Wajah "Buruk" Presiden Indonesia di Sampul Muka Media Massa

Infografik Majalah Muka Presiden
Presiden RI ke-2, Soeharto. FOTO/Nationaal Archief
Oleh: Petrik Matanasi - 19 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kritikan Tempo terhadap presiden lewat sampul muka telah ada presedennya.
tirto.id - Wajah Jokowi dengan bayangan hidung panjang seperti Pinokio tampil pada sampul muka majalah Tempo edisi 16-22 September 2019. Di samping gambar tersebut terdapat tulisan "Janji Tinggal Janji".

Kelompok yang mengatasnamakan Jokowi Mania mempermasalahkan gambar sampul tersebut. Mereka menuding gambar Pinokio itu adalah penghinaan terhadap Presiden Republik Indonesia sebagai simbol negara. Mereka kemudian mengajukan sejumlah tuntutan.

"Tuntutan kami cuma minta Tempo untuk menarik edisi majalah ini. Kedua, kami minta klarifikasi Tempo itu sendiri. Dan ketiga, minta maaf itu penting," ucap Imannuel Ebenezer, Ketua Umum Jokowi Mania.

Bagi mereka, Tempo seolah menunjukkan bahwa Jokowi tak berpihak pada pemberantasan korupsi dan ingin melemahkan KPK. Selain itu, sampul muka majalah Tempo juga dinilai tidak etis dan tidak mendidik.

"Kami enggak mempersoalkan soal simbol negara. Enggak. Kami membicarakan soal gambar ini menurut saya enggak mendidik. Kalau memang Tempo enggak setuju revisi [UU KPK], buat saja gambar yang baik ya. Berikan pendidikan hukum yang baik kepada masyarakat” ujar Reinhard Taki, kuasa hukum Jokowi Mania.

Ia menambahkan, sampul muka Tempo sudah tidak independen dan tidak berpihak pada jurnalisme.

Setri Yasra, redaktur eksekutif majalah Tempo, membantah tuduhan tersebut.

"Tempo tidak pernah menghina kepala negara sebagaimana dituduhkan. Tempo tidak menggambarkan Presiden sebagai pinokio. Yang tergambar adalah bayangan Pinokio," ujarnya seperti dilansir Tempo.

Selain Tempo, sampul utama surat kabar Radar Sampit edisi 16 September 2019 juga dinilai menghina presiden. Gambar pada sampul tersebut adalah Jokowi yang memakai masker anti asap di mata, alih-alih di hidung.

Gunawan selaku pemimpin redaksi Radar Sampit mengungkapkan, gambar yang tampil pada sampul utama surat kabar tersebut merupakan wujud dari aspirasi masyarakat. Menurutnya, sebelum ilustrasi itu terbit, koran yang dipimpinnya melakukan pemantauan terhadap kondisi masyarakat termasuk pelbagai komentar di media sosial.

"Jadi pasang masker itu artinya pemerintah masih tutup mata dengan Kalteng, itu intinya," ucapnya sebagaimana dilansir Suara.


D&R Menyenggol Soeharto

Kritikan tajam sejumlah media massa di Indonesia kiwari terhadap presiden ada presedennya. Pada 7 Maret 1998, ketika krisis moneter melanda Indonesia, majalah D&R terbit dengan sampul muka bergambar Soeharto dengan aksesoris ala king dalam kartu remi. Huruf K untuk "King" diganti dengan huruf P.

Letnan Jenderal (Kavaleri) Raden Hartono yang belum lama menjadi Menteri Penerangan berang. Ia tak terima pimpinannya “dipermainkan” dalam sampul D&R.

“Presiden Indonesia bukan raja. Pak Harto menjadi presiden karena dipilih oleh anggota majelis yang merupakan kedaulatan rakyat dan melalui proses legislatif,” kata Hartono yang dikenal dekat dengan keluarga besar daripada Soeharto.

Menurut Satrio Arismunandar dalam artikel bertajuk "Dinamika Pers Indonesia di Era Reformasi", yang dihimpun dalam Pers dalam Revolusi Mei: Runtuhnya Sebuah Hegemoni (2000:211), sampul muka bergambar Soeharto tersebut membuat majalah D&R dituduh menghina kepala negara. Akibatnya, pemimpin redaksi dan redaktur pelaksana majalah tersebut diperiksa polisi. Selain itu, mereka juga diskors oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Meski demikian, D&R tidak dibredel oleh menteri penerangan. Majalah tersebut akhirnya benar-benar bisa bernapas lega setelah presiden daripada Soeharto lengser pada Mei 1998.

Sebagai catatan, D&R semula bernama Detektif dan Romantika yang didirikan oleh Sjamsudin Lubis. Seperti dicatat Agung Dwi Hartanto dalam Seabad Pers Kebangsaan (2008:875), majalah ini mula-mula terbit pada 9 September 1968 yang isinya berupa berita-berita kriminal.

Namun setelah majalah Tempo dibredel pada 1994, Detektif dan Romantika diambilalih oleh PT Grafiti Pers untuk menampung mantan awak Tempo dan namanya menjadi D&R. Isinya tak lagi mengabarkan warta kriminal, melainkan soal politik.

Setelah Soeharto lengser, D&R semakin berani menyikat orang-orang Orde Baru, termasuk Harmoko. Mantan menteri penerangan itu kerap disebut sebagai Hari-hari Omong Kosong.



Rakyat Merdeka dan Mega

Tak hanya kritikan secara visual, presiden Indonesia pun pernah dicecar secara tertulis. Harian Rakyat Merdeka beberapa kali menyerang Megawati dengan judul-judul berita yang pedas seperti "Mulut Mega Bau Solar", "Mega Lebih Kejam dari Sumanto", "Mega Lintah Darat", " dan "Mega Sekelas Bupati".

Pelbagai judul berita itu mengakibatkan Supratman selaku redaktur eksekutif Rakyat Merdeka diseret ke pengadilan, dan divonis enam bulan penjara dengan masa percobaan 12 bulan.

Hakim Ketua Zoeber Djajadi sebagaimana dikutip Tempo mengatakan bahwa orang-orang waras akan tersinggung dengan sejumlah judul berita Rakyat Merdeka tersebut. Hal senada diungkapkan oleh Rudi Satrio, saksi ahli yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum.

"Kalimat dalam harian Rakyat Merdeka merupakan suatu penghinaan formal, tidak etis, dan kasar," ungkap Rudi seperti dilansir Tempo.

Baca juga artikel terkait MAJALAH TEMPO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight