Menuju konten utama

Virus Corona di Vietnam: Tak Ada Kasus Baru dan Korban Meninggal

Sejak 24 April 2020, Vietnam melaportkan 0 kasus baru dan hingga saat ini belum ada kasus meninggal.

Virus Corona di Vietnam: Tak Ada Kasus Baru dan Korban Meninggal
Ilustrasi Virus Corona. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Negara Vietnam, yang berbatasan langsung dengan Cina, berhasil memutus rantai penularan virus. Bahkan, tidak ada angka kematian yang tercatat akibat SARS-CoV-2 di negara dengan jumlah populasi 97 juta orang tersebut.

Situs Worldometers mencatat, Vietnam hanya memiliki 270 kasus Coronavirus dan 225 pasien di antaranya telah dinyatakan sembuh, dilansir Tirto pada Selasa (28/4/2020) pukul 11.52 WIB.

Sementara itu, kasus pertama di Vietnam terjadi pada 23 Januari, dan ketika kasus meningkat menjadi 6 orang terinfeksi pada 1 Februari, Pemerintah Vietnam secara resmi menetapkan virus Corona sebagai epidemi.

Data total kasus COVID-19 tidak meningkat secara signifikan dimulai dari tanggal 15 Februari 2020 sejumlah 16 kasus setidaknya hingga 5 Maret 2020. Namun, di hari-hari selanjutnya terjadi penambahan kasus yang tertinggi ialah 20 kasus pada 29 Maret 2020. Setelah itu, tercatat tidak ada angka kasus infeksi masif tercatat di negara tersebut.

Bahkan sejak Jumat (24/4/2020), Worldometers juga mencatat tidak adanya jumlah penambahan kasus COVID-19 di negara tersebut.

Melansir Vietnam Briefing, pedoman isolasi sosial telah diakhiri di Vietnam sejak Kamis (22/4/2020) lalu termasuk di ibukota negara Hanoi, serta kota Ho Chi Minh. Meskipun, pembatasan masih akan terus dilanjutkan di daerah dan tempat yang berisiko tinggi.

Di sisi lain, berkumpul dengan lebih dari 20 orang juga masih dilarang, dan restoran yang mulai beroperasi diharuskan mematuhi panduan ketat dari otoritas setempat untuk mengantisipasi penularan COVID-19 secara masif.

Pada Sabtu (25/4/2020), Perdana Menteri Vietnam mengeluarkan Instruksi No.19 yang berisi tentang langkah-langkah mengatasi COVID-19. Langkah-langkah tersebut termasuk mencuci tangan, dan mengenakan masker.

Di dalam instruksi tersebut, Perdana Menteri juga melarang pertemuan keagamaan, festival, dan acara olahraga. Selain itu, bar, pub, salon kecantikan, dan bar karaoke akan terus ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Pengujian suhu menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh Pemerintah Vietnam untuk segera mengatasi infeksi virus yang menyerang paru-paru tersebut, dilansir The Conversation. Mulai Februari, siapa pun yang tiba di bandara di kota besar Vietnam harus melalui pengujian suhu tubuh wajib.

Selain itu, penumpang juga diharuskan untuk mengisi keterangan kesehatan diri sendiri, yang di dalamnya menyatakan rincian kontak mereka dan riwayat perjalanan serta kesehatan. Langkah-langkah tersebut terus dilanjutkan, bahkan berlaku untuk semua orang yang memasuki kota-kota besar, dan beberapa provinsi melalui perjalanan darat.

Sementara itu, semua orang yang memasuki gedung pemerintah atau rumah sakit juga diharuskan melewati tes yang sama untuk mendeteksi penularan virus Corona.

Jika ditemukan orang yang memiliki suhu tubuh lebih dari 38 derajat celsius, ia akan dibawa ke fasilitas medis terdekat agar mendapatkan pengujian secara lebih menyeluruh. Apabila terdapat orang yang berbohong dalam menulis keterangan kesehatan diri, ia dapat dituntun secara pidana.

Hal kedua yang dilakukan oleh Vietnam adalah memobilisasi di semua lini sebagaimana diwartakan DW. Vietnam termasuk negara berkembang, tidak mampu memberlakukan tes massal seperti negara lain.

Di sisi lain, Nguyen Thanh Phong, walikota Ho Cho Minh, mengatakan bahwa rumah sakit di kota yang ia pimpin hanya memiliki 900 tempat perawatan intensif. Sementara, jumlah penduduk di kota tersebut mencapai setidaknya 8 juta orang. Jumlah tersebut tidak seimbang, dan epidemi Corona pasti akan membuat kapasitas perawatan overload.

Untuk itu, Vietnam melembagakan kebijakan karantina yang ketat. Pada 12 Februari lalu, kota di dekat Hanoi diberlakukan karantina selama tiga minggu yang menyebabkan setidaknya 10.000 penduduk harus diam di rumah.

Sementara, pihak berwenang secara luas dan cermat telah mendokumentasikan siapa saja yang berpotensi melakukan kontak dengan virus. Vietnam juga melacak kontak tingkat kedua, ketiga dan keempat dengan orang yang terinfeksi. Semua orang ini kemudian ditempatkan di bawah level pergerakan dan pembatasan kontak yang ketat secara berurutan.

Sejak awal virus COVID-19 menyerang, siapa pun yang tiba di Vietnam dari daerah berisiko tinggi akan dikarantina selama 14 hari. Semua sekolah dan universitas juga telah ditutup sejak awal Februari.

Komunikasi secara luas tentang betapa seriusnya risiko infeksi Coronavirus COVID-19 juga dilakukan pemerintah sejak awal Januari lalu. Melansir DW, Vietnam menerapkan semacam retorika perang menghadapi Corona, dimana Perdana Menteri mengatakan: “Setiap bisnis, setiap warga negara, setiap area perumahan harus menjadi benteng untuk mencegah epidemi”.

Setiap hari, pemerintah Vietnam mengirim pesan kepada warga negara yang berisi informasi berupa gejala, hingga langkah perlindungan.

Pemerintah juga telah bermitra dengan platform pengiriman pesan, seperti Zalo, untuk menyebarkan berbagai informasi terbaru untuk menyebarkan pesan terkait menjaga hidup sehat kepada masyarakat.

Kota-kota di Vietnam juga dihiasi dengan poster yang mengingatkan warga akan peran mereka dalam menghentikan penyebaran virus. Pada saat yang sama, pemerintah juga memberikan informasi yang rinci kepada mereka yang memiliki COVID-19 atau, dalam kasus yang jarang terjadi, telah lolos dari karantina.

Seluruh lapisan masyarakat dengan sukarela mengikuti aturan yang telah dibuat oleh Pemerintah Vietnam. Konglomerat besar termasuk Grup Vin telah menutup puluhan hotel dan resor karena jatuhnya pariwisata, sehingga membuat karyawannya kehilangan pekerjaan.

Sementara itu untuk mengatasi dampak ekonomi, pemerintah Vietnam telah menyediakan 1,1 miliar dolar AS untuk memompa likuiditas ke dalam perekonomian.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Dinda Silviana Dewi

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Yantina Debora