Uji Ilmiah 10 Tulah Mesir Kuno: Mengapa Wabah-Wabah Itu Terjadi?

Ilustrasi mural Mesir kuno. FOTO/iStockphoto
Oleh: Indira Ardanareswari - 7 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Dalam kitab-kitab agama Abrahamik diterangkan bahwa Sepuluh Tulah Mesir bermula ketika Firaun menolak permohonan Musa.
Wabah penyakit dan bencana alam selalu ada dalam setiap catatan sejarah umat manusia. Sejak ribuan tahun silam, manusia sudah pernah menyaksikan pelbagai macam wabah dan bencana mematikan. Bencana pertama yang terekam dalam perkamen kuno salah satunya terjadi di Mesir lebih dari 3.000 tahun silam.

Bencana Mesir kuno, sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab agama Abrahamik, dimulai ketika Firaun menolak permohonan Musa yang ingin memerdekakan bangsa Israel dari perbudakan. Setiap kali Firaun mengingkari janjinya kepada Musa, Tuhan mengirimkan serangkaian wabah dan bencana untuk menghukum penguasa Mesir itu.

Penolakan Firaun terjadi sebanyak sepuluh kali hingga melahirkan kisah Sepuluh Tulah Mesir. Pertama, Sungai Nil berubah warna menjadi merah darah. Peristiwa ini dilanjutkan dengan kemunculan hama belalang, katak, dan kutu pembawa penyakit yang membunuh manusia dan hewan ternak.

Belum cukup ditimpa bencana kelaparan dan penyakit, Mesir porak-poranda ketika badai petir dan hujan es melanda wilayah setempat. Anomali cuaca diikuti oleh kegelapan total yang terjadi selama tiga hari. Tragedi ini diakhiri dengan kematian misterius yang menimpa anak-anak sulung.

Kendati kisah ini amat terkenal dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran, selama bertahun-tahun para ilmuwan masih kesulitan menemukan benang merah yang menghubungkan tulah Mesir dengan kisah eksodus Bani Israel. Sebagian ilmuwan beranggapan bencana tersebut tidak terjadi secara berurutan di saat yang berdekatan. Lainnya berpendapat bahwa tulah Mesir kuno justru terjadi ketika kekuasaan Ramses II (1279–1213 SM) sudah berakhir dan Kerajaan Mesir mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran.

Kekacauan Sosial dan Perubahan Iklim

Menurut temuan para arkeolog, bukti-bukti terkait Sepuluh Tulah Mesir mengarah pada sebuah kota kuno bernama Pi Ramesses yang terletak di delta Sungai Nil. Menurut Encyclopedia Britannica, kota tersebut dibangun atas perintah Raja Seti I untuk mendukung kampanye militernya. Anak laki-laki sekaligus penerus Seti yang bergelar Ramses II kemudian memindahkan pusat kerajaan ke kota ini.

Egiptologis asal Inggris, Aidan Dodson, dalam tulisannya yang terbit di BBC menyebut periode pemerintahan Ramses II sebagai puncak kejayaan peradaban Mesir kuno. Akan tetapi, di saat bersamaan juga menjadi babak awal kejatuhan Kerajaan Baru Mesir kuno akibat kemunculan pesaing tangguh dari kawasan Asia Kecil (sekarang Turki).

“Meskipun hal ini sama sekali bukan masalah yang menentukan, kemunduran dalam teknologi militer tentu saja memengaruhi kemerosotan kualitas pemerintahan di masa yang akan datang,” terang Dodson.

Kemunduran dalam pemerintahan Mesir kuno, menurut Dodson, menimbulkan perpecahan di tingkat negara. Di bawah kekuasaan dinasti ke-21, Mesir pecah menjadi dua. Bagian utara dikuasai oleh penerus Ramses, sedangkan bagian selatan dikuasai oleh tokoh keagamaan bergelar Imam Besar Amun yang berkuasa di kota kuno Thebes.

Di tengah pertikaian politik tersebut, muncul kisah-kisah yang menceritakan kemalangan rakyat Mesir saat dilanda wabah dan bencana alam. Sherine El Sebaie, ahli peradaban Mesir kuno dari Universitas Ain Shams di Kairo, berpendapat kisah-kisah tentang sungai darah dan bau kematian yang menyapu Mesir baru muncul dalam teks-teks kuno yang diproduksi setelah Ramses II sudah tutup usia. Dia menyebutnya sebagai sajak tentang kekacauan nasional dari Mesir kuno

“Lihatlah, pusat dari segala kekacauan, tulah menyapu daratan, ada darah di mana-mana, kematian yang tidak sedikit. […] Lihatlah, sungai menjadi darah, tetapi orang-orang tetap meminumnya,” tulis Sebaine mengutip naskah kuno berjuluk Papirus Ipuwer dalam tesis masternya di Universitas Toronto (2000, PDF).

Menurut temuan Sebaie, naskah yang sama juga menunjukkan Mesir dilanda krisis keamanan dan bencana kelaparan setelah pemerintahan Ramses II berakhir. Para penguasa sibuk berperang tanpa peduli pada kekeringan dan serangan hama yang semakin parah. Kondisi ini diperburuk dengan pemberontakan dan pembunuhan yang semakin kerap terjadi di perdesaan.

Naskah Ipuwer merupakan kumpulan sajak yang ditulis di atas selembar kertas papirus. Tidak jelas apakah naskah ini ditulis berdasarkan kejadian nyata atau hanya karya sastra. Menurut para ahli, bencana yang dituturkan pada naskah tersebut memiliki kemiripan dengan tulah-tulah Mesir yang dijelaskan dalam kitab-kitab suci.

Agusto Magini, ahli paleoklimatologi dari Universitas Heidelberg, Jerman, secara tidak langsung mendukung temuan Sebaie tentang kekacauan nasional yang muncul sepeninggal sang Ramses II. Menurutnya, saat Ramses II masih berkuasa Mesir justru sangat makmur karena didukung iklim yang baik dan hasil panen yang melimpah. Kemerosotan kualitas hidup masyarakat Mesir kuno bermula ketika perubahan iklim mulai terjadi.

“Hujan turun dengan cukup dan negerinya tumbuh subur. Akan tetapi, periode basah hanya berlangsung selama beberapa dekade. Setelah kekuasaan Ramses berakhir, kurva iklim di Mesir menukik tajam. Kekeringan yang panjang menimbulkan akibat yang sangat serius,” papar Magini kepada The Telegraph.

Sungai Darah Pembawa Wabah

Curtis Malloy dan John Marr, dua ahli epidemiologi asal Inggris, pernah menyusun artikel berjudul “An Epidemiologic Analysis of the Ten Plagues of Egypt” dengan memanfaatkan terjemahan dari naskah Ipuwer. Para penulis menyimpulkan bahwa tulah Mesir kuno pada dasarnya timbul akibat kontaminasi persediaan makanan yang semakin menipis saat bencana kekeringan.

Marr dalam keterangannya kepada New York Times di tahun 1996 berpegang pada temuan bahwa tumbuhan alga merah yang mencemari Sungai Nil merupakan awal dari segala bencana tersebut. Disebutkan, alga merah mekar ketika debit air Sungai Nil sudah menurun drastis akibat kenaikan temperatur udara.

Burgundy Blood Algae atau Oscillatoria rubescens tidak sekadar mengubah warna air menjadi merah darah, tetapi juga menyerap kandungan oksigen dan melepaskan senyawa racun. Senyawa beracun inilah yang membunuh ikan-ikan hingga memaksa katak keluar dari air dan menyerbu permukiman.

Hilangnya katak dari habitatnya, lanjut Marr, populasi kutu dan lalat pun meningkat. Lambat laun kondisi ini memunculkan wabah penyakit pes yang menyerang manusia dan hewan ternak.



Laporan yang disusun oleh Eva Panagiotakopulu dalam artikel “Pharaonic Egypt and the origins of plague,” (2004, PDF) mendukung argumen Marr. Dia menemukan bahwa wabah pes pada periode Mesir kuno terjadi akibat bakteri yang dibawa kutu tikus yang berkembang biak di sekitar aliran Sungai Nil. Bakteri Yersinia pestis diperkirakan ditularkan dari tikus hitam dan tikus kapal yang berasal dari India dan Mesopotamia.

Bencana kelaparan juga terjadi ketika Mesir terkena dampak letusan gunung berapi Santorini sekitar 1600 SM. Siro Trevisanato, ahli biologi molekuler yang banyak menulis tentang wabah Mesir kuno, berpendapat angin musim panas dengan cepat membawa abu vulkanik ke Mesir dan menutupi cahaya matahari selama beberapa hari. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan hujan badai dan menghasilkan badai petir yang diikuti hujan es.

“Abu gunung berapi mengakibatkan anomali cuaca, menghasilkan endapan yang tinggi, kelembaban yang tinggi. Dan itulah yang menumbuhkan kehadiran belalang,” terang Trevisanato, seperti dilaporkan The Telegraph.

Setelah pasokan makanan musiman hancur akibat hujan es, tulah kedelapan berupa jutaan belalang datang menghancurkan ladang-ladang terakhir penduduk Mesir. John Marr menduga pada saat itu para petani tidak berpikir panjang saat menyelamatkan tanaman mereka. Sisa panen yang sudah terkontaminasi oleh bakteri dan jamur dari kotoran serangga tetap disimpan untuk kemudian dikonsumsi.

Jamur yang menempel pada tanaman bijian, menurut Marr, tumbuh lebih cepat dalam lumbung penyimpanan yang lembab. Kondisi ini mempercepat kemunculan jamur hitam bernama Stachybotrys atra yang bisa menyebarkan racun berbahaya bernama mikotoksin. Racun inilah yang diperkirakan membunuh anak-anak sulung dari keluarga petani yang umumnya bertugas memanen atau makan paling awal.

Pendapat terakhir Marr berbeda dari temuan Trevisanato yang dirangkum TIME. Menurutnya, data arkeologi menyebut adanya cerita tentang anak-anak dari keluarga bangsawan yang terbaring mati di depan umum. Trevisanato percaya bahwa di tengah wabah dan bencana tersebut, anak-anak sulung banyak yang dikorbankan dengan harapan dewa-dewa mereka berhenti menghukum mereka.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MESIR atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Irfan Teguh
DarkLight