Usia Berapa Sebaiknya Mengajarkan Seks Edukasi Pada Anak & Caranya

Kontributor: Yunita Dewi - 20 Jun 2022 12:32 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Ketahui cara memberikan seks edukasi kepada anak sesuai dengan fase dan tumbuh kembangnya.
tirto.id - Tak sedikit orang tua yang masih menganggap tabu untuk mengajarkan pendidikan seks atau sex education kepada anak. Bahkan, tak sedikit orang tua kurang berperan aktif dalam menyampaikan pendidikan seks kepada anaknya.

Padahal memberikan seks edukasi sangat penting bagi anak usia dini guna mencegah tindak pelecehan ataupun kekerasan seksual terhadap anak-anak yang kerap terjadi di masyarakat.

Dengan demikian, orang tua seharusnya menjadi tempat pertama yang berkewajiban memberikan pemahaman tentang seks dan mengenalkan kepada anak tentang sikap pencegahan pelecehan ataupun kekerasan seksual.

Dalam memberikan seks edukasi, orang tua dapat memulai dari mengenalkan identitas anak, jenis kelamin, mengenalkan anatomi tubuh, dan nilai-nilai lainnya. Ketika membahas hal-hal tersebut, juga harus disesuaikan dengan usia anak sehingga tidak perlu dijelaskan dengan detail.

Usia yang Tepat untuk Mengajarkan Seks Edukasi pada Anak



Sebenarnya tidak ada patokan khusus mengenai waktu yang tepat dalam memberikan seks edukasi, karena setiap anak berbeda. Selama anak dapat memahami dengan baik, sejak saat itu juga seks edukasi dapat diajarkan.

Dikutip dari laman MediaKom Kemkes, waktu yang ideal untuk memberikan seks edukasi ialah dua tahun sebelum anak-anak mengalami masa akil balig. Anak perempuan biasanya pertama kali mendapat haid sekitar umur 11 tahun dan anak laki-laki mengalami mimpi basah sekitar usia 12 sampai 15 tahun.

Namun, tidak salah juga apabila seks edukasi diberikan ketika anak-anak mulai bertanya mengenai hal tersebut. Maka dari saat itulah para orang tua bisa memberikan keterangan.

Tips atau cara mengajarkan seks edukasi pada anak


Menurut laman About Kids Health, terdapat kiat-kiat atau cara memberikan seks edukasi kepada anak sesuai dengan fase dan tumbuh kembangnya, di antaranya:

1. Balita, yaitu usia 13-24 Bulan

Pada usia ini orang tua bisa mengajarkan secara perlahan tentang bagian tubuh dan jenis kelamin. Sebaiknya gunakan nama yang benar untuk bagian tubuh yang nantinya akan memungkinkan mereka untuk mengomunikasikan masalah kesehatan, cedera, atau pelecehan seksual yang lebih baik.

Saat menginjak 2 tahun, anak sudah memahami perbedaan ciri-ciri tubuh antara anak perempuan dengan laki-laki. Biasanya, anak dapat mengetahui apakah seseorang itu pria atau wanita dari orang-orang terdekat yang kerap ditemui.

2. Anak- Anak Pra Sekolah yaitu usia 2-4 Tahun

Mayoritas anak prasekolah telah memahami dasar-dasar reproduksi, seperti sperma dan sel telur bergabung menjadi janin yang tumbuh di dalam rahim. Sampaikan hal tersebut dengan menarik, sederhana, dan jelas supaya mudah dipahami anak.

Di usia ini, anak-anak juga harus memahami bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri dan tidak ada yang boleh menyentuh tubuh mereka tanpa izin. Selain itu, ajarkan pula kepada anak untuk bertanya sebelum menyentuh orang lain seperti memeluk, menggandeng, serta harus mulai belajar tentang batasan-batasan.

3. Anak Usia Sekolah yaitu usia 5-8 Tahun

Di usia ini, bimbinglah anak cara menggunakan komputer dan perangkat seluler dengan aman. Anak-anak juga harus mulai belajar tentang privasi dan rasa hormat terhadap orang lain dalam konteks digital.

Mereka harus memahami aturan untuk berbicara dengan orang asing, berbagi foto secara online, dan hal-hal yang harus dilakukan jika mereka bertemu dengan sesuatu yang membuat tidak nyaman.

Selain itu, mereka harus diajarkan pengetahuan tentang dasar-dasar pubertas menjelang akhir rentang usia ini. Sebab, sejumlah anak akan mengalami beberapa perkembangan pubertas sebelum usia 10 tahun, termasuk perubahan tubuh baik bagi perempuan ataupun laki-laki.

4. Pra Remaja yaitu usia 9-12 Tahun

Anak usia Pra Remaja harus diajari tentang seks dan kontrasepsi yang lebih aman. Mereka harus memahami tentang dasar- dasar kehamilan dan penyakit seksual menular (PMS).

Selain itu, mereka harus dibekali pemahaman ketika berselancar di internet tentang adanya bullying dan sexting. Mereka juga harus memahami risiko berbagi foto tanpa busana atau eksplisit secara seksual tentang diri mereka sendiri atau teman-teman mereka.

5. Remaja yaitu usia 13-18 Tahun

Remaja di usia ini harus menerima pengetahuan secara rinci seputar pubertas, seperti mimpi basah dan menstruasi.

Apabila orang tua telah terbiasa berkomunikasi tentang seks edukasi kepada anak-anaknya, maka suatu saat nanti mereka akan berdiskusi kepada orang tua ketika menemui hal-hal sulit atau berbahaya. Selain itu, mereka juga akan menanyakan kekhawatirannya tentang perubahan tubuh dan identitas mereka.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Yunita Dewi
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Yunita Dewi
Penulis: Yunita Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight