16 Mei 1717

Voltaire: Dari Bastille ke Bastille, dari Puisi ke Revolusi

Kontributor: Uswatul Chabibah - 16 Mei 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pemikiran-pemikiran radikal Voltaire kelak mencetuskan Revolusi Prancis.
tirto.id - Sejak remaja, François-Marie Arouet galak mengkritik pemerintah dan gereja Katolik lewat tulisan-tulisannya. Ia bahkan dibuang ke Belanda karena pemerintah kerajaan Prancis geram dengan ketajaman penanya ketika usianya masih 19 tahun.

Sekembalinya dari pembuangan di Belanda, Arouet tidak kapok mengkritik penguasa dan gereja. Pada tahun 1716, bahkan masih dalam masa pembuangan di luar Paris, ia menulis puisi yang menyindir perilaku hina bangsawan yang berkuasa saat itu, Philippe II, yang diduga menjalin hubungan gelap dengan putri kandungnya sendiri.

“Bukan sang putra, tetapi ayahnya. Putrinya, bukan ibunya.” Demikian kutipan puisi yang langsung membuat naik pitam “sang ayah” yang dimaksud dalam puisi tersebut. Akibatnya sudah dapat diduga. Setahun kemudian pada 16 Mei 1717, tepat hari ini 305 tahun lalu, Arouet dijebloskan ke penjara paling mengerikan, Bastille.

Selama hampir satu tahun di balik tebalnya dinding penjara, dingin dan tanpa sinar matahari, justru di sanalah Arouet mempunyai banyak waktu untuk berpikir dan merenung. Ia bahkan menulis naskah drama pertamanya di dalam penjara, Oedipe.

Setelah menjalani beberapa bulan sebagai tahanan rumah selepasnya dari penjara Bastille, pada 18 November 1718, Oedipe berhasil dipentaskan di La Comédie Française. Dan untuk pertama kali juga, François-Marie Arouet menggunakan nom de plume atau nama pena Voltaire dalam karyanya.

Pementasan Oedipe membawa kemasyhuran bagi Voltaire mengingat naskah dramanya dipentaskan hingga 32 kali. Diduga keberhasilan pementasan naskah drama itu karena Oedipe mengingatkan orang pada skandal seks Philippe II.

Popularitasnya membuat Voltaire justru kian gencar mengkritik para bangsawan dan otoritas gereja. Ia sekali lagi dijebloskan ke penjara Bastille pada 1726, kali ini juga karena seterunya dengan seorang bangsawan. Namun kemudian Voltaire diberi tawaran, yaitu berada di Prancis tetapi di dalam penjara, atau pergi meninggalkan Prancis.

Voltaire memilih yang kedua. Tujuannya adalah negeri di seberang selat, Inggris.

Inggris rupanya menjadi tanah yang tepat bagi tumbuhnya pemikiran Voltaire. Selama 2,5 tahun ia mengamati betapa berbeda Inggris dengan Prancis dalam berbagai hal penting yang menyangkut hidup orang banyak. Hasilnya adalah Philosophical Letters pada 1733, yang kemudian terbit juga dalam bahasa Prancis pada 1734.

Philosophical Letters ditulis seolah-olah sebagai surat yang dikirimkan kepada seorang kawan di Prancis untuk menerangkan tentang masyarakat Inggris, terutama mengenai kelas menengah, kebebasan beragama, dan perdagangannya. Surat itu diawali dengan kalimat “Ini adalah negeri berbagai kelompok. Orang Inggris, warga sipil merdeka, pergi ke sorga melalui jalan apa pun yang dia pilih.” Pernyataan ini merupakan serangan telak bagi Prancis, yang menghendaki agama Katolik sebagai agama tunggal.

Voltaire mengakui bahwa politik dan perdagangan di Inggris sangat dipengaruhi oleh agama seseorang. “Tak seorang pun dapat mendirikan sebuah kantor di Inggris atau Irlandia kecuali ia seorang penganut Anglikan.” Demikian tulis Voltaire dalam Surat Kelima.


Inggris sebenarnya memang tidak memiliki akar sejarah yang kuat untuk toleransi beragama. Hukuman masih berlaku bagi siapa pun yang meninggalkan Gereja Anglikan dan bagi kelompok ateis. Tetapi apa yang ditetapkan dalam hukum Inggris praktiknya begitu berbeda dalam kehidupan sehari-hari, yang tetap memberi ruang untuk perbedaan keyakinan. Inggris juga tidak dibebani oleh struktur kelas yang sangat kaku seperti di Prancis, yang tidak memungkinkan terjadinya mobilitas sosial-ekonomi.

Dalam Surat Keenam, Voltaire selanjutnya menerangkan bahwa kehidupan damai saling berdampingan tersebut dikarenakan terwujudnya pasar bebas sepenuhnya yang tercermin dalam Bursa Efek London. “Pergilah ke Bursa Efek London, sebuah tempat yang lebih terhormat daripada istana, dan Anda akan melihat perwakilan semua bangsa berkumpul di sana untuk kebermanfaatan umat manusia. Ada orang Yahudi, orang Islam, dan orang Kristen saling membuat kesepakatan seolah-olah mereka menganut agama yang sama…”

Perbedaan mencolok antara Inggris dan Prancis lebih lanjut dijabarkan Voltaire pada sistem perdagangan serta sikap warganya. Pedagang memiliki tempat terhormat di Inggris. Di Prancis, posisi ini ditempati para aristrokat dan bangsawan, sementara pedagang dianggap hina. Perbedaan dalam memandang kelas pedagang ini menjelaskan kebangkitan kelas menengah Inggris yang kekayaannya dihasilkan dari usaha perdagangan. Bangsa penjaga toko, demikian ejekan Prancis kepada Inggris.

Padahal perdagangan itulah yang memungkinkan terjadinya kesepakatan-kesepakatan ekonomi tanpa melihat agama. Toleransi yang tercipta di Bursa Efek London menguar jauh melewati gedung Bursa. Setelah perdagangan selesai, “… ketika meninggalkan tempat yang damai dan bebas ini, beberapa orang menuju ke sinagog, beberapa yang lain pergi minum-minum,” lanjut Voltaire.

Dengan membandingkan Inggris dan Prancis, The Philosophical Letters bagaikan sebuah deklarasi perang. Dampaknya luar biasa bagi ranah intelektual Eropa, terutama bagi anak muda. Will Durant, seorang filsuf modern menyebutkan, “Rousseau menyatakan bahwa surat-surat ini memainkan peran besar dalam kesadaran pemikirannya; pastilah terdapat ribuan anak muda Prancis yang juga memiliki utang serupa kepada buku Voltaire. Lafayette mengatakan bahwa buku itu membuatnya jadi seorang Republikan pada usia 9 tahun…” (The Origin of Religious Tolerance: Voltaire: News: The Independent Institute).

Sebuah lettre de cachet alias surat penangkapan tanpa pengadilan pun dikeluarkan untuk Voltaire. Semua salinan The Philosophical Letters yang terlanjur beredar di Prancis diperintahkan dibakar di halaman Palais de Justice di Paris, yang ironisnya artinya adalah “Istana Keadilan”. Lettre de cachet tersebut akhirnya berhasil dicabut dengan tekanan dari teman-teman Voltaire yang berpengaruh, tetapi Voltaire harus keluar dari Paris.


Infografik Mozaik Voltaire
Infografik mozaik voltaire. tirto/Quita


Gagasan-gagasan dalam The Philosophical Letters terus tertanam kuat dalam kesadaran bangsa Eropa hingga puluhan tahun kemudian. Kebebasan dalam perdagangan menjadi landasan terwujudnya kebebasan beragama. Gagasan tersebut revolusioner mengingat Prancis menerapkan sistem homogen, terutama agama, dengan dalih untuk menjaga perdamaian. Voltaire jelas menentang sistem ini. Masyarakat yang tercipta dalam sistem agama tunggal akan stagnan dan korup, karena tidak ada ruang untuk mempertanyakan atau menentang. Justru, menurut Voltaire, keberagaman dan kebebasanlah yang akan menciptakan masyarakat yang damai.

“Kalau saja hanya ada satu agama di Inggris, tirani akan berkuasa. Jika ada dua agama, maka mereka akan saling memotong leher. Tetapi di sini ada 30 agama, dan mereka hidup bahagia bersama dalam kedamaian.” Demikian Voltaire menutup suratnya dalam The Philosophical Letters.

Tak diterima oleh gereja dan para penguasa di Paris, Voltaire senantiasa hidup berpindah-pindah, tetapi tak membuatnya berhenti berkarya dan menyuarakan kebebasan beragama. Adikaryanya adalah Candide yang terbit pada 1759, sebuah novel satir yang mengkritik agama, teolog, penguasa, militer, serta para filsuf.

Voltaire menghabiskan 20 tahun terakhir hidupnya di Ferney, dekat perbatasan Swiss, di luar kekuasaan Prancis. Ia kembali ke Paris pada 1778 untuk menyaksikan pementasan perdana salah satu naskah dramanya, Irene. Ketika itu usianya sudah 83 tahun dan kesehatannya sangat buruk—sejak kecil dokter memperkirakan usianya tak lama karena ia memiliki radang usus kronis.

Voltaire meninggal di Paris pada 1779. Gereja Katolik di Paris menolak melakukan pemakaman untuk Voltaire. Baru pada 1791, Majelis Nasional Revolusi Prancis memerintahkan makam Voltaire dipindahkan ke Pantheon, untuk memberikan tempat terhormat kepada pemikir besar di Masa Pencerahan itu, yang telah merintis pemikiran-pemikiran radikal yang kelak mencetuskan Revolusi Prancis.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI PRANCIS atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Uswatul Chabibah
Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight