3 November 644

Umar bin Khattab, Sang Penakluk yang Tewas Ditikam Budak Persia

Oleh: Irfan Teguh - 3 November 2018
Dibaca Normal 5 menit
Umar bin Khattab adalah penentang Islam paling keras yang kemudian berbalik menjadi pembela Islam paling gigih.
tirto.id - Salah satu keberhasilan dakwah Rasulullah adalah mampu membuat orang-orang yang semula menentangnya berbalik menjadi pendukung setia. Ada beberapa sahabat Rasulullah yang melakoni takdir macam itu, salah satunya Umar bin Khattab. Kelak, setelah Rasulullah wafat, sosok yang dikenal tegas ini menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar.

Watak tegas Umar serupa bapaknya, Khattab. Sang bapak pernah mengusir Zaid, anak saudaranya alias sepupu Umar, karena ia menjadi pengikut ajaran monoteisme Nabi Ibrahim yang menentang berhala.

Dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2003), Karen Amstrong mencatat bahwa Zaid dikenal masyarakat karena secara terbuka mengutuk penyembahan berhala dan mencemarkan adat kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun itu.

“Sikap dan pendiriannya yang demikian ini mengakibatkan rakyat menentangnya, dan di antara musuh-musuhnya, yang paling kuat dan tidak berbelas kasih adalah Khattab, ayah Umar,” tulis Amstrong.

Sikap Khattab yang kerap menyulitkan Zaid membuatnya terpaksa melarikan diri ke Gua Hira, meski sesekali ia tetap berkunjung ke Makkah secara diam-diam.

Penentangan terhadap monoteisme yang dilakukan bapaknya, dilakukan juga oleh Umar. Saat Rasulullah berdakwah di Makkah, Umar menjadi salah satu penentang yang paling keras. Hal ini membuat Rasulullah berdoa agar salah satu dari dua Umar menjadi pendukungnya.

“Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Dua Umar yang dimaksud adalah Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, dan satu lagi adalah Umar bin Khattab. Beberapa tahun kemudian, keinginan Rasulullah itu terkabul: Umar memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat Nabi yang paling dekat.

Sebelum Umar memeluk Islam, ada sebuah kisah terkenal yang menunjukkan bagaimana kerasnya Umar dalam menentang agama baru itu.

Masih dalam buku yang ditulis Karen Amstrong, disebutkan bahwa sekali waktu Umar berniat membunuh Rasulullah. Ia menyusuri jalanan Makkah menuju sebuah rumah di bukit Safa sambil membawa pedang. Rumah tersebut adalah tempat Rasulullah berada.

Sementara saat Umar pergi hendak membunuh Rasulullah, saudarinya yang bernama Fatimah, yang menikah dengan Sa’id (anak Zaid sepupu Umar), mengundang Khabbab bin al-Arat, seorang pandai besi, untuk membacakan ayat-ayat Alquran. Keduanya memang telah menjadi Muslim.

“Dalam perjalanannya menuju bukit Shafa, Umar didekati seorang Muslim dari klannya. Orang itu berusaha membelokkannya dari tujuan membunuh Nabi. Dia menyuruh Umar pulang dan menyaksikan apa yang tengah terjadi di rumahnya sendiri,” tulis Amstrong.

Umar bin Khattab kemudian kembali ke rumahnya. Saat ia memasuki jalan menuju rumah, ia mendengar ayat-ayat Alquran yang dilantunkan Khabbab bin al-Arat. Mengetahui kedatangan Umar, sang pelantun Alquran buru-buru bersembunyi.

“Suara apa itu?!” serunya sambil memasuki rumah.

Syibli Nu’mani dalam Umar bin Khattab yang Agung (1994) mengisahkan Fatimah menjawab pertanyaan Umar itu. Fatimah mengatakan suara itu bukan apa-apa dan tidak ada artinya.

“Jangan mencoba menyembunyikan apapun dariku. Aku telah mengetahui segala sesuatunya. Aku telah mendengar bahwa engkau berdua telah ingkar agama,” bentak Umar.

Umar kemudian menyerang Fatimah dan suaminya. Ia memukuli saudarinya sampai jatuh ke tanah dan berdarah. Mengetahui Fatimah terluka, Umar menghentikan perbuatannya.

“Umar! Lakukan apa yang kau kehendaki, Islam tidak akan pernah lepas dari hati kami,” ucap Fatimah.

Menurut Karen Amstrong, Umar kemudian memungut manuskrip Alquran yang ditinggalkan Khabbab. Sementara dalam catatan Syibli Nu’mani, Umar meminta Fatimah untuk menunjukkan apa yang tadi ia dengar. Lalu Fatimah menyodorkan manuskrip Alquran yang sebelumnya ia sembunyikan.

Umar yang yang dapat membaca dan menulis dengan fasih itu lalu mulai membaca ayat-ayat pembuka dalam surat Thaha.

“Betapa indah dan agungnya ucapan ini!” gumamnya.

Itulah momen ketika Umar tergerak dan mulai tertarik kepada agama yang dipeluk saudarinya. Ia lalu meraih pedangnya dan berlari menuju bukit Safa untuk menemui Rasulullah.

Sesampainya di tempat yang dituju, Rasulullah segera menarik jubah Umar sambil bertanya, “Apa yang telah membawamu kemari, hai anak Khattab?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan pesan yang dibawanya dari Allah.”


TEATER SINGA PADANG PASIR

Seniman Teater Matahari mementaskan lakon Singa Padang Pasir di Universitas Muhammadiyah Makassar (8/5/2017). Pertunjukan teater karya M. Hasan Pabdatabi Syam ini mengangkat kisah Umar bin Khattab. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Hijrah ke Yatsrib

Setelah masuk Islam, tidak seperti kaum Muslimin lain yang sembunyi-sembunyi dalam memeluk keyakinan baru mereka, Umar justru terang-terangan mengumumkan keislamannya di depan kaum Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah.

Ia memang sosok yang disegani, sehingga para penentang dakwah Rasulullah tidak ada yang berani menyentuhnya. Hal ini membuat kaum Muslimin yang semula tidak berani melaksanakan salat di dekat Kakbah menjadi leluasa beribadah di sana.

“Ketika Umar memeluk Islam, ia berperang dengan Quraisy sampai ia memenangkan perjuangan itu demikian jauh sehingga ia masuk Ka’bah di mana ia salat dan kita bersamanya,” kata Abdullah bin Mas’ud seperti dikutip Muhammad Husain Haekal dalam Umar bin Khattab (2002).

Keberanian Umar juga tergambar saat kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib atau yang kemudian bernama Madinah. Mereka berangkat diam-diam karena menghindari gangguan kaum Quraisy yang tak menghendaki ajaran Islam.

Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip Husain Haekal, menyebutkan bahwa ketika semua kaum Muhajirin (Muslim Makkah yang melakukan hijrah) melakukannya secara diam-diam, Umar justru melakukannya dengan terang-terangan sambil membawa pedang dan menyelempangkan busur panah. Sementara tangannya menggenggam anak panah dan sebatang tongkat komando.

Sebelum hijrah, ia pergi ke Kakbah melakukan tawaf, sementara orang-orang Quraisy berada di beranda Kakbah. Ia tawaf sebanyak tujuh kali, menuju Maqom Ibrahim, dan salat. Kepada kaum Quraisy yang menentang Islam, yang ia datangi satu-persatu, Umar berkata:

“Wajah-wajah celaka! Allah menista orang-orang ini! Barang siapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim atau istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah itu.”

Namun Husain Haekal menambahkan bahwa cerita Umar tersebut tidak ada dalam kisah yang diriwayatkan Ibnu Hisyam, Ibnu Sa’d, dan at-Tabari. Menurut mereka, Umar berangkat hijrah secara diam-diam, sama seperti kaum Muslimin lainnya.

“Dia melakukan itu [hijrah secara diam-diam] bukan karena lemah atau takut, yang memang tak pernah dikenalnya selama hidupnya, tetapi dia laki-laki yang penuh disiplin. Dia mengikuti jemaah dan meminta yang lain juga mengikuti mereka,” tulis Husain Haekal.


Perang dan Penaklukan

Dalam perjalanan Umar sebagai seorang Muslim, bersama Rasulullah ia turut dalam pelbagai peperangan antara kaum Muslimin dengan para penentang mereka. Umar terlibat dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, dan Perang Hunain.

Perang Badar yang dimenangkan kaum Muslimin sempat melahirkan perbedaan pendapat soal perlakuan terhadap para tawanan. Abu Bakar berpendapat untuk melepaskan para tawanan perang harus melalui mekanisme uang tebusan.

Sementara Umar dengan tegas menyatakan bahwa para tawanan sepatutnya dipenggal lehernya, dengan ketentuan setiap Muslimin memenggal kerabatnya sendiri.

“Umar menentang [pendapat Abu Bakar] dan menyatakan bahwa pertalian keluarga tidak harus berurusan dengan masalah-masalah mengenai kepentingan Islam yang vital,” tulis Syibli Nu’mani dalam Umar bin Khattab yang Agung.

Pada akhirnya, pendapat Abu Bakar lah yang disetujui Rasulullah.

Sementara dalam Perang Uhud yang berakhir dengan kekalahan kaum Muslimin, Umar termasuk dalam 30 orang sahabat yang melindungi Rasulullah yang terluka saat kaum Quraisy memburunya di celah bukit Uhud.

“Umar dan beberapa orang Muhajirin serta Ansar menerjang ke depan dan menghalau kembali para penyerbu,” imbuh Syibli Nu’mani.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, ekspedisi ke pelbagai wilayah telah dilakukan tapi masih dalam tahap awal. Sampai akhirnya khalifah pertama pengganti Rasulullah tersebut meninggal dunia.

Umar yang menjadi khalifah kedua meneruskan apa yang telah dilakukan khalifah pendahulunya. Di masa kekhalifahannya, Islam berhasil menaklukkan Irak, Suriah, Yerusalem, Persia, Mesir, dan lain-lain.


Subuh Terakhir dalam Hidup Umar

Pada tahun 23 Hijriyah atau 644 Masehi, di Madinah terdapat budak Persia bernama Firoz atau Fairuz yang nama keluarganya adalah Abu Lu’lu’i atau Abu Lu’lu’ah. Dialah orang yang membunuh Umar. Dalam pelbagai kisah yang menceritakan pembunuhan terhadap khalifah kedua tersebut, nama pembunuh yang kerap dipakai adalah Abu Lu’lu’ah.

Menurut sebagian sumber, motivasi Abu Lu’lu’ah membunuh Umar adalah dendam atas ditaklukkannya Persia oleh pasukan Muslim. Namun, terlepas dari benar tidaknya motivasi tersebut, berdasarkan catatan Syibli Nu’mani, pembunuhan terhadap Umar dilatari persoalan pajak.

Sekali waktu, Abu Lu’lu’ah datang menghadapi khalifah. Ia mengeluhkan pajak yang dibebankan tuannya, Mughirah bin Syubah. Ia meminta kepada Umar untuk mendesak tuannya agar menurunkan nilai pajak tersebut.

Umar bertanya kepadanya ihwal pekerjaan yang ia lakoni. Abu Lu’lu’ah menjawab bahwa ia bekerja sebagai tukang kayu, tukang cat, dan pandai besi. Menurut Umar, pekerjaan tersebut layak untuk dibebani pajak sebesar yang ia keluhkan.

“Jumlah [pajak] itu tidak banyak dibandingkan dengan pekerjaan yang menguntungkan ini,” kata Umar.

Abu Lu’lu’ah tidak terima dengan jawaban itu. Ia pun marah dan merencanakan untuk menghabisi Umar.

Infografik Mozaik Terbunuhnya Umar Bin Khatab


Keesokan harinya, Umar pergi ke masjid hendak salat Subuh berjamaah. Di sisi lain, Abu Lu’lu’ah yang Majusi pun pergi ke masjid dengan membawa sebilah belati. Saat Umar mulai mengimami salat Subuh, Abu Lu’lu’ah tiba-tiba menerobos dari belakang dan menghunjamkan belatinya sebanyak enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya mengenai panggul.

Sang khalifah terkapar dan berlumuran darah. Sementara Abu Lu’lu’ah, dalam kondisi terpojok, juga melukai jemaah lain dan akhirnya bunuh diri.

Umar kemudian dibawa ke rumah. Ia lalu bertanya, “Siapa pembunuhku?”

“Firoz,” jawab orang-orang.

“Segala puji bagi Allah bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang Muslim!” jawab Umar kembali.

Mulanya kaum Muslimin sedikit terhibur karena mereka mengira Umar akan pulih. Namun, saat tabib yang memeriksanya memberikan minuman hangat berupa campuran kurma dan susu yang diberikan kepada khalifah, minuman itu keluar dari luka-lukanya.

Sebelum meninggal, Umar menyuruh anaknya, Abdullah, untuk meminta izin kepada Aisyah, istri Rasulullah, agar ia dikuburkan disamping makam Rasulullah.

“Aku mempunyai pikiran untuk mencadangkan tempat ini bagi diriku, tetapi hari ini aku mengizinkan Umar didahulukan dari padaku,” ucap Aisyah.

Setelah mendapat jawaban dari Aisyah, Abdullah buru-buru kembali menemui ayahnya.

“Berita apa yang kau bawa kepadaku, oh anakku?” tanya Umar.

“Yang diharapkan memberikan kepuasan kepadamu,” jawab Abdullah.

“Itu adalah keiginanku yang paling besar,” kata Umar.

Pada 25 Zulhijah 23 Hijriyah atau 3 November 644, tepat hari ini 1374 tahun lalu, Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah yang semula amat keras menentang Islam dan berbalik menjadi pembela Islam yang gigih itu, akhirnya meninggal dunia.

Syibli Nu’mani menerangkan, pemakaman Umar dilakukan oleh Shuhaib bin Sinan, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf yang menurunkan jenazah sang khalifah ke liang lahat.

“Dan sang cahaya yang menyinari dunia itu tersembunyi dalam bumi untuk selama-lamanya,” tulis Nu’mani.

Baca juga artikel terkait SEJARAH ISLAM atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan