Wajah Acara TV: Ramai-Ramai Menayangkan Konten Dakwah Islami

Oleh: Aulia Adam - 6 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Rating program dakwah didominasi konten Islam, pangsa pasar yang besar di Indonesia.
tirto.id - Jika Ramadan datang, Muhammad Agung Izzulhaq bakal jarang di kantor. Ia biasa bersafari dari masjid ke masjid di daerah Jakarta dan sekitarnya. Bukan cuma untuk wisata rohani, tapi juga tuntutan pekerjaan. Ia sudah sembilan tahun membawahi program "Damai Indonesiaku" di tvOne.

Tak cuma jadi produser pelaksana, wajah Agung familier bagai penonton loyal acara itu karena ia juga sebagai pembawa program rohani Islam tersebut.

Tayang reguler dua jam, dua kali dalam seminggu, "Damai Indonesiaku" adalah program rohani andalan tvOne. Ia tak mungkin bertahan hampir satu dekade bila mendapat rating jelek. “Di luar Ramadan, bisa sampai satu koma ke atas,” kata Agung. “Kalau yang mengerti rating, pasti paham kalau mencapai angka satu itu sudah prestasi sekali.”

Ia bangga karena dalam rentang waktu tersebut, format acara yang ia pegang tak pernah berubah. Para ustaz diundang berdakwah di depan khalayak untuk membahas satu tema khusus. Masjidnya pindah-pindah; ustaz bergonta-ganti. Format ini dipertahankan karena terbukti mampu menjaga loyalitas para penonton—salah satu faktor utama penyangga rating.


“Program bagus related ke jualan,” kata Agung tentang pengaruh rating terhadap pemasukan iklan mereka, meski ia enggan merinci angkanya.

Hal itu pula yang akhirnya membuat tvOne tetap mempertahankan "Damai Indonesiaku" sebagai tayangan reguler. Bahkan, dari amatan Tirto, acara ini mendapat proporsi penayangan cukup besar: mencapai 8,33 persen per 24 jam jadwal siaran di luar Ramadan atau sebesar 120 menit per hari. Sedangkan saat Ramadan bisa sampai 10,42 persen. Angka ini proporsi siaran religi terbesar dalam sehari di antara semua stasiun televisi swasta di Indonesia.

Lengkap sudah portofolio "Damai Indonesiaku" sebagai program televisi: rating bagus, iklan laris, dan berumur panjang. Ia juga salah satu acara dakwah yang eksis dengan durasi paling lama. Namun, saat Ramadan begini, kue rating dan iklan tersebut, diakui Agung terbagi-bagi dengan program religi lain yang mendadak rimbun bak cendawan di musim hujan.


Konten Islami bisa kita temukan sejak sahur hingga ketemu sahur lagi. Tak cuma "Damai Indonesiaku" yang jam tayangnya diperbanyak saat Ramadan. Sejumlah televisi mempertahankan tayangan dakwah reguler untuk dikemas dalam format Ramadan.

Di SCTV, misalnya, format program dakwah reguler "Semesta Bertasbih" disalin dan ditayangkan dengan nama "Gema Ramadan". Ada juga "Islam Itu Indah" di Trans TV, "Semesta Bertilawah" di MNCTV, siaran langsung "Mamah & AA Beraksi" di Indosiar, dan "Syiar Syair Ramadan" di Kompas TV.

Sebagian besar televisi memang membuat banyak program khusus Ramadan. Misalnya, program khusus 30 menit "Ramadan Kita" di MetroTV; "Mutiara Hati Quraish Shihab", program ceramah singkat yang tayang hingga tiga kali sehari di SCTV; "Sahabat Nabi" di NET, atau "Tausiyah Ramadhan" di Trans TV.

Itu belum termasuk segmen-segmen khusus Ramadan yang diselipkan dalam acara reguler lain. Misalnya, ada selipan konten terkait Ramadan dalam "Lintas", program berita reguler MNCTV. Persis sama dengan televisi berita Kompas TV, yang punya segmen khusus "Kilau Ramadhan" pada jam-jam tertentu.

Tak cuma segmen-segmen selipan khas Ramadan, MNCTV misalnya menambahkan konten religi dalam program-program non-religi. “Kalau Ramadan, konten religi itu bisa sampai 70 sampai 85 persen setiap hari,” kata Saifullah Abubakar, produser berita MNCTV. “Sementara program khusus dakwah cuma 20 persen banding 85 persen dari acara lain.”

Konten Dakwah Memanfaatkan Momentum

Kenaikan jumlah konten religi itu umum dilakukan televisi. Alasannya, Ramadan memang jadi musim acara religi—khususnya lagi acara rohani Islam—menjamur di televisi. Namun, bagaimana di luar Ramadan? Benarkah program rohani makin tinggi permintaannya?

Dari amatan Tirto, jumlah program rohani terutama acara-acara dakwah memang tak tumbuh besar. Tak semua stasiun televisi punya tayangan dakwah reguler di luar Ramadan. TvOne, misalnya, cuma punya satu acara dakwah reguler.

"Damai Indonesiaku" diakui Agung memang dari biaya produksinya tidak mahal dan punya profit baik, tetapi bukan berarti tvOne memakai resep sama dan memunculkan acara serupa demi mengejar profit.

“TvOne tetap fokus pada jalurnya sebagai televisi berita,” tambah Agung.

Namun Agung tak menampik bahwa konten dan segmen selipan bisa saja dimasukkan dalam tayangan non-dakwah. “Biasanya tergantung momen, sih,” ujarnya. “Kalau Ramadan, ya biasa konten-konten religi memang diperbanyak.”

Hal senada disampaikan Endah Wulandari, Produser "Gema Ramadhan" di SCTV. Selain menyediakan program-program Ramadan, mereka menyebar konten Ramadan di acara lain.

Di luar Ramadan, stasiun televisi di bawah Grup Emtek milik Sariaatmadja itu masih mengunggulkan program sinetron, yang terbukti jadi penghuni puncak rating televisi di Indonesia. Meski begitu, secara kasatmata konten religi tampak terselip dalam sinetron-sinetron mereka. Tapi, sebagai televisi hiburan, SCTV punya program dakwah reguler yang jumlahnya mengalahkan tvOne. Meski relatif lebih baru, setidaknya SCTV punya "Mata Air" (tayang setiap hari), "Kata Ustadz Solmed" (KUS), "Indahnya Kebersamaan" (tayang mingguan), dan "Semesta Bertasbih" (tayang bulanan).


KUS, yang memakai Abdul Somad—mungkin ustaz paling populer saat ini—bahkan pernah bikin Endah bangga karena, “kita pernah menyentuh share sampai 31. Sekarang cari 15 persen aja kalau bahasa Jawanya, sampai ngeden. Kami dapat reguler kalau dirata-ratakan 18 persen."

Angka rating tinggi tentu tak bisa dielakkan dari jumlah penonton. Menurut Endah, memang ada kenaikan jumlah penonton yang menyukai acara-acara dakwah dan sejenisnya. Namun, Endah lebih sepakat kalau momentum jauh lebih berpengaruh pada rating tersebut.

“Rating share tinggi itu tergantung momen juga. Kaitannya dengan tema (yang kami bikin). Contohnya, pas ada bencana alam, kami membahas tentang bencana alam. Atau saat butuh bicara tentang kerukunan antarumat, atau jihad yang sebenarnya seperti apa ketika heboh kasus terorisme. Itu yang bikin share tinggi,” ungkap Endah.

Saifulllah Abubakar, produser berita MNCTVsalah satu televisi milik mogul media Hary Tanoesoedibjo—juga berujar senada. Menurutnya, momentum berpengaruh besar pada jenis konten tayangan. Misalnya, ketika ada gerakan politik berbalut agama bernama "Aksi 212" di panggung Pilkada Jakarta tahun lalu, Saiful mengaku MNCTV memang menyediakan konten khusus momentum tersebut.


Infografik HL Indepth Dai Seleb

Dari Tayangan Subuh Menjadi Reguler

Memanfaatkan momentum memang sebuah teknik ruang redaksi maupun ruang produksi, dan hal macam ini dipakai pula untuk acara-acara dakwah di televisi untuk tetap bertahan eksis. Ini tak terlepas dari evolusi acara dakwah yang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir.

Ketika "Hikmah Fajar", salah satu acara rohani tertua di Indonesia hadir pada Februari 1994, konsep acara dakwah masih gelar wicara alias talkshow antara pemandu acara yang tanya jawab dengan sang ustaz.

Program di RCTI itu juga tayang pada subuh, yang kemudian menciptakan tren untuk diikuti televisi swasta lain yang saat itu masih sedikit: "Kuliah Subuh" (TPI, sekarang MNCTV), "Ambang Fajar" (SCTV), "Mutiara Subuh" (ANTV), dan "Fajar Imani" (Indosiar).

“Awalnya yang konvensional, ada host-ustaz kemudian ngobrol berdua. Lalu, berkembang ada sarasehan, kemudian berkembang ada musik islami. Lalu masuk musik-musik pop yang bernuansa islami, yang menggantikan musik gambus. Berkembang jadi variety show. Dan itu juga dikondisikan sesuai kebutuhan penayangan program,” cerita Endah Wulandari dari SCTV.

Perkembangan itu seiring tumbuhnya pangsa pasar penonton acara dakwah, terutama melihat ada lebih dari 80 persen jumlah penduduk muslim di Indonesia. Meski tak ada data yang bisa diakses publik, yang bisa menggambarkan jumlah penonton acara-acara dakwa ini, rating "Damai Indonesiaku" (tvOne) dan "KUS" (SCTV) yang tinggi bisa dijadikan tolok ukur mengenai meningkatnya atensi penonton televisi pada acara serupa.


Meski proporsi jumlah tayangan dakwah di televisi memang tidak tinggi di luar Ramadan, sebagaimana jumlah tayangan lain seperti berita ataupun sinetron, tapi gambaran timpang representasi agama lain cukup kelihatan di televisi.

Misalnya, hanya ada beberapa televisi yang punya program dakwah reguler dari agama selain Islam. Seperti Indosiar dengan "Penyejuk Imani" (Katolik) dan "Mukjizat Masih Ada" (Katolik), serta RTV dengan "Cermin Hati" (Kristen).

Alasannya jelas karena pangsa pasar. Kebanyakan televisi cuma menayangkan acara agama lain di hari-hari raya. Saifullah Abubakar dari MNCTV berkata bahwa acara agama lain memang tidak tayang reguler. Namun, MNCTV selalu mencoba mengkovernya saat hari-hari besar semisal Waisak atau Kenaikan Isa Almasih.

Yogi Prabowo, wakil pemimpin redaksi Kompas TV, juga bercerita sama, “Kalau tayangan reguler di nasional memang tidak ada.” Namun, Kompas TV tak cuma menyajikan acara-acara besar di hari raya, tapi juga menayangkan acara dakwah reguler agama lain dalam siaran regional di sejumlah provinsi saja.

Baca juga artikel terkait DAKWAH ISLAM atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan