Tukang Berkelakar Jayus Bisa Jadi Punya Masalah Serius

Infografik Lelucon Murah
Ilustrasi. Witzelsucht adalah kondisi di mana seseorang seringkali melontarkan lelucon, menganggap dirinya lucu dan susah tertawa dengan lelucon orang lain. Foto/iStock
Oleh: Dea Anugrah - 25 Februari 2017
Dibaca Normal 1 menit
Orang dekat Anda tak bisa berhenti menyampaikan kelakar jayus? Alih-alih menjadikannya bahan tertawaan, mungkin Anda perlu mengangkutnya ke neurolog.
tirto.id - Mari mulai dengan sebuah lelucon.

"Airnya segar, Mas?" tanya Dadan Saglad, bukan nama sebenarnya, kepada rekan kerjanya yang sedang kungkum di kolam renang.

"Iya," jawab si rekan sambil mengelap air dari wajahnya.

"Minum dong, kalau segar. Hehe."

Sehari sebelum itu, Dadan melontarkan gurauan lain kepada rekan yang sama: "Di sini saya kerja shift-shift-an, Mas... Pokoknya, shiiift (baca: sip)."

Lelucon-lelucon itu mengingatkan si rekan, yang lebih kepengin menenggelamkan diri ketimbang tertawa, kepada kasus Derek, juga bukan nama sebenarnya, yang ditulis oleh David Robson di BBC.

Hampir setiap malam, kata Robson, Derek membangunkan istrinya hanya buat menyampaikan lelucon buruk: “Bagaimana cara menghilangkan lapar? Menjauhlah dari meja buffet” atau ”Hari ini aku pergi ke kantor polisi untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Mereka mengetes penglihatanku dengan ABCDEFG, HIJKMNLOP, QRS, TUV, WXY dan Z; Ya, aku hapal alfabet, jadi kapan aku bisa menerima SIM?”

Masalahnya, Derek selalu terbahak-bahak seperti keledai tua setelah menyampaikan lelucon-leluconnya.

“Derek terus-terusan melucu, sampai tak dapat disela, ketika saya wawancarai,” tulis Mario Mendez, neurolog dari University of California yang menangani Derek, dalam “Pathological Joking or Witzelsucht Revisited” yang diterbitkan jurnal Neuropsychiatry and Clinical Neuroscience edisi Musim Panas 2016. Menurut diagnosis Mendez, Derek mengidap witzelsucht atau “keranjingan guyon” gara-gara dua stroke yang menimpanya dalam lima tahun terakhir.

Salah satu kasus witzelsucht paling awal ditemukan oleh neurolog Jerman Otfrid Foerster pada 1929, saat ia mengoperasi tumor otak. Setiap kali Foerster mengotak-atik tumor itu, si pasien mendadak melontarkan plesetan demi plesetan (pada masa itu, pasien lazim dioperasi dalam keadaan sadar). Psikiater Abraham Brill juga melaporkan kasus serupa di International Journal of Psychoanalisis pada tahun yang sama. Ia mengaku berjumpa seorang pasien yang “bercanda soal apa pun dan dalam situasi apa pun.”



Umumnya, para pasien witzelsucht, termasuk Derek, menunjukkan satu pola: Mereka menganggap diri amat lucu, tetapi tidak sanggup tertawa karena lelucon orang lain.

Sebabnya ialah kerusakan pada “orbitofrontal cortex” di “frontal lobe” otak mereka. “Frontal lobe” mengatur, salah satunya, kemampuan analisis, maka orang-orang yang mempunyai masalah di bagian itu kesulitan mencerna informasi yang kompleks, termasuk lelucon.

“Momen 'ha ha' sesungguhnya berdekatan dengan momen 'aha,'” ujar Robson mengutip Jason Warren, neurolog dari University College London. Dan menurut Mendez, para pengidap witzelsucht kesulitan memahami hubungan antara sampiran dan punchline dalam lelucon yang rumit, sehingga mereka cenderung menyukai bentuk komedi yang paling sederhana: plesetan dan slapstick.

Pada sejumlah kasus, witzelsucht juga merupakan indikasi awal demensia, tepatnya demensia frontotemporal, yang kerap kali mengubah cara orang berempati kepada sesamanya. Pengidap demensia jenis ini, menurut Melissa Dahl dalam “Sometimes Puns Are a Sign of a Damaged Brain” yang diterbitkan New York Magazine, sangat mungkin “tidak mampu memahami perasaan orang lain.” Mereka, katanya, bahkan sanggup berkelakar dalam acara pemakaman.

Pendeknya, keranjingan guyon bisa jadi perkara serius yang bukan bahan tertawaan.

Dadan Saglad, untungnya, bisa berhenti memproduksi kelakar jayus. Besar kemungkinan, masalah yang ia alami sekadar selera humor yang “ganjil”. Tetapi selera humor semacam itu, yang menyerupai indikasi penyakit otak berat, bukan barang langka di Indonesia. Untuk menyaksikannya, kita hanya perlu menyalakan televisi.

Baca juga artikel terkait HUMOR atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight