Periksa Fakta

Video Menyesatkan: Keracunan Setelah Vaksinasi Corona

Oleh: Irma Garnesia - 9 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Video tersebut menunjukkan dampak penyakit bawaan pasca imunisasi difteri di sebuah pesantren pada 2018.
tirto.id - Sekitar Januari lalu, sebuah video beredar di media sosial Facebook. Video berdurasi kurang dari 1 menit tersebut menunjukkan kekacauan: Warga berlarian membopong anak-anak dan seorang ibu-ibu agar mendapat pertolongan.

Potongan video tersebut juga menunjukkan mereka yang mendapat pertolongan diinfus dan masih dalam keadaan lemah. Video yang sama juga disertai narasi sebagai berikut:

“Korban vaksin bergelimpangan. Usai disuntik vaksin Sinovac, ratusan warga terkapar. Dua sisi dunia kami torehkan dan ungkap kepada Anda melalui Catatan Hitam. Beredar video warga pingsan usai vaksin Covid-19.”
Selanjutnya, narasi dilanjutkan dengan potongan wawancara dengan yang menyatakan, “Uji klinis vaksin itu belum selesai. Kok tiba-tiba pemerintah memutuskan membeli vaksin jadi? Vaksin jadi Sinovac yang efektivitasnya belum teruji. Nah kemudian menurut ITAGI, tadi disampaikan, akan diberikan prioritas kepada tenaga kesehatan, front liners. Bagaimana mungkin?”


Potongan video ini salah satunya dibagikan oleh akun Facebook Chiwonkz pada 19 Januari 2021 (arsip). Video yang sama juga dibagikan oleh akun Facebook Ardi (arsip) dan akun Lucky Sikumbang (arsip). Narasi yang disematkan lewat tulisan kurang lebih sama, yakni bahaya vaksin Sinovac.

Lantas, benarkah kejadian yang mengorbankan beberapa orang ini disebabkan akibat vaksin Sinovac? Bagaimana fakta yang sebenarnya?


Penelusuran Fakta

Tirto menelusuri asal mula video tersebut menggunakan bantuan alat pengecekan video InVID. InVID akan memotong video tersebut berdasarkan tiap frame atau gambar, lalu setiap potongan gambar tersebut ditelusuri lebih jauh melalui Google Reverse Image.

Hasil penelusuran menunjukkan video tersebut berasal dari akun YouTube Catatan Hitam, meski telah dihapus. Video yang sama masih beredar di sini dan di sini. Sedikit catatan, akun YouTube Catatan Hitam memang kerap membagikan video sensasional yang perlu diteliti lagi kebenarannya.

Tirto juga mencari lebih jauh perkara vaksinasi yang menyebabkan orang-orang dibawa ke rumah sakit di media berbagi video, YouTube. Hasilnya, ditemukan video yang dibagikan akun Alavoula Chanel terkait Vaksinasi Difteri. Video tersebut dibagikan pada 11 Februari 2018 dan diberi judul "Waduh Usai Di Suntik Difteri ...Puluhan Santri Di Bawa Kerumah Sakit."

Setelah menyaksikan video dari Alavoula, kami melihat kesamaan frame pada detik 0:10 dari video Facebook dengan menit 1:06 dari video Alavoula. Terlihat ibu-ibu yang diinfus setelah mendapat pertolongan.

Periksa Fakta Video Palsu Keracunan Vaksin Corona
Periksa Fakta: Video Menyesatkan Keracunan Setelah Vaksinasi Corona. Facebook/Chiwonkz


Periksa Fakta Video Asli Keracunan Vaksin Corona
Periksa Fakta: Video Menyesatkan Keracunan Setelah Vaksinasi Corona. youtube/Alavoula Chanel


Bagian video yang sama selanjutnya adalah detik ke 0:17 di video Facebook dengan menit ke 1:15 di video Youtube. Terlihat Bapak-bapak yang membopong Ibu-ibu berjilbab merah. Kedua gambar tersebut merupakan orang yang sama, hanya terjadi perbedaan warna baju karena pengeditan video dan resolusi yang berbeda.

Periksa Fakta Video Palsu Keracunan Vaksin Corona
Periksa Fakta: Video Menyesatkan Keracunan Setelah Vaksinasi Corona. Facebook/Chiwonkz


Periksa Fakta Video Asli Keracunan Vaksin Corona
Periksa Fakta: Video Menyesatkan Keracunan Setelah Vaksinasi Corona. youtube/Alavoula Chanel


Sementara itu, kasus puluhan santri yang dikira keracunan diklarifikasi oleh Sekretariat Dinas Kesehatan Pamekasan Ali Maksum, dikutip dari kantor berita Antara. Ia menyatakan kasus puluhan santri Pesantrem Sumber Gayam yang tiba-tiba sakit dengan kondisi demam tinggi, mual, dan muntah-muntah disebabkan efek Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri.

"Bukan keracunan, tapi dampak penyakit bawaan pasca imunisasi difteri," jelasnya. Ia melanjutkan, efek imunisasi ini memang menyebabkan anak seperti mengalami keracunan, mual, dan muntah, tetapi ini hanya berlangsung sesaat dan tidak membahayakan tubuh manusia.

Selain itu, daerah bekas suntikan akan terasa sakit, bengkak dan kemerahan. Anak juga bisa menjadi rewel dan nafsu makan menurun. "Tapi, hasil koordinasi kami dengan petugas medis, kondisinya terpantau stabil," ujar Ali Maksum.

Tirto juga mengecek potongan wawancara petugas kesehatan di bagian video melalui InVID. Kami menemukan dalam potongan wawancara tersebut bahwa narasumbernya adalah Netty Prasetiyani, anggota DPR dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Potongan wawancara itu sendiri diambil dari Detik TV. Video itu dipublikasikan pada 5 Januari 2021 dan berjudul “KENAPA VAKSIN..? : PKS MINTA MENTERI KESEHATAN MENJAWAB INI”.

Dalam wawancara tersebut, Netty sempat mengucapkan kalimat, "waktu itu disebutkan adalah vaksin Sinovac yang sedang dilakukan uji klinis tahap tiga di Indonesia. Dan uji klinis itu belum selesai, interim-nya juga baru nanti awal 2021, kok tiba-tiba pemerintah memutuskan membeli vaksin jadi."

Berdasarkan kalimat ini, bisa diambil kesimpulan bahwa wawancara tersebut tidak berlangsung pada 2021. Setelah penelusuran lebih lanjut, ternyata wawancara yang sama dipublikasikan di situs fraksi.pks.id dengan judul "Aleg PKS Pertanyakan Keputusan Pemerintah Beli Vaksin Jadi Sinovac" pada 12 Desember 2020. Pada waktu itu, Netty juga menjelaskan bahwa uji klinis vaksin Sinovac belum selesai dan interim-nya baru awal 2021.

Catatan singkat, vaksin Sinovac telah resmi kantongi izin penggunaan darurat/ Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM pada 11 Januari 2021. Berdasarkan hasil uji klinik, vaksin CoronaVac Sinovac memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu.

Sesuai panduan World Health Organization (WHO) dalam pemberian persetujuan EUA untuk vaksin COVID-19 (Considerations for Evaluation of COVID-19 Vaccines), yaitu memiliki minimal data hasil pemantauan keamanan dan khasiat/efikasi selama 3 bulan pada uji klinik fase 3, dengan efikasi vaksin minimal 50%, maka Vaksin CoronaVac ini memenuhi persyaratan EUA.

Sementara itu, efikasi vaksin CoronaVac memenuhi standar minimal yang ditetapkan WHO. Hasil analisis uji klinik efikasi vaksin CoronaVac di Bandung menunjukkan efikasi sebesar 65,3%, di Turki sebesar 91,25%, serta di Brazil sebesar 78% Pada uji klinik fase tiga di Bandung, data imunogenisitas menunjukkan hasil yang baik.

"Jumlah subjek yang memiliki antibodi untuk melawan virus tersebut yaitu 99,74% setelah 14 hari penyuntikan dan 99,23% setelah 3 bulan," lanjut Kepala Badan POM Penny K. Lukito.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa video masyarakat yang keracunan setelah vaksinasi merupakan video lama vaksinasi difteri pada 2018. Selain itu, vaksin Sinovac sendiri telah memenuhi izin EUA BPOM dan menunjukkan uji efikasi sebesar 65,3%. Dengan demikian, video yang dibagikan di media sosial Facebook itu bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight