12 April 1955

Vaksin Jonas Salk Membuka Jalan Eradikasi Polio Global

Oleh: Muhammad Fakhriansyah - 12 April 2021
Dibaca Normal 4 menit
Vaksin temuan Jonas Salk membawa dampak signifikan bagi usaha eradikasi polio. Jadi, elemen utama program eradikasi global sejak 1988.
tirto.id - Kehidupan politikus Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt berubah pada 1921. Roosevelt yang kala itu berusia 39 tahun terjatuh ke lautan es yang sangat dingin di Teluk Fundy, Kanada.

Awalnya, dia tidak merasakan sakit sesaat setelah terjatuh. Namun, beberapa hari setelahnya dia mengalami kondisi yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Punggungnya mengalami nyeri, kakinya tidak lagi mampu menopang berat badan, dan kulitnya sangat sensitif bahkan terhadap angin sekalipun.

Roosevelt didiagnosis menderita kelumpuhan infantil yang mengharuskannya beraktivitas dengan kursi roda dan tongkat. Belakangan, penyakit yang dideritanya disebut sebagai polio—suatu penyakit yang menyerang sistem saraf manusia dan menyebabkan kelumpuhan.

Roosevelt yang kelak menjadi Presiden AS ke-32 hanyalah segelintir kisah dari jutaan penyintas polio di dunia. Kala itu belum ada obat untuk menyembuhkan polio.

“Sejak musim gugur 1921, Roosevelt memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan politik untuk memulai proses rehabilitasi di rumahnya di Hyde Park, New York. Selama beberapa tahun, fokus utamanya pun bergeser dari politik ke pemulihan diri,” tulis Amy Berish dari FDR Presidential Library and Museum.

Roosevelt bisa dibilang cukup beruntung lantaran mampu pulih hingga dapat beraktivitas seperti sedia kala. Meski begitu, banyak penyintas polio yang kebanyakan anak-anak mengalami nasib buruk: menderita kelumpuhan seumur hidup atau bahkan tewas.

Sejarah Polio

Polio atau secara ilmiah disebut poliomielitis bukanlah penyakit yang baru muncul di era modern. Seturut penelusuran Sean Martin dalam A Short History of Disease (2015), jejak awal dari penyakit ini terdeteksi pada pahatan prasasti Kerajaan Mesir Kuno. Prasasti bertarikh antara 1580-1350 SM itu menggambarkan seseorang menggunakan tongkat dan memiliki kelainan bentuk tubuh.

Para ahli menduga gambar tersebut merupakan gambaran orang yang menderita infeksi polio. Bukti ini menjadi satu-satunya petunjuk terawal tentang polio dalam sejarah. Sejauh ini, catatan atau bukti lain tentang polio yang berumur lebih tua belum ditemukan.

Dokter asal Inggris Michael Underwood adalah orang pertama yang membuat deskripsi klinis terkait polio. Pada 1789, Underwood menerbitkan risalah berjudul A Treatise on the Diseases of Children. Underwood menyebut tentang penyakit yang diawali demam dan kemudian menyebabkan kelumpuhan pada tungkai bawah.

Sejak itu, penyakit yang kerap menyerang anak-anak dan berasal dari infeksi virus ini mulai menjadi perhatian para dokter dan ilmuwan di seluruh dunia.

Pengamatan lebih seksama kemudian dilakukan oleh Jacob Heine. Ahli bedah ortopedi asal Jerman itu menerbitkan monograf setebal 78 halaman tentang penyakit itu pada 1840. Heine berhasil mendeskripsikan gejala dan akibat yang ditimbulkan penyakit misterius itu. Pada 1860, dia menyebut penyakit itu sebagai Infantile Spinal Paralysis.

Gejala awal polio ditandai dengan timbulnya demam yang melemahkan tubuh. Korban lalu mengalami kelumpuhan pada satu atau lebih anggota tubuh. Pada kasus yang parah, penderitanya bisa mengalami kelumpuhan permanen atau bahkan kematian. Polio bisa berjangkit pada usia berapa pun, tapi yang paling rentan adalah balita.

Misteri polio semakin terbuka pada 1908, kala tim yang dipimpin oleh ahli imunologi Karl Landsteiner berhasil mengidentifikasi virus penyebab polio. Dua tahun kemudian, ilmuwan juga berhasil menemukan antibodi spesifik untuk melawan virusnya. Sejak itu, wawasan tentang polio dan penanganannya menjadi lebih terang.

Ensiklopedia Britannica menulis, “Kemajuan itu akhirnya mengarah pada pengembangan vaksin polio yang efektif oleh Jonas Salk di University of Pittsburgh, Pennsylvania, pada 1953.”

Upaya Perawatan

Meski virusnya telah diketahui dan wawasan terhadapnya lebih terbuka, polio masih menjadi momok berbahaya pada paruh pertama abad ke-20. Epidemi polio skala besar merebak di AS pada 1916. Setidaknya tercatat 27.000 kasus infeksi dan 6.000 kematian.

Polio lalu menjadi wabah tahunan di beberapa negara di Amerika bagian utara dan Eropa sepanjang dekade 1940-an hingga awal 1950-an. Sekitar 25.000 hingga 50.000 kasus infeksi bermunculan setiap tahunnya.

Beragam intervensi pun dilakukan untuk memutus penyebaran dan keganasan polio selama bertahun-tahun. Pada 1928, peneliti asal AS Philip Drinker dan Louis A. Shaw membuat “paru-paru besi”—kini semacam ventilator—untuk merawat pasien polio akut yang kesulitan bernapas.

Akan tetapi, penemuan ini hanya berupaya untuk mengobati penderita bukan menghentikan laju penyebaran penyakit. Lalu pada 1950, titik terang dalam perang melawan polio muncul. Ilmuwan dan ahli virus berkebangsaan AS Jonas Salk berhasil memformulasikan cikal-bakal vaksin polio yang sudah digelutinya sejak tahun 1947.

Dua tahun kemudian, setelah melakukan uji coba ke puluhan kera, vaksin buatan Salk diuji coba kepada manusia. Dia bahkan menyuntikkannya ke tubuhnya sendiri dan keluarganya, termasuk anaknya.

Pada 26 Maret 1953, Salk mengumumkan kesuksesan uji coba vaksin itu melalui radio nasional. Meski begitu masih dibutuhkan serangkaian uji klinis lagi untuk memastikan keamanan dan efektivitas vaksin itu. Pada 1954, tercatat dua juta anak sekolah di AS menjadi sasarannya.

Setelah melalui rangkaian klinis yang ketat, pada 12 April 1955—tepat hari ini 66 tahun silam, vaksin polio buatan Salk dinyatakan efektif dan aman. Tidak lama berselang, program vaksinasi masif pun dirancang.

Dalam rentang tujuh tahun angka kasus per tahun selalu di bawah 1.000 orang. Angka penularan polio berhasil ditekan lebih drastis lagi setelah Albert Sabin menemukan vaksin polio oral (Oral Polio Vaccine atau OPV) pada 1961. Pada 1979, World Health Organization (WHO) menyatakan AS sebagai negara yang bebas polio.

Infografik Mozaik Vaksin Polio
Infografik Mozaik Jalan Panjang Pemberantasan Polio. tirto.id/Sabit



Babak Baru Pemberantasan Polio

Meski vaksin ditemukan pada 1955 dan AS sukses menekan laju penularannya, eradikasi polio global masih perlu diupayakan lebih keras lagi. Memasuki 1980, dunia justru dihadapkan pada tingginya angka penderita polio sepanjang sejarah—mencapai 450 ribu pasien.

Kondisi ini mendorong WHO bersama Rotary International, UNICEF, dan US Centers for Disease Control and Prevention meluncurkan program Global Polio Eradication Initiative (GPEI) pada 1988. Target GPEI tidak muluk-muluk: seluruh dunia harus bebas polio pada abad ke-21 atau tahun 2000.

Kelak, GPEI berkolaborasi menyumbang pendanaan dan staf ahli guna menyukseskan program di berbagai negara. Lain itu, GPEI juga memberi panduan bagi tiap negara terkait strategi eradikasi polio yang efektif. Misalnya, GPEI mewajibkan setiap negara menyelenggarakan hari imunisasi nasional, membuat program tanggap wabah apabila terjadi kejadian luar biasa polio, dan melaksanakan program imunisasi dari rumah ke rumah khusus untuk daerah yang memiliki resiko penularan tinggi.


Program ini berjalan lambat pada awalnya. Pasalnya, negara-negara terdampak baru melaksanakan program dua tahun setelah diluncukan. Bahkan, Republik Demokratik Kongo dan Sierra Leone baru memulainya pada 2000.

Menurut ilmuwan WHO Bruce Aylward dan Rudolf Tangermann dalam studi berjudul “The Global Polio Eradication Initiative: Lessons Learned and Prospects for Success” (2011) menyebut, terdapat empat alasan yang mendasari mandeknya program GPEI. Pertama, buruknya manajemen perencanaan vaksinasi. Kedua, efektivitas vaksin yang berbeda-beda di setiap negara. Ketiga, tingginya arus migrasi manusia. Keempat, kurangnya pendanaan.

Program GPEI mulai menunjukkan hasil positif pada pergantian milenium. Seturut cacatan WHO, jumlah kasus polio telah turun lebih dari 99 persen sejak GPEI diluncurkan. Pada 2000, WHO menyatakan wilayah Pasifik Barat telah bebas polio. Lalu, diikuti Eropa pada 2002. Pada 27 Maret 2014, giliran wilayah Asia Tenggara yang disertifikasi bebas polio.

“Pencapaian ini menandai lompatan yang signifikan dalam pemberantasan polio global. Kini, 80 persen populasi dunia tinggal di kawasan bersertifikat bebas polio,” lapor WHO.

Dalam rentang 2011-2016, angka penderita polio di dunia bahkan berada di bawah seribu kasus. Meski begitu, hingga 2017, WHO mencatat masih terdapat tiga negara endemik polio, antara lain Afghanistan, Pakistan, dan Nigeria.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT POLIO atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight