Periksa Fakta

Video Menteri-Menteri Sri Lanka Diinterogasi Warga, Benarkah?

Penulis: Irma Garnesia, tirto.id - 13 Jul 2022 16:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Tersebar sebuah video yang mengklaim jejeran menteri di Sri Lanka diinterogasi warga dan ditelanjangi.
tirto.id - Sejak 31 Maret lalu, kerusuhan terjadi di Sri Lanka, menyusul krisis ekonomi yang semakin memburuk, seperti dilaporkan Reuters. Krisis ini telah membuat Sri Lanka tak mampu membayar impor makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, sehingga menyulut aksi protes di jalanan.

Kondisi terbaru, protes masih berlanjut di ibu kota Sri Lanka, Kolombo. Masyarakat menduduki kantor Presiden Gotabaya Rajapaksa dan membakar rumah Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe selama dua hari berturut-turut. Mereka mengancam akan tetap bertahan hingga keduanya resmi mengundurkan diri, seperti dilaporkan berita Al Jazeera lainnya pada 10 Juli. Akhirnya, Presiden Gotabaya Rajapaksa dikabarkan akan mundur pada 13 Juli, dan PM Ranil Wickremesinghe juga bersedia mundur setelah pemerintahan baru terbentuk.

Sebagai tambahan informasi, pemerintahan Sri Lanka berjalan di bawah mandat keluarga Rajapaksa sejak 2005.

Di tengah kerusuhan yang terjadi, sosial media juga dipenuhi unggahan terkait kerusuhan di Sri Lanka. Salah satunya unggahan dari akun Twitter @FarihaNaqvi5 (tautan). Akun tersebut mengunggah sebuah video berdurasi 1 menit 30 detik yang menunjukkan beberapa pria yang berlutut di tengah warga. Pria-pria tersebut meminta ampun, sementara warga meneriaki mereka dan melakukan kekerasan fisik.

Akun Twitter @FarihaNaqvi5 mengklaim bahwa para pria ini merupakan jejeran menteri di pemerintahan Sri Lanka. Menurutnya pula, Pemerintah Pakistan telah melarang semua berita tentang Sri Lanka tersebar di negaranya agar tidak terjadi kejadian yang sama. Unggahan ini disebarkan pada 13 Mei 2022 dan per 13 Juli, telah disukai sebanyak 1.199 kali serta mendapat 807 retweet dan 148 quote tweet.

Periksa Fakta Video Perdana Menteri Sri Lanka
Periksa Fakta Video Perdana Menteri Sri Lanka Diinterogasi Warga. (Screenshot/Twitter/@FarihaNaqvi5)


Lantas, benarkah narasi yang tersebar ini?


Penelusuran Fakta

Tirto menelusuri informasi ini menggunakan alat analisis video, InVid. Alat telusur ini memberikan informasi terkait video yang diunggah dan juga memudahkan kita untuk mencocokkan key-frame video dengan gambar/video yang serupa di internet.

Setelah mendapatkan beberapa key-frame video, kami pun melakukan penelusuran gambar melalui YanDex. Hasil pencarian melalui YanDex membawa kami pada unggahan akun Twitter @DILIPKUMAR9990 pada 10 Mei 2022. Menurut cuitan tersebut, beberapa tahanan telah disuap untuk melakukan serangan pada pengunjuk rasa. Akun itu juga menambahkan tagar #GotaGoGama.

GotaGoGama sendiri merupakan sebuah situs yang dijalankan kelompok nirlaba dari kalangan anak muda untuk memfasilitasi pengelolaan tugas dan alat untuk mengakses informasi di tengah protes di Sri Lanka.

Dari sini, kami menelusuri lebih jauh mengenai anggota tahanan yang digunakan untuk menyerang kelompok demonstran Sri Lanka. Kami menemukan berita yang diunggah Times of India pada 12 Mei. Berita berbahasa Inggris itu berjudul “Penyelidikan Dilakukan Untuk Mengetahui Apakah Napi Digunakan Untuk Menyerang Demonstran Anti-Pemerintah”.

Menurut Times of India yang mengutip dari Komisioner Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Komjen Lapas), Thushara Upuldeniya, pengelola penjara-penjara di Sri Lanka tengah melakukan investigasi untuk menyelidiki tuduhan bahwa beberapa napi dari Watareka Open Prison Camp digunakan untuk menyerang para demonstran di Kolombo.

Times of India juga menyebut bahwa salah satu pria yang diteriaki warga di video yang beredar menyatakan bahwa mereka adalah tahanan dari Watareka Open Prison Camp. Menurut artikel itu pula, para pria yang ditahan warga tersebut mengenakan celana berwarna sama dengan orang-orang yang menyerang orang-orang yang melakukan protes damai di Kolombo.

Namun menurut Komjen Lapas, para pria tersebut tidak mengenakan seragam tahanan, namun mengenakan seragam yang disediakan oleh kelompok yang membayar mereka. Penyelidikan lebih lanjut akan dilanjutkan pada oleh Komisi Hak Asasi Manusia Sri Lanka dengan mendatangkan Komjen Lapas dan petugas lainnya.

Selain dari Times of India, lembaga pemeriksa fakta India Today juga menghubungi wartawan lokal Kolombo untuk mendapat konfirmasi. Dinesh De Alwis, seorang jurnalis dari Kolombo, mengkonfirmasi kepada India Today bahwa orang-orang yang terlihat dalam video tersebut bukanlah anggota parlemen. Dia menambahkan bahwa dalam video itu, para pria itu terdengar mengatakan bahwa mereka adalah tahanan.

Kemudian, menurut sebuah akun YouTube Hiru News, sebuah portal berita di Sri Lanka, video “para anggota lapas” tersebut viral di media sosial pasca terjadinya demonstrasi besar di Sri Lanka pada 9 Mei, dan bahwa terjadi penyerangan terhadap demonstran yang melakukan aksi damai.

Pada 10 Mei, Departemen Penjara Sri Lanka membantah klaim bahwa narapidana adalah bagian dari serangan tersebut. Namun, departemen tersebut mengkonfirmasi bahwa sekitar 58 dari 181 tahanan hilang saat diangkut ke penjara Watareka dari tiga lokasi konstruksi yang berbeda.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, tidak dapat dikonfirmasi bahwa para lelaki yang terdapat di video merupakan anggota lapas yang digunakan untuk menyerang para demonstran. Namun, dapat dipastikan bahwa mereka bukan merupakan jajaran menteri di pemerintahan Sri Lanka. Video yang tersebar di media sosial bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Politik)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight