Update Corona 23 April 2020: Kasus COVID-19 Bertambah Jadi 2,6 Juta

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 23 April 2020
Dibaca Normal 1 menit
Kasus virus corona COVID-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 2,6 juta hingga hari ini.
tirto.id - Virus corona baru yang menyebabkan penyakit COVID-19, hingga Kamis (23/4/2020) pukul 12.30 WIB hari ini, telah menginfeksi lebih dari 2,62 juta orang dan membunuh setidaknya 183.000 di seluruh dunia, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Kasus COVID-19 paling banyak ditemukan di Amerika Serikat dengan jumlah 842.629 hingga hari ini. Presiden Donald Trump mengatakan dia telah menandatangani perintah untuk menangguhkan imigrasi ke negara itu. Dia mengatakan perintah itu memastikan orang AS akan menjadi yang pertama dapat pekerjaan karena ekonomi dibuka kembali.

AS masih belum membuat kemajuan dalam pengujian, menurut direktur Harvard Global Health Initiative, "Kami memperkirakan kami membutuhkan setidaknya tiga kali lipat pengujian yang kami miliki saat ini," kata Dr. Anish Jha.

Diwartakan CNN.com, sebuah studi menemukan, hampir semua pasien coronavirus di New York yang membutuhkan ventilator untuk membantu mereka bernapas meninggal dunia.

Ditemukan bahwa, secara keseluruhan, sekitar 20% pasien COVID-19 yang dirawat di Northwell Health meninggal, dan 88% dari mereka yang menggunakan ventilator meninggal.

Ventilator adalah alat yang memaksa udara masuk ke paru-paru pasien yang tidak dapat bernapas sendiri karena pneumonia berat atau sindrom gangguan pernapasan akut.

Laporan lainnya menunjukkan bahwa pasien yang membutuhkan ventilasi tidak mungkin bertahan. Untungnya, hanya 12% dari pasien dalam penelitian ini yang membutuhkan ventilator, Dr. Safiya Richardson di Institut Penelitian Medis Feinstein, Northwell Health, dan rekannya menemukan.

Akan tetapi penelitian ini, yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association, menunjukkan betapa buruknya prospek pasien dengan penyakit COVID-19 yang parah.

Tim melihat catatan kesehatan dari 5.700 pasien dengan penyakit coronavirus yang dirawat di rumah sakit di Northwell Health. Hasil akhir diketahui 2.634 di antaranya memiliki penyakit parah.

Catatan tersebut mendukung apa yang dikatakan dokter tentang virus corona: kebanyakan orang yang sakit parah memiliki semacam kondisi lain atau penyakit penyerta. Lebih dari setengah, atau 57%, memiliki tekanan darah tinggi, 41% mengalami obesitas dan 34% menderita diabetes.

"Dari pasien yang meninggal, orang-orang dengan diabetes lebih mungkin untuk menerima ventilasi mekanis invasif atau perawatan di ICU dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki diabetes," catat para peneliti.

Mereka juga mengkonfirmasi bahwa pria lebih mungkin meninggal daripada wanita, dan tidak ada yang di bawah usia 18 tahun yang meninggal.

Gejala infeksi yang muncul tidak begitu jelas. Sekitar sepertiga dari semua pasien muncul dengan demam, 17% bernapas terlalu cepat dan hanya di bawah 30% membutuhkan oksigen tambahan. Rata-rata, pasien dikirim pulang setelah empat hari.

Akan tetapi 14% dirawat di perawatan intensif, 3% membutuhkan dialisis intensif, dan 21% meninggal.

Karena data akhir hanya tersedia pada sekitar setengah dari pasien, ada kemungkinan lebih banyak dari mereka yang menggunakan ventilator selamat, kata para peneliti - sesuatu yang akan menurunkan tingkat kematian 88% untuk kelompok itu.

“Studi ini melaporkan tingkat kematian hanya untuk pasien dengan hasil yang pasti (pemulangan atau kematian), dan studi jangka panjang dapat menemukan tingkat kematian yang berbeda karena segmen populasi yang berbeda terinfeksi,” tulis tim Kesehatan Northwell.

Sementara itu di Meksiko, kasus-kasus di negara ini telah melampaui 10.000 setelah lonjakan kasus satu hari terbesar dilaporkan, yaitu sebanyak 1.043, termasuk 970 kematian.

Di Kolombia, demonstran turun ke jalan-jalan di ibukota Bogota pada hari Rabu, mengatakan mereka tidak mendapat dukungan dari pemerintah selama lockdown karena virus corona.

Cina melaporkan hanya sepuluh kasus baru yang pada akhir hari Rabu, enam di antaranya merupakan kasus impor.

Spanyol memperpanjang keadaan darurat untuk ketiga kalinya hingga 9 Mei. Masa pembatasan di negara itu telah berlangsung selama delapan minggu.

Sebuah survei terhadap lebih dari 200 pasien di Italia menemukan bahwa 67 persen pasien melaporkan gejala berupa perubahan rasa atau bau baik sebelum atau tepat setelah mereka dinyatakan positif COVID-19.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight