#UninstallFeminism: Benarkah Indonesia Tak Butuh Feminisme?

Oleh: Widia Primastika - 8 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
"Tubuhku bukan milikku," kata mereka.
tirto.id - Gagasan feminisme diperangi di media sosial. Akun Instagram Indonesia Tanpa Feminis, pelancar kampanye tersebut, mengawali kampanye digital mereka pada 17 Maret 2019. "Indonesia tak butuh feminisme," kata akun tersebut.

"Tubuhku bukan milikku," demikian salah satu isi kampanyenya. Mereka hendak mengatakan bahwa tubuh bukanlah otoritas pribadi, melainkan milik Allah.

Akun lainnya adalah This is Gender, yang memanfaatkan sosial media sebagai wadah untuk mengkaji secara kritis feminisme dan kesetaraan gender berdasarkan Islam. Akun ini beranggapan perempuan tidak seharusnya disetarakan, tapi dimuliakan. Pernyataan Felix Siauw dikutip. Penyamaan laki-laki dan perempuan dalam feminisme, tulis mereka, merupakan penghinaan terhadap kodrat manusia, sebab wanita dipaksa mengikuti fitrah laki-laki.

Akun Aila Indonesia pun berwarna senada. Akun ini pernah mengunggah foto serupa dengan akun This is Gender, yang mengatakan bahwa untuk menghargai hak perempuan tak perlu mengikuti feminisme. Berislam secara kaffah, menurut Aila, merupakan cara untuk menghargai makhluk Allah sesuai kepatutannya. Perempuan berpendidikan pun dianggap sebagai ajaran Islam, tak perlu feminisme.

Tirto telah berusaha menghubungi akun-akun tersebut dan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk konfirmasi. Namun, hingga tulisan ini terbit, akun Aila Indonesia dan Indonesia Tanpa Feminis tidak merespons permohonan kami. Akun This is Gender meminta kami untuk menggali sendiri pemikiran mereka dalam situsweb This is Gender.

"Tubuhku Otoritasku“ Versus "Tubuhku Bukan Milikku”

Feminisme, seperti terpacak dalam ensiklopedia Merriam-Webster, adalah teori tentang kesetaraan politik, ekonomi, dan sosial di antara orang dengan berbagai jenis kelamin. Kamus ini juga punya arti kedua feminisme: aktivitas terencana yang mengatasnamakan hak-hak dan kepentingan perempuan.

Pernyataan “tubuhku bukan milikku, tapi milik Allah” kerap menjadi poin kampanye Indonesia Tanpa Feminis. Diktum itu menjadi penantang pernyataan "tubuhku otoritasku" yang kerap digaungkan para feminis.

Pemimpin redaksi terbitan feminis Jurnal Perempuan, Anita Dhewy, menyatakan bahwa di kehidupan sehari-hari, tubuh perempuan begitu mudah dikontrol. Hal itulah ditakuti oleh perempuan, sehingga muncullah pernyataan bahwa tubuh perempuan ada di bawah otoritasnya sendiri.

“Kemudian mereka [perempuan] yang menentukan kapan mereka mau punya anak, kapan mau melahirkan atau tidak,” kata Anita kepada Tirto. "Ini terkait erat dengan struktur masyarakat. Kalau perempuan, misalnya, tidak mau lagi punya anak, ini kan pengaruh besar ke tatanan hidup masyarakat."

Feminisme dan Islam

Akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Musdah Mulia, mengaku heran dengan sikap dari kelompok anti-feminis yang menggunakan riwayat istri Nabi Muhammad, Aisyah, tapi mengakui adanya pengekangan pada perempuan. Menurutnya, pernyataan itu tidak konsisten.

Musdah pun menjelaskan bahwa dalam Islam, perempuan dan laki-laki adalah setara sebagai khalifah fil ardh, setiap manusia adalah pengelola kehidupan dunia ini, termasuk mengelola kehidupan dirinya sendiri, baik perempuan maupun laki-laki.

“Bagaimana dia mampu mengelola kalau dia mempersepsikan perempuan itu di bawah lindungan suami? Kalau orang enggak punya suami gimana, dong? Atau di bawah lindungan ayahnya; kalau ayahnya sudah meninggal, gimana, dong?” kata Musdah.

Musdah menjelaskan bahwa dalam hidup, Tuhan memberi kewenangan pada manusia untuk mengurusi dan bertanggung jawab mengelola diri, misalnya kewajiban untuk menjaga kesehatan diri sendiri.

“Jadi kalau kamu sakit [dan berkata], 'ah itu kan urusan Allah, ini kan bukan badan saya,' [...] di mana mereka taruh akalnya?” jelas Musdah.

Menurut penulis Muslimah Reformis: Perempuan Pembaru Keagamaan (2005) ini, kelompok penentang feminisme tak menangkap bahwa sebenarnya Islam sudah siap untuk memperkenalkan esensi kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh para feminis, termasuk memperperjuangkan keadilan bagi kelompok LGBT.

“[Feminisme] bukan hanya buat perempuan. Emang yang namanya LGBT bukan orang?" tanya Musdah, retoris. "Yang anti feminisme itu larinya pada anti kemanusiaan. Bukankah semua agama itu mengajarkan tentang kemanusiaan?”

Menurut Musdah, kemunculan kelompok penentang feminisme yang semakin lantang belakangan ini untuk menolak keberadaan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Maka dari itu, mereka bersatu untuk menjaring massa melalui berbagai macam cara.

Penulis dan pembicara yang kerap mengedepankan tema perempuan dan keislaman, Kalis Mardiasih, mengatakan bahwa gerakan kelompok Islam penentang feminis sebenarnya bukan hal baru. Hanya saja, di era sosial media saat ini, mereka lebih terlihat. Dalam melancarkan serangannya, kelompok penentang feminisme biasa menggunakan pemahaman Islam yang tidak memiliki perspektif gender.

“Padahal, hari ini, sebetulnya sudah banyak tafsir Islam yang lebih progresif, yang punya perspektif gender yang tujuan pandangannya itu keadilan,” ujar perempuan yang besar sebagai nahdiyin ini, kepada Tirto.

Setiap kali menjadi pembicara, Kalis mengaku kerap menunjukkan pemahaman Islam sebagai ilmu pengetahuan dan menggunakan pendekatan melalui contoh yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang boleh atau tidaknya perempuan pergi tanpa muhrim. Di kanal-kanal konservatif, imbuh Kalis, biasanya mereka akan menjawab bahwa hal tersebut haram.

“Kasus begitu disesuaikan zaman sekarang sudah enggak tepat, enggak sesuai," kata Kalis, menirukan ucapannya kepada khalayak. "Kalau gini, kalian enggak boleh lho kuliah ke luar kota, harus sama ayah. Apalagi misalnya kita kuliah sampai luar negeri, terus kerja."

Kalis melihat Islam merupakan ilmu pengetahuan yang dipahami sebagai jalan hidup, sehingga ia dinamis. Agama baginya juga merupakan sarana untuk mencapai keadilan.

Infografik Anti Feminisme di Indonesia
undefined


Kalis mencontohkan tentang perkawinan Aisyah dan Nabi Muhammad yang sudah tak cocok dilakukan pada zaman sekarang. Saat ini, perkawinan anak banyak menunjukkan ketidakadilan.

“[Pernikahan anak] banyak menyebabkan kekerasan terhadap perempuan, memutus kesempatan perempuan untuk bersekolah lebih lanjut. Nah, feminisme melihat kondisi perempuan di sini,” ujar Kalis.

Dalam pernikahan anak, laki-laki biasanya masih bisa melanjutkan sekolah dan bekerja, berbeda dengan perempuan yang hamil dan memiliki beban reproduktif, sehingga sulit bagi perempuan untuk melanjutkan sekolah karena harus membesarkan sang buah hati.

Feminisme Penting (bagi Perempuan Indonesia)

Menurut Kalis, feminisme penting sebagai alat untuk membongkar tafsir lama terhadap ayat yang tidak adil karena budaya patriarki. Dengan menyadari perbedaan kondisi perempuan dan laki-laki, baik secara biologis maupun secara sosial, feminisme menjadi wadah untuk menyajikan keadilan dengan menilik perbedaan kondisi itu.

Penulis berusia 27 tahun ini juga menunjukkan bahwa feminisme penting untuk menjawab masalah-masalah yang terjadi pada perempuan. Jika memang tak suka feminisme, menurut Kalis, seharusnya kelompok anti-feminisme bisa menjelaskan secara jelas masalah-masalah perempuan seperti buruh migran dan kesehatan reproduksi melalui pengetahuan Islam yang mereka miliki agar pemahaman itu bisa menyelesaikan persoalan.

Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, juga memperlihatkan pentingnya kampanye "my body is mine". Pernyataan itu mengimplikasikan tubuh perempuan adalah integritas dirinya, untuk tidak dirusak atau dikuasai oleh orang lain. Hal ini, lanjut Mariana, merupakan bentuk proteksi terhadap diri perempuan.

Menurut Mariana, pemahaman soal feminisme yang baik bisa membuat orang sadar terhadap eksploitasi seksual dan kejahatan seksual yang mungkin terjadi. Laporan kekerasan seksual yang meningkat setiap tahun menjadi bukti bahwa perempuan makin sadar bahwa mereka mengalami ketidakadilan.

“Dengan adanya laporan yang meningkat setiap tahun soal kekerasan seksual, itu sebenarnya korban makin punya kepercayaan diri untuk melaporkan. Enggak mudah, lho, jadi korban kekerasan seksual itu untuk melaporkan,” ungkap Mariana.

Perempuan Indonesia, setidaknya para penyintas kekerasan seksual, secara langsung atau tidak, tertolong oleh gagasan feminisme.

Baca juga artikel terkait KESETARAAN GENDER atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani