Wabah Kolera dan Hoaks Picu Pemberontakan Paris 1832

Osuari di Naples, Italia, yang berisi tulang belulang korban wabah kolera. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Windu Jusuf - 23 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Warga Paris memang dikenal gemar demo. Tapi demo karena wabah?
Setidaknya sejak akhir abad ke-18, kota Paris tak asing dengan demonstrasi, pemberontakan bersenjata, dan pendudukan. Ribuan kepala aristokrat dan kaum revolusioner telah menggelinding dari guillotine, ratusan barikade jatuh-bangun, pembunuhan politik luar biasa lazim. Hanya dalam kurun waktu 70 tahun, kota ini diduduki oleh pasukan Jerman.

Alasan pemberontakan bisa apa saja. Mulai dari perilaku ningrat-ningrat berengsek (1789), penguasa perang yang tak kompeten (1871), larangan mahasiswa untuk menginap di asrama mahasiswi (menjelang Mei 1968), hingga undang-undang yang merugikan kelas pekerja seperti (2018-2019).

Namun, sepanjang abad ke-19, masyarakat Paris turun ke jalan bukan hanya karena urusan politik atau upah, tapi juga wabah.

Dua ratus tahun silam sebelum WHO mengumumkan pandemi COVID-19, dunia digemparkan oleh wabah kolera. Dalam sebuah studi tentang pemberitaan kolera di Portugal pada pertengahan abad ke-19 (2011), sejarawan sains Maria de Almeida memaparkan bagaimana wabah ini menyebar ke seluruh dunia melalui rute perdagangan darat dan laut.

Wabah tersebut muncul pertama di India pada 1817, lalu menyeberang ke Rusia, Eropa Barat (1832), hingga ke Amerika Utara pada 1834. Jumlah korbannya pada 1832 mencapai 6.536 di London dan 100.000 di seluruh Perancis. Selama pandemi kolera gelombang ketiga (1846-1860), Paris kehilangan 50.000 dari total 1.053.000 penduduknya.

Sejak 1817, telah terjadi tujuh kali gelombang pandemi kolera. Pandemi terakhir berawal dari Indonesia pada 1861 dan berakhir pada 1975. Baru pada 1854 ilmuwan melihat titik cerah penyembuhan kolera. Ilmuwan Italia Filippo Pacini menemukan bakteri penyebab kolera (Vibrio cholerae). Di Inggris pada tahun yang sama, ilmuwan John Snow menunjukkan orang bisa terhindar dari kolera jika tak terpapar bakteri Vibrio cholerae.

Ketakutan Massal

Lazimnya kota Eropa pada era Revolusi Industri, Paris awal abad ke-19 adalah kota yang jorok dengan sistem sanitasi buruk. Orang buang air sembarangan di comberan yang mengalir di tengah jalan. Pes dan TBC adalah penyakit yang umum dijumpai.

Dalam Le Paris d’haussmann (1832), sejarawan Patrice de Moncan melukiskan secara detail bangunan-bangunan reyot dengan kamar berukuran 5 meter persegi yang dihuni oleh 20-an orang (termasuk anak-anak). Novelis Rusia Nikolai Gogol yang tinggal di Paris pada 1836-1837 menulis surat kepada seorang kerabat di Saint-Petersburg. “Aku tak tahu harus bilang apa. Lumpur di mana-mana. Aku bahkan tak tahu mesti masuk ke kota ini dari sebelah mana,” tulisnya.

Sejak 1830-an, muncul kawasan-kawasan elite di sebelah barat. Namun, bersamaan dengan itu angka kriminalitas juga meningkat. Pada dekade itu, Paris terancam terbelah menjadi dua dunia: yang sehat dan kaya, serta yang sakit dan miskin.


Pada 1853, Louis Napoleon menunjuk Georges Eugène Haussmann untuk merombak kota Paris. Sejak itu hingga 1870, Haussmann melebarkan jalan-jalan utama hingga puluhan meter, membangun kanal, dan memasang pipa-pipa raksasa dipasang. Ia juga meratakan pemukiman-pemukiman kumuh diratakan dan menggantinya dengan deretan apartemen.

Selain alasan kebersihan kota dan pencegahan penyakit, rencana Louis Napoleon—keponakan Napoleon Bonaparte—untuk mengubah wajah dan jeroan Paris juga berangkat dari kenyataan bahwa di mata para penguasa kota ini terlalu ramah pada pemberontak. Keputusan untuk melebarkan jalan-jalan utama, misalnya, diambil untuk mempermudah pasukan berkuda mematahkan barisan demonstran. Hunian kumuh juga diratakan karena para pemimpin demo sering bersembunyi di rumah-rumah penduduk miskin.

Ketakutan Louis Napoleon—yang menjadi penguasa absolut setelah meluncurkan kudeta pada 1852—nampaknya berangkat dari sebuah peristiwa dua puluh tahun sebelumnya. Ancaman revolusi dan menjalarnya wabah kolera adalah dua peristiwa yang bertemu pada Juni 1832.

Ketika wabah mulai merebak, penyair Jerman Heinrich Heine tengah berada di Paris. Dalam sebuah acara, ia menyaksikan seorang aktor panggung membuka topengnya. Wajahnya membiru.

“Cuma orang pandir yang nekat menyambut kolera. Kolera adalah rezim teror yang lebih ganas dari pemerintahan Teror [Jacobin] yang sebelumnya, karena membunuh dengan lebih cepat dan misterius,” tulis Heine pada April 1832.

Penduduk Paris saat itu berjumlah sekitar 650.000 jiwa. Sebanyak 20.000 meninggal nyawa akibat kolera. Tak ada yang tahu apa yang menyebabkan ribuan orang tiba-tiba diare, muntah berjam-jam, dan mengalami dehidrasi hebat. Sebagian besar orang yang dibawa ke rumah sakit tak pernah kembali. Dokter dan petugas medis lainnya bingung menghadapi penyakit ini.

Di tengah ketidakjelasan situasi itulah rumor dan teori konspirasi berkembang. Salah satu yang santer adalah hoaks bahwa tiap pasien yang dibawa ke rumah sakit diracun, sehingga wajar jumlah yang meninggal banyak. Dalam “Cholera revolts: a class struggle we may not like” di jurnal Social History (2017), Samuel Kline Cohn Jr mencatat segerombolan penderita kolera menyerang tenaga medis. Beberapa cukup beruntung sekadar dimaki-maki, sementara beberapa yang lain bernasib tragis: ditenggelamkan hidup-hidup di Sungai Seine.

Kericuhan akibat hoaks seperti ini rupanya tidak hanya terjadi di Paris. Peristiwa serupa terjadi di Edinburgh, Skotlandia, di tengah wabah Kolera pada 1920 menyusul skandal pencurian mayat untuk keperluan pendidikan medis. Antara Mei-Juni 1832, kerusuhan besar terjadi selama dua minggu karena rumor pencurian jenazah oleh pihak medis.



“Merdeka atau Mati”

Pada bulan Juni, riak-riak Paris menjadi pemberontakan bersenjata ketika Jean Maximilien Lamarque meninggal karena kolera. Lamarque, seorang anggota parlemen yang dikenal kritis terhadap monarki, adalah perwira kepercayaan Napoleon Bonaparte dan cukup populer di kalangan pekerja.

Setelah politikus oposisi itu dimakamkan pada 5 Juni, kelompok neo-Jacobin yang diwakili Société des droits de l'homme mulai menghimpun kekuatan, mengorganisir kaum imigran, pelajar, dan warga miskin. Mereka membakar kemarahan kaum jelata yang sudah muak dengan kemiskinan dan kesombongan borjuasi baru di bawah monarki.

Société des droits de l'homme sejak awal memang tidak puas dengan Revolusi 1830 yang sukses melengserkan Raja Charles X. Louis-Philippe, yang diangkat menjadi raja, dianggap telah membajak revolusi. Setelah bendera merah berkibar di Place de la Bastille, sekitar tiga ribu orang menduduki sejumlah distrik Paris dengan tujuan menggulingkan Louis-Philippe dan merestorasi Republik. Slogannya yang terkenal: “La Liberté ou la Mort”—Merdeka atau Mati.

Pergolakan itu hanya bertahan beberapa jam. Satu per satu barikade dipatahkan oleh Garda Nasional. Sebanyak 160 orang dari kubu pemberontak dan pasukan nasional tewas. Pada pagi hari 6 Juni, “Pemberontakan Juni” tinggal sejarah.


Wabah, rumor liar, dan kemiskinan menciptakan situasi yang rentan bagi tiap penguasa di Eropa dan banyak belahan dunia lainnya. Perancis mengalaminya, demikian juga Britania Raya. Pada 1985, Jean-Claude Duvalier, diktator Haiti, bekas koloni Perancis, digulingkan setelah gagal mengatasi krisis ekonomi karena bangkrutnya industri pariwisata akibat epidemi AIDS.

COVID-19 merebak ketika dunia berada di ambang krisis ekonomi global, ancaman gejolak geopolitik setelah Trump membunuh pemimpin Garda Revolusi Iran, Mayjen Qaseem Soleimani, dan perang di Timur Tengah yang tak kunjung usai. Seperti pandemi lain yang telah terjadi, termasuk wabah kolera di Paris 1832, COVID-19 membongkar segala kedok ketimpangan di masyarakat, rentannya kehidupan sosial di bawah kapitalisme, dan ketidakbecusan pemerintah di berbagai belahan dunia dalam mengurus warganya.

Baca juga artikel terkait WABAH atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Windu Jusuf
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight