Menuju konten utama

Untung Rugi Nilai Tukar Tembus Rp15.000 per Dolar AS

Nilai tukar Rupiah kembali menembus posisi Rp15.002 per dolar AS pada penutupan Kamis (7/7/2022). Mata uang Garuda melemah 3 poin atau 0,02 persen.

Untung Rugi Nilai Tukar Tembus Rp15.000 per Dolar AS
Karyawan menghitung uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Rabu (6/1/2021). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.

tirto.id - Nilai tukar Rupiah kembali menembus posisi Rp15.002 per dolar AS pada penutupan Kamis (7/7/2022). Mata uang Garuda melemah 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp14.999 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi IndiGo Network, Ajib Hamdani menilai pelemahan Rupiah bagi Indonesia tentu bagai dua sisi mata uang. Satu sisi memberikan keuntungan, di sisi lain memberikan kerugian bagi Tanah Air.

Dia mengatakan perekonomian nasional akan menemukan keseimbangan baru dengan makin melemahnya nilai Rupiah. Sisi positifnya jangka pendek akan lebih mendorong orientasi untuk ekspor.

"Secara ekonomi bisnis, relatif banyak keuntungan," kata Ajib kepada Tirto.

Akan tetapi dari sisi keuangan negara, kata Ajib, justru ini akan membuat neraca keuangan makin mengalami tekanan. Hal ini karena sebagian utang dalam bentuk mata uang asing.

"Pemerintah harus lebih presisi dalam membuat struktur keuangan yang tetap terjaga dan sehat," ujar Ajib yang juga Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menambahkan, pelemahan Rupiah sudah diprediksi sebelumnya karena tekanan eksternal menguat. Berdasarkan proyeksinya Rupiah bakal melemah hingga Rp16.000 per dolar AS sepanjang akhir tahun.

"Saat ini pelemahan nilai tukar rupiah baru awal, tekanan berikutnya terjadi saat kenaikan Fed rate atau suku bunga acuan AS berikutnya terjadi," ujarnya dihubungi terpisah.

Bhima memahami sinyal resesi ekonomi secara global seperti yang disampaikan oleh berbagai lembaga keuangan menjadi kekhawatiran mendasar pelaku pasar. Misalnya proyeksi Citigroup terkait risiko dunia mengalami resesi kini sebesar 50 persen dalam 18 bulan ke depan.

Disaat bersamaan, Bank Indonesia juga masih menahan suku bunga acuan disaat terjadi kenaikan inflasi Juni sebesar 4,35 persen. Imbasnya arus keluarnya dana asing masih akan tinggi.

"Kita harus mempersiapkan diri dalam skenario yang terburuk, inflasi naik tidak konsumen siap berarti daya beli masyarakat bisa kontraksi," ujarnya.

Baca juga artikel terkait DAMPAK PELEMAHAN RUPIAH atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang