Sejarah Indonesia

Tuduhan Korupsi dan Tamatnya Karier Raden Goenawan di Sarekat Islam

Oleh: Iswara N Raditya - 24 Desember 2017
Dibaca Normal 5 menit
Raden Goenawan adalah pesaing terberat Tjokroaminoto di Sarekat Islam (SI). Namun, karier politiknya hancur lantaran diduga menggelapkan uang organisasi.
tirto.id - Nama Raden Goenawan melesat pada permulaan dekade kedua abad ke-20. Ia laksana bintang terang bagi perkembangan Sarekat Islam (SI) di Jawa bagian barat kala itu. Awal 1913, Goenawan sukses merintis pendirian cabang-cabang SI di sejumlah daerah di pinggiran Batavia, termasuk Bogor, Purwakarta, dan Tangerang. Ia semakin mendapatkan panggung setelah terpilih sebagai Ketua SI cabang Betawi (Jakarta).

Pergerakannya yang militan dan masif membuat Raden Goenawan sering dibanding-bandingkan dengan kader paling potensial SI lainnya, yakni Oemar Said Tjokroaminoto, yang juga cemerlang di Jawa bagian timur. Goenawan kerap disebut sebagai Tjokro-nya SI untuk kawasan barat.

Kedua tokoh ini kemudian sama-sama menduduki lapisan tertinggi Centraal Sarekat Islam (CSI) atau kepengurusan pusat SI dan saling bersaing demi merebut simpati rakyat. Dan akhirnya, Tjokroaminoto yang menjadi pemenang setelah Goenawan didepak dari SI karena dugaan korupsi, tuduhan yang juga pernah dialamatkan kepada pemimpin besar CSI itu.

Raden Goenawan lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 1880. Ayahnya adalah seorang pejabat lokal yang ditugaskan di Ngawi sebagai asisten wedana atau pembantu bupati, seperti ditulis Akira Nagazumi, The Dawn of Indonesian Nationalism: The Early Years of the Budi Utomo 1908-1918 (1972:88).

Setelah lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Probolinggo, Goenawan sempat bekerja sebagai juru tulis pangreh praja di Ngawi. OSVIA adalah sekolah untuk calon-calon pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda. Hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang bisa bersekolah di situ.

Pegawai negeri rupanya bukan pilihan utama bagi Goenawan. Pada 1907, ia banting setir ke sektor swasta dengan menjadi kontraktor. Namun, itu pun tak lama. Belum setahun, Goenawan memutuskan untuk merantau, mengadu nasib ke Batavia, kini bernama Jakarta.


Di kota yang merupakan pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda itulah Raden Goenawan untuk pertamakalinya bertemu dengan Tirto Adhi Soerjo, seorang ningrat Jawa lainnya yang cukup terkenal dan sukses.
Tirto Adhi Soerjo, calon dokter yang tak lulus karena terlalu asyik menjadi jurnalis, lalu terjun ke dunia pergerakan dengan mendirikan perhimpunan bernama Sarikat Prijaji serta Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor, kala itu sedang merintis penerbitan suratkabar Medan Prijaji, ditulis Ahmat Adam, The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness 1855-1913 (1995:111).

Raden Goenawan yang rupanya juga tertarik dengan ranah pergerakan dan tulis-menulis akhirnya bergabung dengan Medan Prijaji sebagai redaktur sekaligus mengelola urusan periklanan surat kabar itu. Goenawan bersama jurnalis muda pemberani, Mas Marco Kartodikromo, pun tercatat sebagai anak didik Tirto Adhi Soerjo generasi pertama.

Dari Tirto Adhi Soerjo, Goenawan semakin memperdalam ilmu jurnalistik dan tentu saja seluk-beluk berorganisasi sekaligus mendapat bimbingan dalam upaya penyadaran rakyat bumiputera sebagai kaum yang belum merdeka, atau kata Tirto, “bangsa yang terprentah”.

Raden Goenawan sempat menjadi anggota sekaligus pengurus Boedi Oetomo (BO) tidak lama setelah perhimpunan yang dimotori para siswa sekolah dokter Jawa itu didirikan pada 1908 di Batavia. Namun, bukan BO yang melejitkan namanya di medan pergerakan nasional nanti, melainkan Sarekat Islam (SI).

Awal 1913, barulah Goenawan bergabung dengan Sarekat Islam. Kala itu, organisasi pimpinan Haji Samanhoedi yang berpusat di Solo ini sedang merintis masa suburnya berkat keterampilan Oemar Said Tjokroaminoto.

SI sebelumnya hanya suatu laskar keamanan bernama Rekso Roemekso milik Haji Samanhoedi dan terancam dibubarkan pemerintah kolonial pada karena tidak punya AD/ART. Oleh Tirto Adhi Soerjo, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), Rekso Roemekso dibuatkan AD/ART dan diakui sebagai cabang SDI di Solo pada 1912.


Namun kemudian, Samanhoedi ingin lepas dari bayang-bayang Tirto Adhi Soerjo dan meminta bantuan Tjokroaminoto untuk membuatkan AD/ART SDI Solo yang baru. Tjokroaminoto yang datang dari Surabaya ke Solo lantas mengusulkan kepada Samanhoedi agar nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam saja agar lingkupnya semakin luas.

AD/ART baru ala Tjokroaminoto itu selesai pada 14 September 1912 segera dikirimkan kepada pemerintah kolonial di Batavia untuk mendapatkan pengakuan resmi, dalam tulisan Robert Van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia (1984:127). SDI pun resmi berganti nama SI. Samanhoedi sebagai ketua umumnya, sementara Tjokroaminoto yang sempat memimpin SI cabang Surabaya segera naik level menjadi Wakil Ketua SI.

Tjokroaminoto bergerak tangkas di Jawa bagian timur dengan membentuk banyak cabang dan ranting SI. Di sisi lain, pamor Raden Goenawan turut naik. Selain memprakarsai berdirinya cabang-cabang SI di Betawi, Bogor, Purwakarta, dan Tangerang, ia juga sukses merekrut ribuan anggota SI dari seluruh pelosok Jawa Barat, seperti yang ditulis Sartono Kartodirjo, Sarekat Islam Lokal (1975:18). Goenawan pun terpilih sebagai Ketua SI cabang Betawi.


Infografik Jejak pergerakan raden goenawan

Goenawan vs Tjokroaminoto

Posisi Raden Goenawan semakin mapan saat ia mengambil-alih aset Tirto Adhi Soerjo, termasuk percetakan dan Hotel Medan Prijaji, serta menerbitkan suratkabar Pantjaran Warta. Pada akhir 1912 itu, Tirto sedang dirundung banyak persoalan, termasuk bermasalah dengan pemerintah kolonial dan diasingkan ke Maluku karena artikelnya yang menyinggung Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A.W.F. Idenburg.

Cemerlangnya Raden Goenawan yang berbarengan dengan kegemilangan Tjokroaminoto membuat dua tokoh SI ini selalu dibanding-bandingkan. Maka, timbullah aroma rivalitas di antara keduanya. Terlebih lagi, baik Tjokroaminoto maupun Goenawan sama-sama mengincar posisi puncak SI yang masih ditempati oleh Samanhoedi.


Raden Goenawan kian sering menggelar acara besar di wilayahnya, dengan mengundang pejabat SI pusat (Solo). Di hadapan mereka, ia membanggakan keberhasilan cabang-cabang SI yang dipimpinnya. Tidak dapat dipungkiri, Goenawan memang memainkan peranan penting bagi SI di Jawa Barat, khususnya Batavia, seperti ditulis Takashi Shiraishi, dalam Zaman Bergerak (1997:98).

Goenawan sosok yang brilian. Ia menerapkan taktik dengan menekankan solidaritas Islam. Ranting-ranting SI di wilayahnya dipimpin oleh orang-orang pilihan, yaitu para priyayi, pengusaha atau saudagar bumiputera, serta tokoh agama. Ekonomi rakyat menjadi fokus kaum priyayi dan pengusaha, sedangkan para kiai dan tokoh masyarakat, menitikberatkan pendalaman ajaran Islam.

Aksi menawan Goenawan pun membuat Samanhoedi terkesan yang kemudian menunjuknya untuk masuk ke jajaran pengurus SI pusat dalam kongres di Solo pada 25 Maret 1913 sebagai komisaris. Posisi ini membuat Goenawan semakin leluasa dalam menebarkan pengaruhnya.

Di sisi lain, sepak-terjang Goenawan yang dominan di Batavia dan Jawa Barat memercikkan konflik internal di kawasan itu. Pertentangan mulai muncul dari beberapa cabang SI di Jawa Barat, terutama di Bandung yang dikelola oleh Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Abdoel Moeis, juga SI cabang Banten pimpinan Hasan Djajadiningrat.


SI mulai terbelah menjadi dua kelompok besar. Goenawan yang menguasai sebagian besar SI Jawa Barat dan Batavia berkubu dengan orang-orang Samanhoedi dari Solo, sementara Tjokroaminoto didukung Soewardi, Moeis, juga Djajadiningrat, serta barisan SI di Jawa Timur. Samanhoedi kian erat merangkul Goenawan karena melihat pergerakan Tjokroaminoto yang mulai mengancam.

Kongres SI yang digelar pada 19 April 1914 di Yogyakarta menjadi akhir kepemimpinan Samanhoedi. Kongres ini dihadiri 147 delegasi, mewakili 81 cabang SI dari berbagai daerah yang jumlah anggota seluruhnya mencapai 440.000 orang, dalam karya Takashi Shiraihi (1997:98).

Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Centraal Sarekat Islam (CSI) atau pengurus besar SI yang kemudian memindahkan markas pusat dari Solo ke Surabaya. Sementara Raden Goenawan, berkat pamor dan pengaruhnya yang tak kalah besar, harus puas duduk sebagai Wakil Ketua CSI dalam kepengurusan baru itu.

Namun, jabatan itu rupanya menjadi capaian tertinggi Goenawan di SI, bahkan ia menjabat sebagai Wakil Ketua CSI tidak terlalu lama. Kubu Tjokroaminoto disinyalir mencari cara untuk menyingkirkan Goenawan yang bagaimanapun juga tetap menjadi ancaman bagi mereka.


Kendati begitu, sepak-terjang Goenawan sulit dihentikan yang memperluas pengaruhnya hingga ke Sumatera. Safrizal Rambe, dalam Sarekat Islam Pelopor Nasionalisme Indonesia (2008:77) menulis Goenawan dengan cerdik memanfaatkan ketidaksukaan cabang-cabang SI di Sumatera terhadap Tjokroaminoto lantaran tidak mendapat tempat di kepengurusan pusat CSI.

Goenawan semakin berjaya karena uang iuran dari cabang-cabang SI Sumatera mengalir ke kantongnya. Sementara di pusat, Tjokroaminoto justru terengah-engah karena cabang-cabang SI di Jawa banyak yang mengalami masalah keuangan.

Kian jelas bahwa kepengurusan besar SI terbagi menjadi dua kubu yang menampilkan sosok Raden Goenawan sebagai penantang utama sang ketua, Tjokroaminoto. Selain didukung cabang-cabang SI di Batavia, Jawa Barat, dan Sumatera, Goenawan memperkuat diri dengan menggandeng kembali rombongan Samanhoedi yang sebelumnya disingkirkan oleh Tjokroaminoto.

Berbagai cara dilakukan Tjokroaminoto untuk melemahkan kekuatan Goenawan, termasuk dengan memasukkan orang-orangnya ke wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kubu seberang.

Hingga akhirnya, pukulan telak menghantam Goenawan pada 1915. Terdengar kabar soal dugaan penggelapan uang yang dilakukannya. Diduga kuat, isu ini berkaitan dengan rivalitas Goenawan dengan Tjokroaminoto, ditulis A.P.E. Korver, Sarekat Islam, Gerakan Ratu Adil? (1985:37).

Kabar miring yang menerpa Goenawan ini pertamakali dihembuskan oleh Tjipto Mangoenkoesoemo, tokoh pergerakan berpengaruh sekaligus sahabat kental Soewardi Soerjaningrat yang berpihak kepada Tjokroaminoto. Tjipto menyebut Goenawan sebagai “satria maling” karena menggelapkan uang organisasi sebesar 60 ribu gulden (Shiraishi, 1997:106).

Dugaan ini semakin berkembang liar. Terlebih, D.A. Rinkes, perwakilan pemerintah kolonial yang dikenal dekat dengan Tjokroaminoto, secara terang-terangan mengakui Goenawan memang orang yang berpengaruh, tapi tidak bisa dipercaya dalam urusan keuangan.

Posisi Goenawan terjepit. Soewarsono, dalam tulisannya Berbareng Bergerak (2000:21), tuduhan korupsi itu kian gencar disuarakan oleh Tjokroaminoto dan para pendukungnya seperti Soewardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Abdoel Moeis, dan lainnya. Kepercayaan massa SI terhadap Goenawan pun meluruh, ditambah dengan hadirnya orang-orang Tjokroaminoto di cabang-cabang Jawa Barat dan Sumatera.


Kongres SI ke-4 di Bandung pada 17 Juni 1916 menjadi jurus pamungkas Tjokroaminoto untuk menghabisi Raden Goenawan. Di kongres itu, Goenawan semakin disudutkan dan dicopot dari jabatan sebagai Wakil Ketua CSI. Abdoel Moeis, yang ternyata orang asli Sumatera sekaligus pengurus SI cabang Bandung, ditunjuk sebagai penggantinya.

Akhir 1916, karier Raden Goenawan di SI berakhir sudah. Ia dipecat dan tidak mendapatkan kepercayaan lagi dari para pendukungnya yang dulu sangat loyal meskipun dugaan penggelapan uang itu berakhir tidak jelas tanpa pernah diajukan ke pengadilan.

Goenawan kembali mengelola suratkabar Pantjaran Warta setelah tersingkir dari SI dan bekerjasama lagi dengan Mas Marco Kartodikromo, sahabat lamanya saat di Medan Prijaji. Marco juga pernah menjadi anggota SI dan saat itu sedang geram dengan para pengurus CSI.

Bersama Marco, Goenawan mendekat dengan orang-orang SI cabang Semarang seperti Semoen dan Darsono yang nantinya menjadi “duri dalam daging” bagi CSI pimpinan Tjokroaminoto.

Kelak, orang-orang ini, kecuali Goenawan, mengusik CSI dan membentuk SI tandingan (SI Merah) yang menjelma menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Raden Goenawan sendiri kian meredup dan akhirnya hilang dari peredaran di tengah gemerlapnya era pergerakan nasional.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Suhendra