18 Desember 2011

Vaclav Havel & Revolusi Beludru: Menumbangkan Tirani Komunis

Oleh: Faisal Irfani - 18 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Dari panggung teater, Vaclav Havel menyuarakan perlawanan terhadap tirani rezim komunis Cekoslovakia.
tirto.id - Menjelang akhir 1989, Cekoslovakia panas dingin. Salju mulai turun, tetapi suhu politik memuncak. Orang-orang berhamburan di jalanan, meninggalkan rutinitas sehari-hari, dan menyuarakan kegelisahan maupun ketidakpuasan terhadap rezim. Tak ada waktu memikirkan Natal atau mempersiapkan tahun baru. Revolusi ada di udara.

Aksi protes berlangsung sejak 17 November hingga 29 Desember 1989, didorong oleh ketidakpuasan terhadap partai tunggal yang berkuasa waktu itu, Partai Komunis Cekoslovakia (PKC). Bagi rakyat Cekoslovakia, PKC tak mampu mengakomodasi kepentingan orang banyak, korup, dan tiran. Selama berminggu-minggu, tuntutan pergantian rezim menggema dan jadi harga mati.

Dunia mengenal dinamika tersebut dengan tajuk Revolusi Beludru (Velvet Revolution). Salah satu penggeraknya ialah aktivis cum seniman bernama Vaclav Havel. Tanpanya, bisa jadi Revolusi Beludru tak pernah ada. Havel meninggal pada 18 Desember 2011, tepat hari ini tujuh tahun lalu.

Lewat Kata dan Pementasan

PKC berkuasa sejak 1948. Kemenangan Uni Soviet dalam Perang Dunia II dan jatuhnya Front Timur ke tangan negeri beruang tersebut memuluskan jalan PKC ke kekuasaan.

Kekuasaan PKC membikin kehidupan di Cekoslovakia jauh dari demokratis. Pemerintah menyebar ketakutan di mana-mana, represi begitu keras, dan kebebasan menyampaikan pendapat dibungkam. Otoritas negara berkuasa penuh atas segala hal; yang tak sepakat bersiap dicap “musuh negara.”

Kondisi ini pula yang dialami Havel. Sebagaimana dicatat Michael Ignatieff dalam “The Hero Europe Needed” yang terbit di The Atlantic, Havel lahir dari keluarga borjuis, putra pemilik pengembang properti di Praha yang membangun hunian modern nan eksklusif di Barrandov Hills. Tak cuma properti, keluarga Havel juga punya restoran. Namun, kemewahan tersebut hanya sementara. Aset keluarga Havel disita rezim komunis, tak lama usai mereka berkuasa.


Pengalaman tersebut membuat Havel geram. Ia lantas menuangkan kegeramannya lewat panggung teater—cinta sekaligus rumah yang ia temukan pada awal 1960-an. Havel terpesona dengan dunia belakang panggung yang tersusun dari tumpukan properti, orang-orang di bagian penerangan, gadis perias, ruang ganti yang pengap, hingga pesta setelah pementasan yang diselenggarakan di bar, restoran bonafide, klub, maupun kafe-kafe di pusat kota yang tua.

Usai bergabung dengan kelompok teater di Praha, Havel segera bikin debut pementasan. Bersama Ivan Vyskočil, ia menulis naskah The Garden Party (Zahradní slavnost, 1963). Sejak debut, Havel sudah keras menyerang rezim komunis. Pementasan The Garden Party memuat satire atas birokrasi pemerintahan yang dianggapnya begitu bobrok.

Selang dua tahun, Havel kembali bikin pentas. Kali ini judulnya The Memorandum (Vyrozumění). Dalam pementasan ini, eksekusi Havel lebih matang. Kritiknya terhadap pemerintahan pun kian beringas. Tanpa sedikit ragu, The Memorandum menyimpan pesan bahwa rezim komunis menyebabkan hancurnya hubungan manusia.

Dari dua pementasan itu, Havel menjelma sebagai tokoh teater yang terpandang. Ia dianggap menjadi eksponen terbaru wajah modernisme teater Eropa. Orang-orang memujanya. Namun, bagi Havel, pementasan teaternya tak lebih dari propaganda terselubung yang menyerang rezim komunis. Di balik nilai-nilai artistik yang ia bentuk, ada satire yang menghajar segala hal yang klise tentang eksistensi partai.

Ditangkap dan Terus Melawan

Pertengahan 1960-an, di sepanjang Jalan Národní, sekumpulan seniman, dramawan, novelis, sineas, sampai filsuf Cekoslovakia bersepakat untuk menyatukan sikap terhadap rezim. Mereka sadar bahwa selama ini hari-hari mereka dipenuhi kibul propaganda pemerintah.

Pihak berwenang, yang melihat aktivitas mereka, cuek bebek. Anggapannya: mereka tak berbahaya dan tak mungkin mengambil langkah-langkah yang sembrono.

Tapi, pemerintah salah mengira. Pada 1968, gerakan tersebut makin kuat dan melahirkan apa yang dikenal dengan “Musim Semi Praha” di mana mereka menyerukan reformasi pemerintahan. Otoritas komunis, yang dipimpin Alexander Dubček, dibikin kelimpungan. Rezim tak mungkin mengabulkan seluruh permintaan mereka. Sebagai gantinya, Dubček menawarkan keterbukaan dalam balut “sosialisme dengan wajah manusia.”

Namun, tindakan Dubček tak dapat ditolerir Leonid Brezhnev, pemimpin Uni Soviet kala itu. Brezhnev lantas mengirimkan pasukan untuk membubarkan paksa demonstran yang berjejer di pusat kota. Jabatan Dubček pun juga dipreteli.

Hari-hari di Cekoslovakia usai insiden itu makin tak menentu. Pemerintah lalu menambah kegelisahan warganya dengan memberlakukan kebijakan “normalisasi” yang mengharuskan warga tunduk pada semua aturan yang dikendalikan dari Moskow. Kebijakan ini kemudian ditafsirkan dengan aksi-aksi represi aparat: penangkapan, pemenjaraan, dan pembubaran paksa acara-acara yang dinilai “mengganggu ketertiban”. Havel termasuk yang kena getahnya. Berkali-kali pementasannya dilarang dan paspornya disita agar ia tak bisa kabur ke luar negeri.


Karena muak, pada 1975, Havel menulis surat terbuka kepada Gustáv Husák, Sekjen Partai Komunis. Dalam suratnya, Havel menegaskan bahwa “normalisasi” hanya menghasilkan “ketenangan serupa makam atau kamar mayat”. Di bawah peti mati komunisme, Havel bilang, “negara membusuk”.

Pemerintah tak terima. Kritik Havel dianggap sebagai ajakan perang. Rezim, mengutip “Living in Truth” yang dipublikasikan The Economist, makin getol mengintimidasi para pembangkang dan memberangus kebebasan yang ada. Lagi-lagi rakyat memberikan perlawanan. Kali ini, pada 1977, Havel, bersama 242 orang lainnya, membikin akta bernama Piagam 77 yang ditujukan guna membongkar pelbagai pelanggaran HAM oleh rezim.

“Serangan terhadap sekelompok pemuda yang hanya ingin hidup dengan cara mereka sendiri adalah sebuah serangan sistem totaliter kepada kehidupan dan pada hakikatnya terhadap kebebasan manusia,” ujar Havel seperti dilansir The New York Times.

Rezim tak berhenti menggasak Havel dan kawan-kawannya sehubungan dengan munculnya Piagam 77. Havel, misalnya, ditangkap dan harus menjalani sekitar 20 sesi interogasi. Sementara Jan Patocka, profesor filsafat dan satu dari tiga juru bicara gerakan, bahkan meninggal dunia usai menjalani interogasi selama 11 jam.

Untuk kesekian kalinya, pada 1979, Havel kembali diciduk. Namun, kali ini, hukuman yang dijatuhkan pengadilan kepadanya cukup berat: empat setengah tahun penjara. Masa-masa itu diakui Havel sebagai masa yang sulit. Di penjara, ia tak bisa membaca, apalagi menulis surat kepada istrinya. Mental Havel sempat terpuruk.

Tapi, perlahan ia bangkit. Penjara memperkuat keyakinannya bahwa rezim harus digulingkan. Tak ada jalan lain. Terlebih, pemerintah komunis seakan bebal kendati pemimpin Uni Soviet Michael Gorbachev sudah mencetuskan kebijakan Glasnost (“keterbukaan”) dan Perestroika (“pembenahan”) pada 1985. Dua kebijakan itu dibuat agar pemerintahan komunis jadi lebih luwes dan terbuka.

Kemuakan rakyat memuncak pada 1989. Mereka turun ke jalanan menuntut adanya reformasi pemerintahan. Havel memimpin aksi tersebut dan meminta masyarakat Cekoslovakia bersama-sama mengonsolidasikan kepala dan kaki untuk mendesak pemerintah melakukan restrukturisasi politik. Sederet upaya dilakukan secara terus-menerus pada rentang November sampai Desember.

Gerakan massa tanpa kekerasan ini berbuah hasil. Pakta Warsawa—kesepakatan pertahanan antarnegeri-negeri Blok Timur—akhirnya runtuh. PKC terpaksa mengakomodasi sejumlah tuntutan demonstran. Mereka sepakat menanggalkan kekuasaan dan menghapus sistem partai tunggal. Lalu, pemerintah juga secara resmi menghapus pasal-pasal konstitusi yang memberikan Partai Komunis kekuasaan tak terbatas.


Infografik Mozaik Vaclav Havel
Infografik Mozaik Vaclav Havel


Tak cukup sampai situ saja, pada 10 Desember, Presiden Gustáv Husák mengundurkan diri dari jabatan dan menunjuk pemerintah non-komunis untuk kali pertama sejak 1948. Sebagai hasil dari kesepakatan antar-banyak kelompok, Havel diminta mengisi menjadi presiden sementara sampai pemilu diselenggarakan.

Sejak saat itu, Havel rutin dipercaya menjadi pemimpin lewat pemilihan yang demokratis. Ia akhirnya mengundurkan diri pada 2003 karena aturan negara tak memperbolehkan seseorang menjabat presiden untuk ketiga kalinya.

“Harapan itu bukanlah tentang keyakinan sesuatu akan berjalan dengan baik, tapi soal kepastian bahwa sesuatu itu masuk akal, terlepas dari bagaimana hasilnya,” katanya satu ketika.

Baca juga artikel terkait KOMUNIS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Ivan Aulia Ahsan