Via Vallen, Fat Shaming dan Dampak Ejekan Perempuan Gendut

Oleh: Yulaika Ramadhani - 8 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
Apakah “fat shaming” benar-benar bisa dipakai untuk memotivasi seseorang?
tirto.id - Via Vallen tengah menjadi pembicaraan, lantaran penampilannya yang berbeda di panggung Indonesia Dangdut Awards 2019.

Pendangdut yang lagunya "Selow" menang sebagai Lagu Dangdut Terpopuler 2019 ini terlihat lebih gemuk. Instagram Via Vallen juga ramai dengan komentar warganet terkait berat badannya.

"Gendut. Asli beda banget."
"Wow. Tambah kayak bakpao pipinya. Diet Mbak."

Komentar-komentar warganet ini bisa dikategorikan sebagai "Fat Shaming". Satu hal beracun yang kerap membuat depresi.

"Fat shaming" adalah budaya mengkritik dengan bumbu ejekan yang awalnya ditujukan bagi pengidap obesitas agar termotivasi menguruskan badannya. Sayang, mereka kerap malah depresi berkepanjangan dan makin menambah asupan kalorinya.

Apakah “fat shaming” benar-benar bisa dipakai untuk memotivasi seseorang?

Kesimpulan dari para peneliti yang mempublikasikan temuannya di Jurnal National Center for Biotechnology Information (NCBI) mengungkapkan, bahwa alih-alih memotivasi subjek yang dikritik untuk lebih berusaha agar makin kurus, “fat shaming” justru membuat mereka makin gemuk.

Kenapa demikian?

Korban “fat shaming” rata-rata akan mengalami depresi, stress, dan penurunan “self esteem” alias harga diri dengan sangat drastis.

Di dalam kondisi yang demikian dan dalam jangka waktu yang panjang, orang-orang gemuk yang menjadi responden penelitian NCBI itu justru terdorong untuk menambah asupan kalori. Mereka makin menjerumuskan diri ke dalam pola makan yang keliru (dan yang selama ini berkontribusi terhadap berat badan mereka).

Dalam
Jangan Mengejek Orang Gendut! disebutkan, “Fat shaming” adalah contoh penyimpangan dari pepatah “niat yang baik butuh tindakan yang baik pula.” Misi suci yang dibungkus dengan kata-kata yang menyakiti hati pada akhirnya berbuah kegagalan.


Bagaimana Diet yang Berlebihan Merusak Tubuhmu

Simaklah apa yang terjadi pada
Sojung, penyanyi lulusan The Voice of Korea 2012 yang mempunyai tinggi 163 cm. Dia telah menurunkan berat badannya dari 49 kg menjadi 38 kg.

Ia merasa perlu menurunkan berat badan karena, selain tuntutan manajemen, merasa efek kamera akan membuat tubuhnya terlihat menjadi lebih gemuk. Tersirat bahwa ia menyadari badannya sudah kurus, namun itu tidak cukup karena kamera bisa saja membuat tubuhnya tampak lebih gemuk dari yang sebenarnya.

Ia sebenarnya merasakan sesuatu yang tidak tepat. Sojung merasa ada yang tidak beres dengan penurunan berat badannya.

"Tingkat hormon saya sekarang (serupa dengan) wanita menopause," katanya.

Perhatikan juga apa yang dialami penyanyi Park Bo-ram. Ia pernah membuat pengakuan pada salah satu episode reality show "King of Mask Singer" bahwa rentang vokalnya menjadi sangat terbatas setelah kehilangan berat badan yang signifikan. Saat itu ia merujuk penyusutan berat badan sebanyak 32 kg.

Tidak hanya mereka yang sedang mengejar obsesi menjadi artis atau aktor saja yang mempunyai kecenderungan menurunkan berat badan secara ketat. Secara umum, bisa dikatakan bahwa lebih banyak orang yang percaya bahwa tubuh kurus lebih baik daripada kegemukan. Kiranya, situasi itulah yang memicu kemunculan dan popularitas berbagai model diet.

Foto Via Vallen di Instagram

Baca juga artikel terkait FAT SHAMING atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight