Valverde Bukan Satu-Satunya Biang Kegagalan Barcelona

Oleh: Renalto Setiawan - 27 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ernesto Valverde dituntut mundur oleh para penggemar Barcelona. Setelah gagal di Liga Champions serta kalah dari Valencia, gaya pragmatis mantan pelatih Bilbao tersebut dinilai tidak cocok untuk Blaugrana.
tirto.id - “15 hari lalu,” kata Ernesto Valverde, pelatih Barcelona, di depan para wartawan, “kami [Barcelona] masih berpikir bisa memenangi tiga gelar. Namun pada akhirnya, itu tak pernah menjadi kenyaatan.”

Valverde melemparkan pernyataan itu setelah Barcelona kalah 1-2 dari Valencia dalam laga final Copa del Rey 2019 di Stadion Benito Villamarin, Sevilla, Ahad (26/05/19) dini hari. Ia menambahkan, dalam pertandingan itu Barcelona terlalu sering membuang peluang dan Valencia mampu memberikan hukuman yang sepadan.

Namun, fans Barcelona ternyata tak terima dengan pernyataan sang pelatih. Menurut mereka, Valverde sendirilah yang membikin Blaugrana kalah.

Setelah kekalahan itu, fans Barcelona menuntut Valverde segera meninggalkan jabatannya. Namun, saat tuntutan itu terdengar semakin kencang, mantan pelatih Athletic Bilbao itu justru mendapatkan banyak pembelaan. Para pemain seperti Gerrard Pique dan Lionel Messi memilih pasang badan. Hal serupa juga dilakukan Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu.

“Valverde [masih] mempuyai kontrak. Para pemain bermain bagus, kami mampu menguasai bola tapi Valencia mampu mencetak lebih banyak gol. Kekalahan kami hari ini, bukanlah karena kesalahan Valverde,” tutur Bartomeu.

Sejak mejadi pelatih Barca pada awal musim panas 2017, Valverde punya prestasi yang tidak bisa disepelekan. Selama dua musim berada di Camp Nou, ia berhasil mempersembahkan dua gelar La Liga (musim 2017-2018 dan 2018-2019) serta gelar Copa del Rey 2018.

Selain itu, Valverde hanya mengalami 4 kali kekalahan selama memimpin Barcelona dalam 74 pertandingan liga. Itu pun, kata Sid Lowe, jurnalis sepakbola Spanyol, “dua di antaranya terjadi setelah Barcelona dipastikan menjadi juara liga.”


Tak Lagi Utamakan Permainan Indah

Sayangnya, Barcelona menjadi sebuah tim yang berbeda di bawah asuhan Valverde. Meski masih bermain menyerang dan berpusat kepada Lionel Messi, mereka tidak lagi mengutamakan permainan indah. Barca tampak kaku dan tak menarik: Di mana juego de posicion yang menjadi daya tarik Barcelona pada era Pep Guardiola? Mengapa ia bermain lebih pragmatis dan cenderung konservatif?

Pada era Pep Guardiola, permainan elegan Barcelona tentu datang bukan tanpa sebab. Selain memiliki pemain-pemain tengah di atas rata-rata yang mampu memberikan dukungan terhadap juego de posicion hingga menembus batas-batas imajinasi, mereka juga memiliki cara bertahan yang tak kalah mengagumkan. Menyoal cara bertahan itu, mantan koordinator La Masia, Albert Capellas menyebutnya dengan istilah “Pep’s Four Golden Rules

Menurut Capellas, dalam pendekatan bertahan itu, Pep punya empat tahapan: (1) Pressure on the ball, yakni melakukan counter-pressing segera setelah kehilangan bola dengan tujuan untuk merebut bola secepat mungkin dari pemain lawan; (2) five-second rule, yakni pemain-pemain Barcelona akan mundur ke belakang apabila counter-pressing gagal setelah lima detik dilakukan.

Kemudian (3) 3-1 rule, yakni pemain-pemain Barcelona tak boleh kalah kuantitas pemain saat bertahan, dan (4) one-second rule, yakni para pemain Barcelona harus mampu memahami perubahan cara bertahan dengan cepat. Dan, pendekatan itu harus dilakukan secara berurutan.

Sayangnya, cara bertahan Barcelona ala Pep ini tidak dapat dilakukan dengan mudah. Selain cukup rumit, Barcelona juga membutuhkan waktu untuk menyempurnakannya. Masalahnya, Valverde sekarang ternyata tidak mempunyai modal utamanya: pemain-pemain kelas satu.


Strategi Bertahan

Dalam salah satu analisnya di The Athletic, Kevin Willams menilai Barcelona yang sekarang, tidak punya tipe penyerang yang mampu memberikan tekanan terhadap pertahanan lawan segera setelah kehilangan bola, seperti Thierry Henry dan Samuel Eto’o. Selain itu, Messi juga bukan lagi pemain yang sama dengan tahun 2011, yang sama aktifnya baik saat menyerang maupun bertahan.

Hal tersebut ditambah ketidakmampuan duet full-back Barcelona, Sergio Roberto serta Jordi Alba menjalani peran Daniel Alves serta Eric Abidal dulu, serta mulai lambatnya Sergio Busquets di depan garis pertahanan Barca. Valverde tentu akan bunuh diri jika memaksa melakukan pendekatan Pep Guardiola. Akhirnya, Valverde pun memilih jalan pintas: bermain bertahan dengan cara yang lebih konservatif.

“Barcelona, pada era jayanya di bawah asuhan Pep, mampu menyerang dan bertahan dengan 11 pemain. Hari ini, mereka menyerang dengan 11 pemain dan bertahan hanya dengan 7 pemain. Belum lagi, Valverde harus mengakali usia pemain-pemain bintang Barca yang sudah tak lagi muda,” tulis Williams,

Hitung-hitungan statistik dari Five Thirthy Eigh memperkuat analisis Williams tersebut: musim ini rata-rata pressing Barcelona hanya mencapai 47,2%, terendah sejak musim 2010-2011.

Pendekatan Valverde dalam bertahan tentu juga berimbas terhadap cara Barcelona menyerang. Jika mereka memaksa bermain lebih cair seperti sebelumnya dengan sering melakukan permutasi posisi pemain, keseimbangan Barca tentu akan terganggu. Maka, dalam menyerang, Valverde pun memilih memberikan tanggung jawab lebih besar terhadap Lionel Messi daripada sebelumnya.

Sekali lagi, catatan statistik dari Five Thirty Eigh pun mampu memberikan bukti pentingnya peran Messi dalam pendekatan menyerang ala Valverde: selain mampu mencetak 36 gol dan mencatatkan 13 assist di La Liga, Messi juga lebih sering menjemput bola ke area tengah serta melakukan percobaan tembakan ke arah gawang dari luar kotak penalti daripada sebelumnya.

"Messi yang sekarang berbeda. Ia tidak seperti dulu, tidak memiliki Xavi, Iniesta, Dani Alves, serta Javier Mascherano pada era jayanya. Dia dekelilingi pemain-pemain yang sudah menua juga pemain-pemain muda tanpa pengalaman. Dan dia akan berjuang lebih berat daripada sebelumnya," tutur Gabriele Marcotti di The Times.

Dari sana, Barcelona tentu tidak bisa bermain dengan cara seperti itu secara terus-menerus untuk meraih kesuksesan. Barca jangan hanya mampu bertahan secara mendalam, tetapi juga harus mampu melakukan counter-pressing pada saat-saat krusial. Barca pun tidak bisa hanya mengandalkan Lionel Messi seorang dalam menyerang.

Di balik ketidakberaniannya dalam mengambil risiko serta gaya pragmatisnya, Valverde tentu tidak bisa sepenuhnya disalahkan.

Baca juga artikel terkait LIGA SPANYOL atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Gilang Ramadhan