Menuju konten utama

Veere Di Wedding: Betapa Repotnya Jadi Perempuan di India

Film drama-komedi teranyar Shashanka Gosh ini memang punya bolong di sana-sini, tapi kedalaman akting dan interpretasi naskah yang berani justru menyelamatkannya.

Veere Di Wedding: Betapa Repotnya Jadi Perempuan di India
Adegan film Veere Di Wedding. FOTO/Youtube

tirto.id - Nama Kareena Kapoor pasti tak asing di telinga, setidaknya bagi penggemar Bollywood, dan generasi milenial yang hidup ketika Kabhi Khushi Kabhie Gham (Karan Johar, 2001) tengah berjaya. Aktris bermata hijau dan hidung bengkok ini tampil mencolok sebagai Pooja Sharma yang centil dalam film itu.

Sebagai pendatang baru, karisma Kareena tak kalah terang saat bersanding megabintang seperti Sharukh Khan, Hrithik Roshan, Kajol, bahkan Amitabh Bachchan. Ia berhasil membikin karakter Pooja hidup dan jadi bagian penting dalam film drama keluarga berdurasi 3,5 jam itu. Terbukti, setelah jadi Pooja, karier Kareena melambung dan langsung masuk deretan megabintang di tanah Bollywood.

Asoka (2001), Mujhse Dosti Karoge (2002), Ra.One (2011), dan Three Idiots (2009) adalah sedikit dari jejeran film Kareena yang tembus pasar internasional dan tentu saja jadi raja di India.

Tahun ini ia kembali bikin gebrakan dengan Veere Di Wedding (selanjutnya disebut Veere), sebuah drama-komedi yang disutradarai Shashanka Gosh. Film ini istimewa bagi penggemar Kareena, sebab Veere adalah film pertamanya pasca-cuti hamil dan melahirkan. Sang megabintang untuk pertama kali dalam 19 tahun kariernya, tak mengeluarkan satu film pun selama 2017 kemarin. Walhasil, kehadiran Veere cukup dinantikan.

Tak heran, sebentar saja ia sudah jadi film laris di India dan meraup keuntungan fantastis di seluruh dunia. Per 1 Juni lalu penjualan tiket sudah mencapai 12 juta dolar AS dan diperkirakan akan terus bertambah.

Membawa Isu Kontroversial

Dalam Veere, Kareena berperan jadi Kalindi—alias Kaloo—seorang perempuan di ujung kepala dua yang takut pernikahan, tapi diajak menikah oleh pacarnya, Rishabh (Sumeet Vyas). Awalnya Kaloo ragu, sebab ia punya trauma: ibunya bunuh diri setelah bercerai dengan ayahnya—yang menikah lagi dengan perempuan yang jauh lebih muda. Saat remaja, Kaloo juga sering mendengar ibu dan ayahnya bertengkar, meski selalu kelihatan baik-baik saja di depan mukanya.

Namun, keraguan Kaloo sirna karena cintanya pada Rishabh. Ia ingin melihat pria yang sudah dipacarinya tiga tahun itu bahagia.

Sambil menunggu hari pernikahan Kaloo dan Rishabh, kita digiring Ghosh untuk berkenalan dengan tiga karakter utama lainnya: Avni (Sonam Kapoor), Meera (Shika Talsania), dan Sakshi (Swara Bashkar). Mereka adalah sahabat kental Kaloo sejak sekolah—sekaligus “keluarga” tempatnya mengadu, setelah ibunya tiada dan hubungan dengan sang ayah merenggang.

Meski genre utamanya adalah komedi, tapi naskah Veere hadir mengupas isu serius tentang posisi perempuan dalam masyarakat.

Kalindii, sang calon pengantin adalah perempuan muda modern, yang sekolah di Australia. Setelah menerima lamaran Rishabh, ia harus rela dililit adat dan ritual pernikahan oleh keluarga calon suami—sesuatu yang bertolak belakang dengan prinsip pribadinya.

Lalu ada Avni, wanita karier di ujung 20-an yang terus-terusan didesak ibunya menikah karena takut sang anak dicap perawan tua atau lesbian. Lewat perspektif Avni, kita akan ikutan tersedak melihat bagaimana norma sosial menjerat leher seorang perempuan muda: tak seperti pria, perempuan seolah-olah punya masa kedaluwarsa yang kelak diyakini Ibu Avni (Neena Gupta) akan memengaruhi masa depan anaknya.

Pergumulan Sakhsi tak kalah bikin sesak napas. Jadi anak taipan memang mempermudah sebagian hidup Sakshi, misalnya ia tak perlu pikir panjang kalau mau beli ini-itu, atau pergi ke sana-kemari. Tapi, gengsi yang dibawa orang-orang kaya bersama status sosialnya juga bukan perkara mudah. Ada reputasi yang harus ia jaga dari cibiran orang-orang. Itu sebabnya, Sakshi susah payah merahasiakan rencana perceraiannya dari sang orangtua. Pertama, karena pernikahan itu masih seumur jagung; Kedua, karena perceraian meninggalkan cap lebih buruk dan tebal di kening janda daripada duda, dan ketiga karena biaya pernikahannya yang kelewat besar akan jadi uang mubazir belaka.

Lalu terakhir ada Meera, ibu muda yang harus punya masalah ranjang setelah melahirkan, dan tidak direstui ayahnya karena menikah dengan bule. Meera juga punya hubungan cinta dan benci dengan ukuran tubuhnya yang sedikit lebih besar dari tiga kawan lain.

Empat karakter ini adalah menggambarkan problem-problem khas yang dihadapi perempuan terdidik di perkotaan, beserta cara masing-masing karakter mengambil sikap. Tiap karakter mewakili satu fase: Kalindi, fase perempuan yang akan menikah; Avni, perempuan yang belum menikah; Sakshi, perempuan yang akan bercerai; sementara Meera mewakili perempuan yang sudah menikah dan punya anak. Isu yang mereka hadapi dekat dengan generasi Milenial. Sehingga Veere (bahasa Hindi yang berarti kawan) akan dengan mudah menggambarkan macam-macam intrik yang melilit tubuh perempuan.

Veere pun jadi film yang asyik untuk berefleksi. Terlebih lagi, kultur orang India yang sama patriarkisnya dengan orang Indonesia, membuat permasalahan empat tokoh utama Veere terasa makin dekat.

Hal itu cuma bisa terwujud karena dua hal: pertama, kedalaman naskah menggali karakter-karakter utamanya, dan kedua karena para aktor berhasil menginterpretasikan kedalaman tersebut lewat lakon mereka.

Jadi Kalindi memang bukan penampilan terbaik Kareena. Aktingnya pernah lebih membius saat jadi Kaurwaki dalam Asoka, atau Tina Kapoor dalam Mujhse Dosti Karoge. Namun ia berhasil menjalin ikatan yang kuat dengan Sonam, Shika, dan Swara. Meski jadi tokoh utama, Kalindi berhasil tampil tak terlalu dominan. Sehingga persahabatan empat sekawan itu terasa nyata seperti perkawanan dalam realitas sehari-hari. Kareena tak muncul sebagai Nicole Scherzinger di antara kawan-kawannya yang lain—yang sebetulnya amat berpotensi jadi The Pussycat Dolls belaka. Dan itu adalah poin bagus.

Infografik Veere di wedding

Sayang, teknik penyutradaraan Ghosh bikin film ini punya catatan jelek. Ia tak detail di bagian penyuntingan dan pengambilan gambar. Tak perlu jadi orang yang super-jeli untuk melihat kekurangan-kekurangan tersebut. Ada banyak potongan adegan yang disusun tak rapi, sehingga sejumlah objek akan hilang timbul dalam frame.

Misalnya asbak rokok dan tas dalam beberapa adegan mereka di sebuah hotel di Phuket, Thailand. Atau hal kecil lainnya yang sebenarnya tak butuh ketelitian tingkat tinggi tapi tetap terlewat, seperti jam di ponsel Kaloo yang tak sama dengan jam weker di kamarnya, atau layar iPhone-nya yang tetap menyala saat sudah disampirkan ke telinga.

Namun keteledoran-keteledoran Ghosh ini tak mengurangi pesan besar yang dibawa naskah Veere. Amanat tentang perempuan yang harus dibiarkan dan diberi jalan untuk menentukan nasib sendiri jadi solusi yang tebal.

Ada beberapa adegan yang kuat diselipkan Ghosh di ujung film, yang ingin bilang bahwa tak masalah perempuan menunda nikah, jadi janda, masturbasi, bahkan melamar pria lebih dulu. Tak ada satu pun dari hal-hal kontroversial tersebut yang mampu mengurangi kadar kemanusiaan seorang perempuan, sehingga posisinya jadi lebih rendah dari siapa pun.

Veere tegas ingin bilang, kalau perempuan tetaplah perempuan, tak peduli seberapa kontroversialnya pilihan hidup mereka. Sebab seperti siapa pun, pilihan para perempuan ada di tangan mereka sendiri.

Baca juga artikel terkait BOLLYWOOD atau tulisan lainnya dari Aulia Adam

tirto.id - Film
Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf