Vlogger Anak dalam Pusaran Komoditas dan Ketenaran

Oleh: Artika Sari - 7 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Vlog orangtua semakin banyak yang melibatkan anak, juga mulai bermunculan vlogger-vlogger bocah dengan penghasilan wah.
tirto.id - Wajah Nicholas Sean Purnama tampak berseri-seri ketika ayahnya, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok, akhirnya duduk semobil dengannya. Ekspresi bahagia itu tergambar jelas dalam vlog pertama BTP yang berjudul “Pulang”. Dalam vlognya, BTP membagikan pengalamannya selama dibui di Mako Brimob kepada putra sulungya itu.

Sejak diunggah pada Kamis (24/1/2019), vlog mantan Gubernur DKI Jakarta ini telah ditonton lebih dari 3 juta kali di Youtube. Hanya dalam waktu tiga hari pula, channel “Panggil Saya BTP” yang belum lama dibuat pun langsung meraup 645 ribu subscriber.

BTP bukanlah satu-satunya orang tua yang mengajak anaknya membuat vlog bersama. Sejumlah selebritas seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina atau Glenn Alinskie dan Chelsea Olivia pun kerap melibatkan anak mereka dalam vlog.

Selain mengabadikan momen, mengunggah vlog di Youtube juga menjadi tambang uang yang menjanjikan bagi para selebritas ini. Dengan ketenaran yang sudah mereka miliki, bukanlah pekerjaan sulit untuk menarik perhatian khalayak untuk menonton konten mereka.

Tak hanya konten orangtua bersama anak mereka yang menarik untuk diamati. Dari Youtube pula, vlogger-vlogger cilik kemudian bermunculan. Sebut saja Roxanne Parsons salah satunya. Bocah 6 tahun ini berlatih berbicara setiap hari. Hal yang semula membingungkan bagi ibunya, namun bisa dimengerti.

“Kalau saya jadi Youtubers nanti, saya juga sebaiknya punya pekerjaan sampingan karena tak ada yang tahu kapan sesuatu bisa berakhir. Kau perlu memastikan kau bisa keluar dari sana dan mendapatkan penghasilan,” kata Parsons.

Untuk mengakomodasi minat atas eksistensi diri ini, Youtube kemudian menerapkan 13 tahun sebagai batas usia minimal para penggunanya. Anak-anak di bawah usia tersebut diperbolehkan membuat akun asalkan dengan izin orang tua.

Izin ini tentu dimaksudkan agar si anak tetap mendapat pengawasan. Jika orang tua ingin mengarahkan anak menjadi vlogger, sudah seharusnya pula mereka mengajak anak membahas imbas dari ketenaran. Imbas ini mencakup dirinya bisa setiap saat didatangi penggemar yang menyodorkan bunga atau bahkan mencium pipinya.

Platform sosial seperti Youtube juga mengubah standar privasi orangtua saat berkomunikasi dengan anak. Menurut Sonia Livingstone, pakar psikologi sosial dari London School Economics, jika berencana mengunggah konten tentang anak di suatu platform, orangtua wajib memastikan apakah anak tetap merasa dihormati atau justru terganggu oleh konten itu.

Diskusi lagi-lagi menjadi jalan tengah yang bijak. Livingstone juga menekankan bahwa orangtua perlu mempertimbangkan keamanan anak jika keinginan berbagi di internet justru membahayakannya.


Penulis Screenwise: Helping Kids Thrive (and Survive) in Their Digital World, Devorah Heithner, pun tak menampik jika ketenaran dan penghasilan yang besar bisa berbalik menyerang anak. Kolom komentar di Youtube menjadi salah satu hal yang disoroti Heithner.

Agar anak terlindung dari perundungan daring, Heithner menyarankan kepada orangtua sebaiknya menonaktifkan kolom komentar. Ini menjadi solusi yang bijak untuk menghindarkan anak dari membaca kata-kata yang tak pantas.

“Saya percaya video bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk kita berinteraksi. Mendorong anak untuk membagikan video bisa menjadi pengalaman belajar yang baik,” ujar Heithner.

“Di sisi lain, jagalah hal-hal yang disenanginya sebagai privasi. Dengan begitu, mereka akan berterima kasih pada Anda karena telah menjaga dunia mereka,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait YOUTUBE atau tulisan menarik lainnya Artika Sari
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Artika Sari
Editor: Iswara N Raditya