Urgensi Layanan Kesehatan Jiwa Gratis untuk Pasien Tuberkulosis

Penulis: Aditya Widya Putri, tirto.id - 10 Nov 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pasien TB resisen obat riskan alami gangguan kesehatan mental akibat jangka pengobatan yang panjang. Akses layanan kesehatan mental gratis bisa jadi solusi.
tirto.id - Setiap tahun, jumlah kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia selalu masuk tiga besar dunia. Pada 2020 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan insiden TB Indonesia berada pada urutan ketiga setelah China dan India. Estimasi kejadiannya mencapai lebih dari 842 ribu kasus dengan angka kematian lebih dari 98 ribu jiwa per tahun—setara 11 nyawa per jam.

Itu belum termasuk hitungan kejadian tak terlaporkan dengan perkiraan presentase sebesar 32 persen.

Salah satu biang tingginya angka kasus TB adalah stres dalam menjalani pengobatan. Stres pengobatan ini menjadi faktor penyumbang kejadian putus obat yang kemudian mempersulit upaya menurunkan jumlah kasus TB.

Sementara di sisi lain, akses layanan kesehatan mental untuk pasien TB masih terbatas.

“Pengobatan jangka panjang pada TB Resisten Obat (RO) bisa membikin stres dan depresi kecemasan,” ungkap Vensya Sitohang, Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, dalam acara peluncuran layanan kesehatan jiwa bagi pasien TB beberapa waktu lalu.

Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) atau dikenal dengan TB RO merupakan kondisi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis resisten alias kebal terhadap antibiotik atau obat lini pertama.

Pasien dengan TB biasa umumnya menempuh pengobatan selama setengah tahun, tapi pasien TB RO periodenya lebih lama, bisa mencapai dua tahun. Maka bayangkan rasanya harus minum belasan obat dalam sehari dengan efek pusing, mual, dan muntah hebat hingga puluhan kali dalam sehari.

Perkara TB bukan hanya soal angka-angka dari kasus sebuah penyakit yang menjadi 10 besar penyebab utama meninggalnya pasien. Dimensi kasus TB meliputi pula persoalan kemiskinan, stigma, diskriminasi, kepercayaan usang soal guna-guna, dan problem kesehatan mental.

Selain berjuang untuk sembuh, para pasien TB RO harus bertarung dengan masalah kesehatan mental karena pengobatan dan diskriminasi. Banyak dari mereka diputus kerja, distigma, dikucilkan karena penyakitnya, dianggap menjadi penular, serta dihadapkan pada masalah ekonomi karena tak mampu beraktivitas dan bekerja secara maksimal.

“Salah satu penyebab terjadinya depresi adalah karena banyaknya obat yang dikonsumsi setiap hari serta terapi dalam waktu lama dan kompleks,” lanjut Vensya.

Para pasien TB RO memang lebih rentan mengalami gangguan psikologis karena efek obat yang mereka terima. Sikloserin—salah satu obat anti tuberkulosis oral lini kedua, misalnya, ternyata memengaruhi gejala psikotik. Sikloserin memiliki sifat toksisitas ke susunan saraf pusat.

Efek gangguan psikologis akibat obat ini paling sering muncul setelah tiga bulan pengobatan TB.

Sebuah studi yang terbit pada 2019 menyebut tentang adanya gejala gangguan halusinasi, kecemasan, depresi, perubahan perilaku, dan ide bunuh diri pada pasien MDR-TB. Padahal, para pasien sampel yang berasal dari sebuah rumah sakit daerah Solo itu sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan psikologis.

Ketika gangguan psikologis itu tidak ditangani dengan baik, ia akan berpotensi membuat pasien memilih putus obat yang kemudian memicu resistensi obat tingkat lanjut. Pengobatan TB akan jadi lebih sulit, lebih berat, dan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Akses Terapi Kesehatan Jiwa Gratis bagi Pasien TB

Meski punya efek samping serius terhadap kesehatan mental, pasien TB RO sangat jarang mendapat pendampingan psikologis. Terapi kesehatan mental ini juga tidak masuk dalam paket perawatan TB sehingga tidak gratis. Jika ingin mengakses terapi psikologis, pasien harus melakukan konsultasi terpisah.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia memang menanggung keluhan psikologis, tapi masalah pengobatan dampingan TB tidak berhenti di sana. Masih banyak fasilitas kesehatan yang tidak memiliki layanan kesehatan jiwa, terutama di daerah luar Jawa.

Hal tersebut mendorong Perhimpunan Organisasi Pasien TB (POPTB) Indonesia dan Konsorsium Komunitas Penabulu-Stop TB Partnership Indonesi (STPI) bekerja sama dengan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) membuat layanan kesehatan jiwa gratis bagi pasien TB.

“Jika butuh pendampingan psikososial dan konseling, Anda akan dilayani oleh petugas terlatih via chat. Kemudian apabila kondisinya berat, akan dirujuk ke psikolog profesional HIMPSI,” terang Ketua Nasional POPTB Budi Hermawan.

Infografik Kesehatan Mental Penderita Tuberkulosis
Infografik Kesehatan Mental Penderita Tuberkulosis. tirto.id/Ecun


Orang dengan TB RO bisa mengakses layanan tersebut melalui situs laportbc.id, kemudian pilih menu “Hotline” dan hubungi responder layanan di masing-masing wilayah Indonesia. Hingga saat ini, terdapat 14 responder yang terbagi di wilayah Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Selain layanan kesehatan mental, laportbc.id juga memuat laporan atau umpan balik dari pasien atau komunitas. Setiap aduan akan dipantau dan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan layanan kesehatan.

“Mengingat lawan utama dari kesehatan bukan hanya penyakit, melainkan juga pelanggaran hak asasi manusia dan diskriminasi yang datang dari tenaga kesehatan,” lanjut Budi.

Yang terpenting dari semua itu, orang dengan TB harus paham bahwa penyakit ini dapat sembuh, demikian pun gejala psikiatri yang menyertainya. Jadi, pasien TB tak perlu takut menjalani pengobatan karena terapi fisik maupun mental akan membantu memperbaiki kualitas hidup mereka.

Pasien TB dengan gangguan psikologis lazimnya akan dirujuk ke psikiater. Jika kondisinya berat, obat yang membikin efek samping gangguan mental seperti sikloserin akan dihentikan sementara. Psikiater akan memberi obat pereda gejala sesuai keluhan, misalnya antipsikologis pada gangguan psikotik atau antidepresan pada gejala depresi.

Seiring gejala psikologis berkurang, dosis obat psikotik juga berangsur diturunkan.

Lantaran penanganan masalah psikologis pada orang dengan TB RO berpengaruh pada kepatuhan pengobatan, semoga saja layanan kesehatan jiwa cuma-cuma ini dapat konsisten membantu para pasien dan, secara berkesinambungan, menurunkan tingkat putus obat pada orang dengan TB.

Baca juga artikel terkait TUBERKULOSIS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight