Utang Luar Negeri Indonesia Turun jadi $411,5 Miliar di Kuartal I

Reporter: Dwi Aditya Putra - 19 Mei 2022 11:21 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai 411,5 miliar dolar AS selama kuartal I-2022 atau Q1.
tirto.id - Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai 411,5 miliar dolar AS selama kuartal I-2022 atau Q1. Posisi utang ini turun jika dibandingkan pada kuartal sebelumnya Q4 2021 sebesar 415,7 miliar dolar AS.

Sementara secara tahunan, posisi ULN Q1 2022 mengalami kontraksi sebesar 1,1 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada Q4 sebelumnya yang sebesar 0,3 persen (yoy).

"Perkembangan tersebut disebabkan oleh penurunan posisi ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) dan sektor swasta," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono di Jakarta, Kamis (19/5/2022).

Erwin mengatakan tren penurunan ULN pemerintah pada kuartal pertama masih berlanjut. Di mana posisi ULN pemerintah pada Q1 2022 sebesar 196,2 miliar dolar AS, menurun dari posisi triwulan sebelumnya sebesar 200,2 miliar dolar AS.

Sedangkan secara tahunan, pertumbuhan ULN pemerintah mengalami kontraksi sebesar 3,4 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 3,0 persen (yoy).

Penurunan tersebut, kata Erwin, terjadi seiring beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo, baik SBN domestik maupun SBN Valas, serta adanya pelunasan neto atas pinjaman yang jatuh tempo selama periode Januari hingga Maret 2022, yang sebagian besar merupakan pinjaman bilateral

Di samping itu, volatilitas di pasar keuangan global yang cenderung tinggi turut berpengaruh pada perpindahan investasi pada SBN domestik ke instrumen lain. Sehingga mengurangi porsi kepemilikan investor nonresiden pada SBN domestik.

"Penarikan ULN pada Q1 2022 masih diutamakan untuk mendukung belanja prioritas /emerintah, termasuk upaya penanganan COVID-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," ujarnya.

Meski begitu, Erwin menekankan pemerintah berkomitmen tetap menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel.

Sementara itu, tren penurunan ULN juga terjadi pada swasta. Posisi ULN swasta pada Q1 022 tercatat sebesar 206,4 miliar dolar AS, turun dari 206,5 miliar dolar AS pada Q4 2021. Secara tahunan, ULN swasta terkontraksi 1,8 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 0,6 persen (yoy).

Erwin menjelaskan penurunan ULN swasta tersebut disebabkan oleh pembayaran pinjaman luar negeri dan surat utang yang jatuh tempo selama Q1 2022. Sehingga ULN lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) terkontraksi masing-masing sebesar 5,1 persen (yoy) dan 1,0 persen (yoy).

Berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi; sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin; sektor industri pengolahan; serta sektor pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 76,6 persen dari total ULN swasta. ULN tersebut tetap didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta.

ULN Diklaim Tetap Sehat


Erwin mengklaim struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. ULN Indonesia pada Q1 2022, Erwin bilang tetap terkendali, tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga di kisaran 33,7 persen.

"Ini menurun dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya sebesar 35,0 persen," katanya.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat, ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 87,9 persen dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.


Baca juga artikel terkait UTANG LUAR NEGERI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Maya Saputri

DarkLight