Viral Fenomena 'Topi Awan' & Fakta Sejarah Erupsi Gunung Rinjani

Oleh: Yonada Nancy - 18 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Viral fenomena ‘topi awan’ Gunung Rinjani tidak terkait dengan sejarah gempa bumi maupun erupsi di gunung api tertinggi di Indonesia ini.
tirto.id - Fenomena topi awan atau cap cloud di puncak Gunung Rinjani pada Rabu (17/7/2019) lalu sempat viral karena bentuknya yang indah. Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan gunung api tertinggi kedua di Indonesia. Fakta sejarah mencatat, gunung ini pernah beberapa kali mengalami erupsi.

Kendati begitu, fenomena topi awan di Gunung Rinjani sama sekali tidak ada kaitannya dengan potensi bencana, baik gempa bumi maupun erupsi. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Rianto, mengatakan bahwa kabar yang mengaitkan hal tersebut adalah isu belaka alias hoaks.

"[Topi awan di Gunung Rinjani] Itu fenomena alam dari Awan Lenticular. Tidak ada kaitannya [dengan potensi bencana], itu hanya rumor. Awan caping itu berbahaya bagi penerbangan, bukan tanda-tanda terjadinya gempa,” tandas Agus dikutip dari Antara.

Penampakan awan di atas Gunung Rinjani yang berbentuk seperti topi, caping, atau piring raksasa itu memang terbilang unik lagi cantik. Banyak warga yang mengambil foto dan menyebarkannya melalui sosial media sehingga sempat menjadi viral.


Tak Terkait Aktivitas Vulkanik

Seperti yang disampaikan Agus Rianto, penampakan topi awan di Gunung Rinjani adalah fenomena alam biasa. Awan Lenticular terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar, seperti pegunungan atau perbukitan, sehingga menimbulkan pusaran dan membentuk wujud yang unik.

Hal ini biasa terjadi di puncak gunung. Cap cloud disebabkan adanya pendinginan dan kondensasi udara lembab yang dipaksakan naik ke atas lantaran keberadaan gunung. Bentuknya yang lenticular atau cekung-cembung dibentuk oleh angin lapisan atas pada arah horizontal.

Meskipun tidak berhubungan dengan aktivitas vulkanik pada gunung api juga kegempaan, namun fenomena ini perlu menjadi perhatian bagi aktivitas penerbangan. Dikutip dari National Weather Service, pesawat yang melintasi gelombang angin di area awan topi dapat mengalami turbulensi.

Pilot mungkin tidak akan menyadari bahwa ada gelombang gunung dan hal ini bisa mengakibatkan turbulensi. Angin di permukaan awan ini merupakan angin kencang yang bisa menyebabkan hujan orografis, atau hujan lokal yang biasanya terjadi di pegunungan karena sebab khusus.


Riwayat Erupsi Gunung Rinjani

Gunung Rinjani terkenal akan keindahannya dan menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki. Walau demikian, gunung ini sebenarnya masih aktif, bahkan merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci yang berada di Sumatera Barat dan Jambi.

Hasil penelitian Andhika Nurul Wahidah, Heryadi Rachmat, dan Mega F. Rosana bertajuk “Petrogenesis Batuan Piroklastik Gunung Rinjani” yang disajikan dalam Seminar Nasional Kebumian di Yogyakarta pada 6-7 Oktober 2016, menyebutkan bahwa gunung ini telah mengalami 12 kali letusan sejak 1847 hingga 2015.

Rangkaian erupsi Gunung Rinjani tersebut masing-masing terjadi pada 1847, 1884, 1901, 1906, 1909, 1915, 1944, 1966, 1994, 2004, 2009, dan 2015. Beberapa di antaranya sampai menelan korban jiwa. Salah satunya adalah letusan Gunung Rinjani yang berlangsung pada 1994.

Dalam erupsi yang terjadi sejak 3 Juni 1994 itu, tercatat adanya 172 kali letusan sampai tanggal 10 Juni 1994. Hingga menjelang akhir masa erupsi beberapa bulan kemudian, tepatnya pada November 1994, sebanyak 30 orang tewas setelah desa mereka diterjang lumpur lahar dari letusan Gunung Rinjani.


Letusan Legendaris Rinjani Tua

Di rangkaian pegunungan yang sama dengan Gunung Rinjani, dulunya berdiri Gunung Samalas atau yang juga dikenal sebagai Gunung Rinjani Tua. Dalam riwayatnya, Gunung Samalas pernah mengalami erupsi yang sangat dahsyat di masa silam, yakni sekurun 1257 hingga 1259.

Proceedings of the National Academy of Sciences (2013) menerbitkan hasil penelitian yang dilakukan Franck Lavigne dan kawan-kawan dari Universite Paris Pantheon-Sorbonne serta sejumlah peneliti dari institusi lainnya.

Hasil penelitian yang dilakukan pada 2013 itu memperkirakan bahwa erupsi Gunung Samalas pada pertengahan abad ke-13 Masehi lebih hebat dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau tahun 1883 dan Gunung Tambora tahun 1815.

Letusan Gunung Samalas atau Gunung Rinjani Tua itu bahkan mengakibatkan perubahan suhu di dunia dan membuat negara-negara bumi bagian utara tidak mengalami musim panas hingga tahun 1258.

Sebelum penelitian ini dilakukan, asal-muasal letusan dahsyat itu masih menjadi misteri. “[...] Kami berpendapat bahwa sumber letusan yang lama dicari ini adalah Gunung Samalas, bersebelahan dengan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Indonesia,” tulis Lavigne.


Peristiwa meletusnya Gunung Samalas juga tercatat secara tradisional dalam Babad Lombok yang ditulis dengan bahasa Jawa Kuno. Penelitian Lavigne dan timnya menyertakan catatan lama tersebut beserta terjemahannya. Berikut ini kutipannya:

“Gunung Rinjani longsor, Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati. Tujuh hari, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng, diseret batu gunung yang hanyut, semua orang berlari, sebagian naik ke bukit.”

Akibat letusan itu, Gunung Samaras musnah. Sebagai gantinya, terbentuk kaldera luas yang kemudian dikenal sebagai Danau Segara Anak dan muncul Gunung Barujari di tengahnya. Di sisi lain, Gunung Rinjani tetap anggun berdiri dengan menyimpan api yang masih bersemayam di dalam perutnya.

Baca juga artikel terkait GUNUNG RINJANI atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yonada Nancy
Editor: Iswara N Raditya
Kontributor: Yonada Nancy
DarkLight