12 Juni 1670

Wafatnya Sang Ayam Jantan dari Timur Akhiri Kejayaan Gowa

- 12 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Cahaya timur.
Ayam jantan menggempur
menolak sungkur.
tirto.id - Pertempuran panjang di Sulawesi Selatan yang dimulai sejak 1660 itu padam setelah tujuh tahun berkobar. Pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin bersedia meneken Perjanjian Bungaya, sebuah kesepakatan damai dengan Belanda.

Namun, belum lama gencatan senjata antara Kesultanan Gowa dan VOC disepakati, peperangan sengit kembali pecah di beberapa lokasi. Belanda mendatangkan bala bantuan dari Batavia sehingga lagi-lagi pasukan Sultan Hasanuddin menelan kekalahan yang kali ini benar-benar telak.

Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah untuk kedua kalinya pada akhir 1669. Ia meletakkan takhta. Sang Ayam Jantan dari Timur pun hidup dalam nestapa hingga menghembuskan napas terakhir pada 12 Juni 1670.

Sultan Gowa dan Ambisi VOC

Dikutip dari daftar raja-raja Gowa yang dimuat dalam buku Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai Abad XVII (2005:183) karya Ahmad M. Sewang, Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke-16, atau Sultan Gowa ke-3 sejak kerajaan ini mulai memeluk Islam.

Hasanuddin lahir di Gowa pada 12 Januari 1631 dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia putra mahkota Sultan Malik as-Said atau Malikulsaid (1639-1653). Kakek Hasanuddin, Sultan Alauddin (1593-1639) adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam.


Sejak menjelang dewasa, Hasanuddin sudah menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya. Sultan Malikulsaid mengangkat putra kebanggaannya itu sebagai panglima pertahanan Kesultanan Gowa pada 1652. Hasanuddin bertanggungjawab atas keamanan kerajaan.

Seperti yang dicatat dalam buku Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Daerah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV (1985), Sultan Malikusaid wafat pada 6 November 1653. Hasanuddin pun naik takhta sebagai raja baru dan langsung membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan, termasuk menguasai jalur perdagangan utama di Nusantara bagian timur.

Namun, masa-masa keemasan itu mulai terancam sejak orang-orang Belanda berbendera VOC menyambangi Sulawesi bagian selatan pada pertengahan abad ke-17. VOC tergiur ingin menguasai perdagangan di kawasan yang amat strategis tersebut.

Belanda berharap kebijakan Sultan Hasanuddin lebih lunak ketimbang mendiang ayahnya. Dikutip dari tulisan Sagimun Mulus Dumadi dalam buku Sultan Hasanuddin Menentang VOC (1986:136), Hasanuddin memberikan izin kepada tiga orang Belanda untuk tinggal di Somba Opu, ibukota Kesultanan Gowa saat itu.


Ternyata kebaikan hati sang sultan disalahgunakan. Orang-orang Belanda tersebut kepergok telah mengirimkan surat ke Batavia. Dalam surat itu disebutkan, VOC diminta melakukan persiapan untuk melancarkan serangan ke Kesultanan Gowa di tahun berikutnya. Terang saja Sultan Hasanuddin murka dan merasa kecolongan. Ia bergegas memerintahkan pembangunan benteng-benteng pertahanan untuk mengantisipasi serbuan pasukan Belanda yang kemungkinan besar akan segera datang.

Perang Panjang di Makassar

Kabar Belanda akan menyerang ternyata benar adanya. Pada Januari dan Februari 1660, VOC mengirimkan rombongan kapal tempurnya dari Batavia menuju Ambon di Kepulauan Maluku di bawah pimpinan Johan van Dam dan Johan Truytman. Kapal-kapal tersebut diberangkatkan secara bergelombang dan dibagi menjadi beberapa kelompok.

Menurut buku Makassar Sebagai Kota Maritim (2000:47) yang ditulis oleh Abdul Rasjid dan ‎Restu Gunawan, armada VOC terdiri dari 31 kapal perang yang mengangkut 2.600 orang tentara, termasuk prajurit pribumi. Kapal-kapal ini juga digunakan untuk memancing armada tempur Gowa agar berlayar ke Ambon demi melemahkan pertahanan mereka di Somba Opu.


Sultan Hasanuddin yang mengetahui pergerakan kapal VOC kemudian mengumpulkan semua bangsawan Gowa untuk diminta sumpah setianya. Selain itu, kerajaan-kerajaan yang dinaungi Kesultanan Gowa, termasuk beberapa kerajaan di Kepulauan Nusa Tenggara, diperintahkan untuk mengirimkan pasukan bantuan.

Ancaman VOC akhirnya ditanggapi secara serius oleh Sultan Hasanuddin. Dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru Jilid I (1987:99), Sartono Kartodirdjo memaparkan strategi pertahanan yang diterapkan Kesultanan Gowa dengan melibatkan orang-orang kepercayaan Sultan Hasanuddin atau Karaeng Popo.

Ditemani Karaeng Tallo, Sultan Hasanuddin bertahan di istana. Saudara laki-laki sultan, Daeng Talolo, memimpin 3.000 prajurit dan bersiap di benteng utama. Di beberapa lokasi penting juga ditempatkan ribuan pasukan, antara lain 1.500 prajurit di tepi Sungai Kalak Ongkong. Tak kurang dari 6.000 orang disiagakan di Bantaeng.


Wanita dan anak-anak diungsikan ke pedalaman. Sementara para pemuda dan kaum pria dikerahkan untuk mengangkat senjata guna mempertahankan Kesultanan Gowa manakala Belanda benar-benar menyerang dan mampu merangsek hingga ke area permukiman sebelum mengarah ke istana yang dihuni Sultan Hasanuddin.

Pertempuran akhirnya benar-benar dimulai pada pertengahan 1660 itu. VOC berhasil menguasai Benteng Panakukang milik Kesultanan Gowa sehingga Sultan Hasanuddin terpaksa bersedia menggelar perundingan dengan pihak lawan.

Perjanjian itu dilaksanakan dua kali, yakni 19 Agustus dan 21 Desember 1660. Salah satu isinya adalah bahwa Kesultanan Gowa harus melepaskan Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kesultanan Bima yang dipimpin Sultan Abdul Khair Sirajudin saat itu memang menjadi sekutu paling setia dan amat berarti bagi Gowa.

Kendati perjanjian telah diteken, namun Gowa dan Bima tetap bersatu. Hal itu bukan saja karena Sultan Hasanuddin dan Sultan Abdul Khair Sirajudin punya prinsip yang sama, yakni melawan VOC, tetapi juga karena ikatan kekeluargaan yang terjalin melalui tali perkawinan antara dua kesultanan tersebut (Susanto Zuhdi & Triana Wulandari, Kerajaan Tradisional di Indonesia: Bima, (1997: 42).


Selain itu, atas pengaruh salah seorang penasihat kerajaan bernama Karaeng Karunrung yang memang sangat membenci VOC, Sultan Hasanuddin semakin mantap melanggar perjanjian tersebut karena dianggap sangat merugikan dan merendahkan derajat Kesultanan Gowa (Dumadi, 1986: 150).

Belanda pun murka ketika mengetahui bahwa Sultan Hasanuddin telah melanggar permufakatan. Perang di antara kedua kubu pun kembali meletus selama beberapa tahun.


Infografik Mozaik Sultan hasanuddin


Jatuhnya Kesultanan Gowa

Pertempuran yang terjadi sejak 1660 terus berlangsung. VOC kini punya sekutu yang amat berharga, yakni Arung Palakka dari Bone, yang dendam lantaran Gowa menjajah dan memperbudak Kerajaan Bone. Bahkan, disebutkan oleh Palloge Petta Nabba dalam Sejarah Kerajaan Tanah Bone (2006), Arung Palaka dan keluarganya pernah dijadikan pembantu di rumah pejabat tinggi Gowa (hlm. 124).

Setelah berhasil lolos dari Gowa, Arung Palakka lantas meminta bantuan VOC ke Batavia. Arung Palakka yang memang terampil dalam bertempur sempat membantu VOC menaklukkan berbagai wilayah. Ia pernah berkolaborasi dengan Cornelis Speelman dan Joncker Jouwa de Manipa alias Kapiten Jonker (Anthony Reid, Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia, 2000).


Kemudian, pada 1666, pasukan Arung Palakka turut serta dalam armada besar VOC yang dipimpin Cornelis Speelman untuk menyerang Gowa. Pertempuran besar pun terjadi dan berlangsung beberapa bulan lamanya.

Kesultanan Gowa terdesak karena dijepit oleh pasukan gabungan lawan. VOC menyerang dari laut sekaligus memblokir jalur perdagangan, sementara urusan darat dikerjakan sepenuhnya dengan sangat baik oleh Arung Palakka. Situasi yang amat tidak menguntungkan ini membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah dan bersedia diajak berunding.

Perundingan itu dilakukan pada 18 November 1667 dan dikenal dengan nama Perjanjian Bungaya. Setidaknya ada 30 poin penting yang termaktub dalam perundingan itu dan hampir seluruhnya sangat merugikan Gowa (Idwar Anwar, Ensiklopedi Sejarah Luwu, 2005).

Namun, Sultan Hasanuddin rupanya masih menyimpan kekecewaan. Lantaran merasa sangat dirugikan atas hasil Perundingan Bungaya itu, Gowa kembali melawan—dan ini berarti, Sultan Hasanuddin sudah dua kali melanggar kesepakatan dengan VOC.


Kali ini Belanda tidak lagi memberi ampun. Dengan mengerahkan seluruh pasukan gabungan, termasuk pasukan dari Bone dan Ambon, ditambah kedatangan bala bantuan dari Batavia, VOC berhasil menaklukkan benteng terkuat Kesultanan Gowa di Somba Opu pada 12 Juni 1669 (Ahmad Massiara Daeng Rapi, Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan, 1988: 129).

Sultan Hasanuddin menyerah dan terpaksa meletakkan takhta. Pada 12 Juni 1670, tepat setahun setelah kekalahan telak itu, ia meninggal dunia dalam usia yang masih cukup muda, yakni 39 tahun.

Sepeninggal Sultan Hasanuddin, perlawanan terhadap VOC memang beberapa kali dilancarkan, meskipun dalam skala yang kecil dan nyaris selalu bisa dipatahkan. Namun, Kesultanan Gowa tidak pernah lagi mencapai kejayaan seperti yang pernah dinikmati pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KERAJAAN atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis:
Editor: Windu Jusuf