Vasektomi Hanya 15 Menit, Seks Abadi

Ilustrasi vasektomi. Getty Images/iStockphoto
Oleh: M Faisal - 31 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Vasektomi bukanlah akhir dari segalanya.
tirto.id - Perasaan Neil Lyndon hari itu tak karuan. Ia dijadwalkan bertemu dengan dokter dan melakukan hal yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Namun, ia berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Di ruang sang dokter, ia diminta melepas semua pakaiannya dan berbaring di tempat tidur. Setelah Lyndon bersenandung untuk mengatasi gugup, sang dokter akhirnya datang dan sudah siap dengan perkakas medisnya. Ketakutan Lyndon jadi kenyataan. Kombinasi jarum suntik dan pisau operasi telah membuatnya terkungkung penderitaan—berteriak dan menangis untuk melepaskan diri dari siksaan.

“Ayolah,” kata sang dokter, “enggak seburuk itu, kok!”

Vasektomi: Solusi Mencari Kontrasepsi Abadi

Cerita di atas merupakan pengalaman pribadi Neil Lyndon dalam menjalani vasektomi. Kisah berjudul “Having a vasectomy: what they don’t tell you” itu dimuat di Telegraph pada Oktober 2017. Lyndon melakukan vasektomi sekitar delapan tahun silam.

Mulanya ia ragu untuk vasektomi. Namun, setelah mendengar seorang temannya yang berbunyi, “Vasektomi adalah pemberian paling penuh kasih dari seorang suami kepada istrinya,” Lyndon langsung membulatkan tekad.

Tujuan melakukan vasektomi agar tidak lagi memiliki anak. Bukannya apa-apa, usianya sudah di atas 50 tahun, sedangkan istrinya 20 tahun lebih muda. Anak mereka sudah tiga. Dengan kondisi tersebut, usai kelahiran putri keduanya pada 2005, ia memutuskan untuk “memastikan tidak ada yang lain.”


Ranjith Ramasamy dan Peter Schlegel dalam “Vasectomy and vasectomy reversal: An update” (2011) yang dipublikasikan Indian Journal of Urology menyebutkan, vasektomi merupakan prosedur bedah sterilisasi yang dimaksudkan untuk mencegah—atau menghentikan—laju sel sperma bergerak dari testis menuju saluran ejakulasi.

Penggunaan vasektomi di tiap negara berbeda-beda. Di Selandia Baru, 25% pasangan melakukan vasektomi. Amerika Serikat, 7-10% pasangan yang sudah menikah juga melakukan hal serupa. Sementara penggunaan vasektomi paling tinggi terjadi di Bhutan dengan angka 40%.

Seperti yang dijelaskan National Health Service UK, proses vasektomi dilakukan dengan anestesi (pembiusan) lokal. Artinya, saat operasi dilakukan, pasien akan sadar dan hanya bagian tertentu saja seperti testis dan skrotum (kantung testis) yang mati rasa. Bagi yang ingin menghindari anestesi lokal, ada opsi lain dengan bius umum yang bakal membuat pasien tidur pulas selama operasi. Proses vasektomi memakan waktu sekitar 15 menit.

Ada dua teknik vasektomi. Pertama, vasektomi tradisional. Vasektomi jenis ini menggunakan pisau bedah untuk membuat dua sayatan kecil di skrotum. Kedua, vasektomi tanpa pisau bedah. Metode tersebut menekankan pada penggunaan forsep kecil untuk membuka lubang kecil di skrotum tanpa musti memotong kulit dengan pisau bedah. Konsekuensi yang ditimbulkan: sedikit pendarahan, tidak ada jahitan, tapi cenderung mendatangkan komplikasi dibanding teknik konvensional.



Usai melakukan vasektomi, pasien akan merasa sedikit tidak nyaman. Skrotum menjadi bengkak, memar, kesakitan, hingga muncul darah dalam air mani saat ejakulasi pertama selepas vasektomi. Menurut National Health Service, gejala-gejala tersebut merupakan “hal yang wajar.”

Jamin Brahmbhatt, ahli urologi dan kesehatan pria di Orlando Health mengungkapkan banyak orang mengira fase-fase awal usai vasektomi merupakan fase yang mudah. Padahal, menurut Brahmbhatt, tidaklah demikian. Pantangannya berat karena pasien dianjurkan untuk tidak masturbasi, berhubungan seks, pergi ke gym, sampai bekerja.

“Kesalahan terbesar yang kita lihat adalah bahwa orang berpikir mereka mampu kembali beraktivitas seperti semula dalam beberapa hari (usai vasektomi),” ungkapnya dilansir Men’s Health.


Berhasil melakukan vasektomi bukan berarti bebas dari segala prosedur medis yang ada. Guna memastikan air mani yang dikeluarkan tidak mengandung sel sperma, maka, pasien harus melakukan 20 kali uji sampel—atau selama delapan minggu pasca vasektomi—untuk benar-benar “membersihkan” air maninya dari sperma.

Pasien yang ingin melakukan hubungan badan pada tahapan ini dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi, sebab air mani masih berisiko mengandung sperma dan berpotensi dapat membuahi sel telur. Apabila vasektomi dianggap berhasil, barulah pasien bisa berhenti menggunakan alat bantu kontrasepsi dengan catatan: walaupun vasektomi berhasil, pria masih mempunyai sejumlah kecil sel sperma dalam alat vitalnya. Namun, sel sperma ini tidak bergerak layaknya dalam kondisi normal.

Yang perlu diluruskan dari vasektomi, masih menurut National Health Service, adalah pasien masih bisa mengalami ereksi maupun ejakulasi secara normal. Satu-satunya perbedaan yaitu air mani pasien tidak lagi mengandung sperma. Karena pada dasarnya, vasektomi bertujuan untuk menghentikan laju sel sperma agar tidak membuahi sel telur yang nantinya dapat berujung pada kehamilan. Sederhananya, vasektomi adalah kondom permanen.


Meski ditujukan untuk sterilisasi sperma yang sifatnya permanen, sel sperma pasien masih bisa “dikembalikan seperti sedia kala” dengan proses pembalikan vasektomi (vasectomy reversal). Biasanya, proses ini ditempuh mereka yang ingin mengembalikan kesuburan untuk tujuan reproduksi (menambah anak).

Penelitian Ramasamy dan Schlegel menunjukkan faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembalikan vasektomi antara lain riwayat menyeluruh tentang pasangan, durasi waktu usai vasektomi, serta kondisi alat vital pria. Studi baru-baru ini, seperti dilansir National Health Service, menjelaskan bahwa apabila pembalikan dilakukan dalam waktu 10 tahun selepas vasektomi, maka tingkat keberhasilannya sekitar 55%. Angka itu akan turun jadi 25% tatkala pembalikan dilakukan lebih dari 10 tahun selepas bergelut dengan vasektomi.

Para dokter memperingatkan prosedur pembalikan tidak selalu berhasil. Menurut mereka, peluang berhasil cukup tinggi jika dilakukan dengan sesegera mungkin—dalam artian tidak ditempuh 10 tahun atau lebih usai vasektomi.

Selain hitung-hitungan rasio keberhasilan yang tidak bisa diprediksi, proses pembalikan juga terkendala dengan harga cukup mahal. Ongkos yang dikeluarkan untuk pembalikan vasektomi bisa mencapai $8.000 hingga $20.000.

Memuncaknya Gairah Seks

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang muncul dari vasektomi ialah bagaimana dengan kehidupan seksual pasangan bersangkutan? Apakah bakal berdampak besar, seperti tidak lagi ada kegairahan, mengingat sel sperma sudah “dipaksa berhenti”?

Departemen Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Stanford menjawab tidak. Guo, Lamberts, dan Eisenberg dalam “Relationship between Vasectomy and Sexual Frequency” (2015) yang diterbitkan International Society for Sexual Medicine menyatakan sebanyak 353 responden pria dengan vasektomi, dari total 4.038 yang diteliti, memiliki frekuensi hubungan seksual rata-rata 5,9 kali setiap bulan. Sedangkan pria yang tidak bervasektomi melakukan seks dengan rata-rata 4,9 per bulan.


Sedangkan Tobias Engl, Sarah Hallmen, Wolf-D. Beecken, Peter Rubenwolf, Elmar-W. Gerharz, dan Stefan Vallo dari Polish Urological Association dalam “Impact of vasectomy on the sexual satisfication of couples: experience from a specialized clinic” (2017) yang diterbitkan Central European Journal of Urology menyatakan pria dengan vasektomi memiliki hasil yang baik dalam urusan ereksi, orgasme, hasrat seksual, serta kepuasan hubungan seksual.

Hasil riset menambahkan, vasektomi tidak memberikan dampak negatif pada kepuasan seksual pasangan bersangkutan. Riset tersebut menggambarkan bahwa “kepuasan seksual membaik bagi pria dengan vasektomi sementara kepuasan seksual pasangannya tidak berkurang.” Artinya ialah vasektomi tidak mengakibatkan—atau terkait—dengan adanya penurunan frekuensi seksual bagi pasangan.

Sperma boleh mati, tapi gairah bercinta akan terus abadi.

Baca juga artikel terkait SEKS atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf
DarkLight