Usai Jerman Hitler Kalah, Ke Mana Perginya Mantan SS-NAZI?

Oleh: Petrik Matanasi - 7 Juli 2017
Dibaca Normal 4 menit
Setelah Jerman kalah, orang-orang yang tergabung dalam SS, organisasi paramiliter utama di bawah Partai Nazi, diburu dan hidup bebas. Di antara yang terkenal ada yang jadi wartawan, penasihat militer, pendaki gunung, bahkan penulis.
tirto.id - Masa tua Oskar Gröning terusik oleh pengadilan. Ia dituduh bertanggung jawab atas kematian 300 ribu orang Yahudi di kamp konsentrasi Auschwitz. Ketika ia masih muda dulu, saat Perang Dunia II di Eropa, laki-laki kelahiran 10 Juni 1921 ini adalah anggota Schutzstaffel (SS), sebuah pasukan pilihan NAZI yang mirip Angkatan Darat kedua bagi Jerman. Pangkatnya adalah Unterscharführer, setara kopral tapi punya posisi tanggungjawab seperti sersan.

“Selama dua tahun, sebagai anggota SS, Oskar Gröning bertugas di kamp konsentrasi Auschwitz. Dia menghitung uang orang Yahudi yang mati dan berjaga-jaga mengawasi kereta barang yang keluar-masuk membongkar muatan orang-orang Yahudi yang malang. Dia bilang dia tidak melakukan kejahatan apa pun,” tulis Matthias Geyer dalam artikel The Bookkeeper from Auschwitz di Spiegelonline (09/05/2005).

Gröning ditempatkan sebagai penjaga di kamp maut Auschwitz hanya sampai Oktober 1944. Selanjutnya ia ditugaskan ke satuan tempur. Lantas ditangkap oleh pasukan Inggris pada 10 Juni 1945. Ia pun menjadi tawanan perang di Inggris.


Prajurit dan perwira SS penjaga kamp Auschwitz lain yang terganggu masa tuanya adalah Reinhold Hanning. Laki-laki yang lahir pada 28 Desember 1921 dan baru meninggal pada 30 Mei 2017 ini dituduh telah membunuh 170 ribu orang. Berdasarkan artikel Alison Smale di The New York Times, 1 Juni lalu, Hanning, yang duduk di kursi roda, mengaku menyesal di pengadilan. Dengan suara lemah di depan mikrofon, ia berkata, "Saya merasa malu karena saya melihat ketidakadilan dan tidak pernah melakukan apa pun tentang hal itu dan saya mohon maaf atas tindakan saya."

“Hanning muda bergabung (Pemuda Hitler) di usia 13 tahun lalu Waffen-SS pada usia 18 tahun. Dia terluka kena serpihan granat di Front Timur pada 1941, kemudian ditugaskan di sebuah menara di kamp Auschwitz pada awal 1942. Dia di sana sampai bulan Juni 1944,” tulis Smale.

Tentu saja tak semua mantan SS bernasib seperti Reinhold Hanning dan Oskar Gröning. Banyak yang sebentar ditahan lalu kabur dan bebas hingga kematiannya.

SS adalah satuan elit pilihan. Tak hanya dilihat tampilan fisiknya, tapi juga kecerdasannya. Tak heran jika ditemukan sarjana, doktor atau profesor di SS. Sebelum ada SS, ada Sturmabteilung (SA) yang terkenal sebagai tukang pukul NAZI. Namun, organisasi ini dibubarkan dan pemimpinnya dihabisi sendiri oleh Hitler.


Friedrich Peter, kelahiran 13 Juli 1921, sebuah contoh bagaimana mantan SS masih bisa tampil di publik sebagai anggota parlemen Austria. Ia bahkan pernah menjabat Ketua Partai Kemerdekaan di Austria dari 1958 hingga 1978.

Menurut Judith Miller dalam One By One By One (2012), “Simon Wiesenthal (eks tahanan Yahudi yang aktif memburu NAZI) mulai menyelidiki latar-belakang Peter pada 1975. Dia menemukan bahwa Peter jadi letnan selama dua tahun di Brigade Infanteri Pertama SS. Satuan Jerman ini telah membunuh 10 ribu orang sipil, 8 ribu di antaranya Yahudi di Ukraina.”

Anak buruh sosial-demokrat ini, sejak 1938, sudah mendaftar di Waffen-SS saat berusia 17 tahun. Ia bertugas di front barat dan timur. Terkait kematian orang-orang Yahudi, Peter menyangkal jika ia pernah terlibat. Setelah PD II, ia sempat ditahan di Glasenbach dan kemudian jadi guru dan pengawas sekolah. Peter hidup hingga 25 September 2005. Ia meninggal di sebuah rumah sakit di Wina.

Infografik para perwira

Berlindung di (Bekas) Negara Fasis

Mantan SS dengan kisah perburuan terkenalnya adalah Otto Adolf Eichmann. Pria kelahiran 19 Maret 1906 ini dieksekusi di Israel pada 1 Juni 1962. Mantan Obersturmbannführer (Letnan Kolonel) SS ini pernah berhasil kabur sampai ke Argentina.

Bersama Reinhard Heydrich, ia termasuk tokoh penting terkait Final Solution—penghabisan orang-orang Yahudi. Menurut David Cesarani dalam Becoming Eichmann: Rethinking the Life, Crimes and Trial of desk Murder (2007), Adolf Eichmann bergabung dengan SS sejak 1933, setelah ia bekerja di perusahaan minyak. Dua tahun setelahnya ia adalah perwira di kantor urusan Yahudi.

Selesai perang, Eichmann hidup dalam penyamaran. Hidupnya agak aman di Argentina yang dikuasai rezim fasis Juan Peron. Setelah belasan tahun di Argentina, kebebasannya berakhir ketika agen Mossad menangkapnya. Usai belasan bulan diperiksa, ia pun dieksekusi.

Seperti Eichmann, Otto Skorzeny juga tersohor. Dia pernah jadi pengawal Evita Peron—istri Juan Peron. Skorzeny adalah perwira SS kepercayaan Hitler. Ia pernah ditugasi membebaskan Benito Mussolini, sang fasis dari Italia. Di masa mudanya ia tukang duel anggar dengan luka wajah. Menurut Dieter Wagner dalam Anschluss: The Week Hitler Seized Vienna (1971), pria kelahiran 12 Juni 1908 ini bergabung dengan NAZI sejak 1931 dan terlibat dalam insiden Anschluss pada 12 Maret 1938. Langkah penyatuan paksa alias aneksasi oleh Hitler terhadap Austria ini memicu Perang Dunia II.

Dalam memoarnya, My Commando Operations: The Memoirs of Hitler's Most Daring Commando (1995), sebelum bergabung dengan SS, Skorzeny pernah mencoba jadi pilot pada 1939 tetapi tak diterima.

“Mereka berpendapat, bagaimanapun, saya sudah 31 tahun, terlalu tua untuk terbang. Tapi saya tidak sedikit pun berniat melewati perang dalam posisi rendahan di kantor. Saya mendaftar ke Waffen-SS. Saya salah satu dari hanya 10 orang yang diterima dari 100 pelamar setelah tes fisik dan kesehatan,” ujar Skorzeny, membanggakan diri dan tanpa rasa bersalah.

Setelah PD II, Skorzeny sempat ditawan pasukan sekutu. Ia pernah jadi saksi dalam pengadilan di Nuremberg, sebuah persidangan terkenal antara 1945 dan 1946 oleh pihak sekutu terhadap 22 penjahat perang dari lingkaran elite Nazi. Pada 27 Juli 1948, Skorzeny kabur dari tahanan.

“Setelah dua tahun di Jerman dan dua tahun di Perancis, saya menemukan Spanyol sebagai negara yang ramah, dan punya kesempatan mengejar karier baru sebagai insinyur. Saya tak memiliki harta dari SS—tidak seperti yang beberapa penulis klaim. Ini tidaklah mudah,” tulis Skorzeny.

Menurut Alan Axelrod dalam Mercenaries: A Guide to Private Armies and Private Military Companies (2013), Skorzeny ditarik Reinhard Gehlen—yang dipekerjakan CIA—untuk menjadi penasihat militer Jenderal Mohammad Naguib, presiden Republik Mesir. Mantan Obersturmbannführer (Letnan Kolonel) SS ini juga ikut melatih pasukan Komando Arab dan pengungsi Palestina, yang merupakan sekutu Mesir dan bermusuhan dengan Israel. Mesir mengalami kesulitan buat memenangkan perang melawan Israel—yang dibangun orang-orang Yahudi korban NAZI. Skorzeny tutup usia di Madrid pada 5 Juli 1975.

Wartawan Mata-mata dan Pendaki Terkenal

Terkait jaringan Reinhard Gehlen, di Indonesia, ada seorang mantan SS bernama Rudolf Obsger-Roeder. Ia kelahiran Leipzig, Jerman, pada 9 Maret 1912 dan bergabung SS sejak 1935. Roeder pernah menjadi Sturmbannfuhrer (mayor) dan Obersturmbannführer (Letnan Kolonel). Sebelumnya pernah jadi pasukan jalanan NAZI, Sturmabteilung (SA).

Menurut arsip CIA, antara musim panas 1942 hingga musim semi 1943, Roeder tergabung dalam kelompok Zeppelin dan pernah ditempatkan di Polandia. Setelahnya, ia ditempatkan di Reichssicherheitshauptamt (RSHA) atau Kantor Utama Keamanan Reich Ketiga. Ia sering bertindak sebagai penyelidik di SS.

Setelah PD II, Roeder menghilang dan menyaru sebagai petani dengan nama Richard Rupp. Namun, sejak awal tahun 1946, ia ditahan Bad Nenndorf selama 18 bulan hingga 1948. Berkas pemeriksaannya sampai ke tangan CIA.

Setelahnya, ia direkrut oleh kelompok Gehlen, lalu tergabung dalam Bundesnachrichtendienst (BND) alias dinas rahasia Republik Federal Jerman Barat. Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat mengidentifikasi pekerjaan Roeder sebagai mata-mata.

Sehari-hari pria yang meninggal karena serangan jantung pada 21 Juni 1992 ini menjadi wartawan Süddeutsche Zeitung dan Neue Zürcher Zeitung. Dengan menyaru sebagai wartawan pula ia sampai ke Indonesia pada Desember 1959.

Nama belakang Rudolf mirip dengan nama belakang Otto Gustav Roeder alias O.G. Roeder, orang Jerman kolega Soeharto yang menulis The smiling general, President Soeharto of Indonesia. (Dalam bahasa Indonesia, buku ini berjudul Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto)


Mantan SS terkenal lain yang harus disebut adalah Heinrich Harrer. Dunia mengenalnya sebagai pendaki gunung dan atlet olimpiade. Jika Skozeny menulis My Commando Operations yang menggambarkan tindak-tanduknya sebagai perwira SS-NAZI, Harrer menulis Seven Years in Tibet (1952) dan The White Spider (1959).

Keterlibatannya sebagai SS mencuat setelah Gerald Lehner, penyiar radio dari Austria, mempublikasikan hasil investigasinya di majalah Stern. Itu menyusul sukses adaptasi Seven Years in Tibet ke dalam film, dibintangi oleh Brad Pitt, pada 1997. Menurut Lehner, Harrer bergabung SS kurang dari sebulan sejak peristiwa Anschluss pada 1938.

Harrer tak berusaha menyangkalnya. Dikutip dari artikel obituari yang dirilis The Telegraph, ia berkata bahwa waktu ia masih muda. "Saya akui saya amat sangat ambisius dan saya ditanya apakah saya bersedia menjadi instruktur ski di SS. Harus saya akui saya mengambil kesempatan itu. Saya juga harus bilang, seandainya parti komunis menawarkan saya, saya akan bergabung. Dan jika Setan sekalipun menawarkan saya, saya akan ikut bersamanya."

Di SS, Harrer berpangkat Oberscharführer (sersan) dan menjadi anggota Partai Nazi. Ia belakangan mengakui bahwa ia memakai seragam SS sekali saja saat hari pernikahannya dengan Charlotte Wegener, putri penjelajah dan sarjana terkenal Alfred Wegener. Simon Wiesenthal, penyintas Yahudi dan pemburu Nazi sekaligus penulis kelaharin Austria, yang pernah dinominasikan sebagai penerima Anugerah Novel Perdamaian, mendukung pernyataan Harrer bahwa dia bersih dari kejahatan perang.

Dalam memoarnya, Beyond Seven Years in Tibet (2007), Harrer menyebut keterlibatannya dengan Partai Nazi adalah sebuah kesalahan yang ia buat selagi muda saat ia masih anak ingusan dan belum berpikir untuk dirinya sendiri.

Laki-laki kelahiran 6 Juli 1912 ini pernah mendaki Pegunungan Jayawijaya di Papua pada 1962 bersama Robert Philip Temple, Russell Kippax, dan Albertus Huizenga.


==========

Catatan: Artikel ini telah mengalami ralat mengenai sosok Rudolf Obsger-Roeder dan Otto Gustav Roeder yang sebelumnya tertulis sebagai orang yang sama.

Baca juga artikel terkait NAZI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam