Video Call Memang Bikin Penat, Anda Harus Punya Batasan yang Jelas

Ilsutrasi video call. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 23 Juni 2020
Dibaca Normal 4 menit
Ada berbagai faktor dalam video conference yang membuat penggunanya merasa lelah. Salah satunya ialah keharusan membaca bahasa nonverbal.
Berkomunikasi secara virtual memang lebih melelahkan. Pasalnya, otak bekerja lebih keras dalam mengelola informasi. Di samping itu, pada beberapa profesi, ada kalanya aktivitas video conferencing ini terasa lebih menantang lagi menguras energi.

Pada April 2017, jurnal Psychoanalytic Perspectives menerbitkan studi Sharyl Brahnam “Comparison of In-Person and Screen-Based Analysis Using Communication Models: A First Step Toward the Psychoanalysis of Telecommunications and Its Noise”. Brahnam menguraikan hasil studi kasus terhadap sesi konsultasi psikoanalisis yang dilakukan melalui aplikasi video conference Skype.

Ia menyebutkan beberapa hal yang membuat sesi konsultasi tidak seoptimal seperti ketika dilakukan dalam tatap muka. Tantangan pertama adalah aspek teknologi. Kegelisahan bisa muncul manakala psikiater dan klien tidak online secara bersamaan. Kondisi pencahayaan, posisi kamera, dan komposisi sudut, juga bisa membentuk persepsi tertentu terhadap lawan bicara—dalam kaitannya dengan pemaknaan gestur non-verbal. Ukuran layar pun juga berpengaruh terhadap persepsi orang dalam berinteraksi.

Lalu selama berinteraksi, psikiater cenderung ingin terus memastikan koneksi terus tersambung, salah satunya dengan lebih banyak bicara dengan klien meskipun hal yang dibicarakan adalah basa-basi. Hal ini sebetulnya mengganggu klien yang butuh momen untuk diam dan tenang dalam sesi konsultasi.

“Ketenangan dalam sesi konsultasi online justru tidak terlihat sebagai hal yang mudah dan baik dilakukan,” kata responden Brahnam. Bila momen tenang terjadi, masing-masing dari mereka akan mengungkap kalimat kegelisahan seperti, “Aku merasa kontak kita sudah terputus.”


Tantangan berikutnya adalah pengulangan pertanyaan yang mesti dilakukan psikiater untuk memastikan maksudnya tersampaikan dengan jelas. Tapi, hal ini justru membuat klien semakin merasa gelisah.

“Saat berkomunikasi langsung, pembicara bisa segera mengetahui hal yang harus dilakukan bila terjadi kesalahpahaman. Namun dalam komunikasi online, meski koneksi stabil, tetap saja ada hal yang berpotensi mengganggu proses psikiater dalam menganalisis. Mereka tidak tahu ada gangguan apa yang muncul, misalnya, notifikasi pesan pada layar atau ada aplikasi lain yang tiba-tiba menutupi layar aplikasi konsultasi".

Brahnam memandang para partisipan dihadapkan dengan berbagai pilihan aktivitas lain yang lebih menarik seperti browsing, online shopping, membaca pesan di email atau aplikasi pesan singkat. Dan semua hal itu bisa dilakukan dengan mudah, cepat, tanpa sepengetahuan lawan bicara dalam video conference.

Selain itu, hal yang juga jadi gangguan ialah keberadaan ponsel. Brahnam mengutip makalah "The Iphone Effect" (2014) yang menyebut bahwa keberadaan ponsel dan masuknya notifikasi menandakan bahwa individu adalah bagian dari jejaring sosial yang luas. Hal ini memengaruhi perhatian yang diberikan terhadap lawan bicara.

Brahnam menyebut gangguan yang terjadi dalam komunikasi virtual tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan dan dalam ranah psikoanalisis, yang diperlukan adalah pemahaman / analisis psikologis terhadap komunikasi virtual--dari sisi ekspresi non verbal—karena keberadaan teknologi menurut studi ini tidak akan membuat segala sesuatu tampil apa adanya.

Batasan Jadi Penting

K, berusia pertengahan 30an, adalah pekerja di sektor trust and safety online. Bercerita soal kepenatan akibat pekerjaan yang membuatnya berada di depan layar hampir 24 jam untuk memantau perilaku individu, publik, dan kebijakan pemerintah termasuk produk digital yang mereka gunakan. Jam kerja yang panjang itu juga diakibatkan oleh koordinasi urusan kantor lintas negara yang harus dilakukan.

Pada bulan kedua kerja dari rumah, K mulai merasakan ekses penggunaan media sosial. “Banyak dari perilaku manusia yang cenderung mengakibatkan risiko kepada orang lain termasuk di dalamnya praktik false/misleading information, dan penyebarluasan teori teori konspirasi,” tulisnya lewat email kepada Tirto.

Kondisi kerja ini turut berdampak pada kondisi mental K. “Panen fake news, misleading information, hampir di semua platform komunikasi digital dan tentu saja sangat melelahkan melihat informasi dan data yang disalahgunakan sedemikian rupa, sebagai bagian propaganda, alat merawat kekuasaan, monetisasi uang berbasis digital atau sekadar hobi dan iseng saja dari banyak orang. Itu melelahkan lahir batin.”

K pun mencoba menjaga kesehatan dengan disiplin dalam menaati waktu istirahat--tidur, menonton film, mengisi TTS, berolahraga tiga kali dalam seminggu, dan memanfaatkan fasilitas wellness communication yang disediakan kantornya.

“Jika kita tidak pintar-pintar membagi waktu, maka kita sendiri yang membuat perangkap bagi diri kita.”

K menganggap penggunaan berbagai aplikasi video conference itu penting lantaran bisa dimanfaatkan sesuai fungsi. “Aku pakai Go/Meet untuk urusan kantor (koordinasi kerja bisa dipadatkan dalam sehari dan dilakukan seminggu sekali), WhatsApp video call untuk keluarga di rumah, dan FaceTime untuk pacaran. Proliferasi apps aku pikir penting khususnya untuk menjaga ruang privasi, tentu saja seperti FaceTime, yang tidak menunjukkan kita online—bisa berujung pada ajakan mengobrol yang melelahkan.”

Baginya, penggunaan aplikasi video conference maupun video streaming seperti IG Live tidak mampu memberi fungsi hiburan yang maksimal. “Karena menatap ponsel dengan ukuran selebar tidak lebih dari telapak tangan manusia sebenarnya juga melelahkan secara visual.”




Selain pekerja, mahasiswa juga menanggung tantangan dalam berinteraksi via aplikasi video conference. Indah Syamsuddin, 21 tahun, mahasiswi Universitas Halu Oleo Kendari bercerita kepada Tirto bahwa kepenatannya muncul pada Mei 2020, bulan kedua kuliah dari rumah. Indah masih harus mengikuti kelas sekaligus mulai menyusun skripsi.

“Aku merasa emosi jadi tidak stabil karena jadi cepat marah. Mungkin karena udah capek sama urusan kuliah dan kepala juga sudah pusing karena efek cahaya dari layar PC, jadinya masalah kecil sama orang rumah atau keluarga di rumah bisa bikin aku marah-marah,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.

Dalam satu minggu Indah mesti mengikuti tiga sampai empat hari kuliah. Dalam satu hari setidaknya ada dua sampai tiga mata kuliah dengan durasi masing-masing 2-3 jam. “Belum lagi harus mengerjakan tugas. Jadi dalam sehari paling enggak ada di depan komputer 8-10 jam. Buat aku itu rasanya sudah capek banget. Istirahat ya paling satu jam,” katanya.

Rasa lelah semakin terasa karena dosen mengajar sesuai materi yang disiapkan. “Tidak ada waktu buat bercerita tentang hal-hal di luar materi perkuliahan. Enggak ada sedikit lawakan di kelas. Walaupun lawakannya receh, tapi setidaknya bikin suasana kelas jadi ramai.”

Ia mengobati penat dengan beristirahat dan menonton film lewat layanan streaming. Komunikasi dengan teman via video call pun bukan opsi relaksasi bagi Indah.


Tantangan ekstra dalam berkomunikasi via video conference juga diungkap BBC
lewat hasil wawancara dengan Gianpiero Petriglieri, dosen di sekolah bisnis di Perancis, INSEAD, dan Marissa Shuffler, dosen Clemson University, South Carolina, Amerika Serikat.

Petiglieri menyebut bahwa individu mesti lebih berkonsentrasi dalam memproses bahasa non-verbal—memahami ekspresi wajah, nada suara, dan gerakan—dalam berkomunikasi via video. “Hal ini membuat komunikasi jadi melelahkan dan tidak bisa berjalan dengan natural,” kata Petriglieri.

Di samping itu, menurutnya, komunikasi yang dilakukan lewat video mengingatkan seseorang terhadap orang yang “hilang” dari hidup mereka. Dalam artian, mereka yang seharusnya bisa ditemui secara langsung, terpaksa harus dihubungi via daring untuk sementara. “Ini membuat orang extrovert maupun introvert merasa tidak nyaman. Selama pandemi, kita mengalami gangguan terhadap hal yang tadinya terasa familiar.”

Menurut Petriglieri, individu memiliki berbagai macam aspek dalam dirinya diantaranya peran dalam kehidupan sosial dan hubungan dengan pasangan. Di tengah pandemi, keragaman dimensi itu terganggu sehingga lebih mudah membuat individu terpicu merasakan emosi negatif.

Video call beramai-ramai sambil melakukan aktivitas bersama seperti memasak atau makan sebetulnya juga bukan cara untuk membuat kegiatan video call menyenangkan. “Aktivitas ini kerap jadi aksi performatif saja. Orang merasa sungkan bila tidak bergabung. Mereka tidak akan selelah itu jika aktivitas tersebut benar-benar menyenangkan atau membuat mereka lebih santai,” tutur Shuffler.

Menurut mereka, hal yang bisa jadi solusi untuk meredakan kepenatan video call adalah memberi jeda antar video call dan isi jeda tersebut dengan berolahraga atau bersantai. “Batasan jadi hal penting di sini. Kita harus membagi mana untuk urusan kerja dan mana untuk urusan privat.”

Ketimbang sibuk melakukan video conference, Petriglieri menyarankan sesekali menulis surat kepada orang dekat untuk menunjukkan perhatian kita kepadanya.

Baca juga artikel terkait VIDEO CALL atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight