatikan. Jika tidak diawasi dengan baik, dikhawatirkan memicu gelembung yang jika pecah akan membahayakan pasar secara keseluruhan.

Senator Elizabeth Warren dari Demokrat mengatakan,kekacauan perdagangan terjadi karena kurangnya pemantauan dari Securities and Exchange Committee (SEC). “Kita memerlukan sebuah SEC yang memiliki aturan jelas tentang manipulasi pasar dan kemudian memiliki kekuatan untuk menerapkan dan menegakkan aturan-aturan ini,” katanya, seperti dilansir CNBC.

SEC dalam pernyataannya mengatakan sedang memantau secara seksama dan mengevaluasi volatilitas harga yang ekstrem yang terjadi pada sejumlah saham dalam beberapa hari terakhir. SEC berjanji akan tetap melindungi para investor sekaligus menjaga pasar berjalan dengan fair dan efisien.

Baca juga artikel terkait GAMESTOP atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight