Tubektomi dan Hal-Hal Kelam yang Menyertainya

Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Februari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Metode kontrasepsi terampuh menjadi alat pengebiri kemanusiaan ketika dilaksanakan dengan paksaan.
tirto.id - Dewi Rosiati (53) memilih tindakan tubektomi saat melahirkan anak ketiganya di usia 37 tahun. Ia melakukannya sekaligus dengan prosedur operasi sesar pada tahun 2002. Alasannya, supaya tak perlu repot meminum pil KB atau memakai alat kontrasepsi lain.

Tubektomi lazim digunakan para wanita yang berumur menjelang kepala empat. Mekanisme mencegah kehamilan ini berlaku permanen, sehingga lebih banyak diperuntukkan bagi perempuan yang sudah tak memiliki keinginan hamil. Untuk wanita berumur 40 tahun, kehamilan bisa jadi berbahaya karena risiko komplikasi meningkat.

“Saya pikir sudah cukup, maka saat operasi sesar dokter menawarkan sterilisasi dengan cara diikat,” kata ibu rumah tangga yang berdomisili di Cipayung, Tangerang Selatan ini.

Tubektomi merupakan salah satu metode sterilisasi dengan mengoklusi tuba falopi dengan cara mengikat dan atau memotong, memasang cincin, atau mengangkat rahim sehingga sperma tidak bertemu ovum (sel telur). Meski begitu, ovum masih bisa terlepas dari ovarium secara normal, sehingga tidak mempengaruhi kerja hormon apapun.

Prosedur tubektomi menjadi salah satu pilihan jitu karena mampu mencegah kehamilan dengan tingkat keberhasilan sebesar 99 persen. Dari 200 orang yang melakukan tubektomi, hanya ada satu wanita yang gagal dan mengalami kehamilan. Kondisi ini dikarenakan tuba falopi bergabung kembali setelah tindakan.

Untuk melakukan tubektomi, ada beberapa prosedur yang harus dijalani. Yang pertama adalah pemeriksaan saluran tuba dengan alat berbentuk tabung tipis yang disebut laparoskopi atau mini-laparotomi. Di dalam tabung itu, terdapat kamera dan cahaya untuk membantu dokter menemukan tuba falopi. Lalu, akses masuk tabung ke dalam perut dibuat dengan sayatan sepanjang 5 cm di atas garis rambut genital.

Secara umum, metode ini memiliki banyak keunggulan, di antaranya hanya memakan waktu singkat dan tidak mempengaruhi kualitas hubungan seksual. Namun, lazimnya sebuah operasi, terdapat risiko komplikasi yang mungkin didapat, seperti perdarahan internal, infeksi, atau kerusakan organ lain sekitar tuba falopi karena alat masuk lewat ruang terbatas (sayatan kecil).

Selain itu, jika operasi gagal, pasien akan mengembangkan risiko kehamilan ektopik, yakni keadaan sel telur dibuahi di luar rahim, biasanya di tuba falopi. Tubektomi juga tak melindungi pasien dari infeksi menular seksual (IMS), sehingga perlu tambahan alat kontrasepsi lain seperti kondom untuk mencegahnya .

Wanita yang telah melakukan prosedur tubektomi dapat menjalani operasi pembalikan tuba ketika ia berubah pikiran untuk memiliki anak. Hanya saja, karena prinsip awalnya mencegah kehamilan secara permanen, tingkat keberhasilan pembalikannya hanya sebesar 40-80 persen.

Namun, kelemahan-kelemahan tersebut tak membuat sterilisasi hilang peminat. Sebelum dekade 1960-an, sterilisasi perempuan di Amerika Serikat memang lazim diterapkan pada wanita yang "terlalu tua" atau berisiko memiliki anak.

Kini, mereka yang berusia 15 sampai 44 tahun justru jamak mengandalkan sterilisasi sebagai kontrasepsi. Diperkirakan terdapat 190 juta pasangan di seluruh dunia pada tahun 2000 memilih sterilisasi bedah sebagai metode pengendalian kelahiran.

Kisah Kelam Sterilisasi di Dunia

Laporan Japan Times menulis tentang seorang perempuan baya yang menjadi salah satu dari sekian puluh ribu korban yang dipaksa melakukan sterilisasi di Jepang. Di usia kepala enam, perempuan asal Prefektur Miyagi, Sendai ini baru berani menggugat keadilan yang telah dirampas darinya berpuluh-puluh tahun lalu.

Pada 1958, ia melakukan operasi bibir sumbing. Lalu pada tahun 1972, saat berumur 15 tahun, pengadilan memutuskan dirinya termasuk golongan individu dengan gangguan intelektual. Ia pun harus melakukan prosedur sterilisasi sesuai ketentuan perundang-undangan.

Selepas sterilisasi, ia harus menderita sakit fisik berupa nyeri bagian perut. Tak hanya itu, banyak laki-laki menolaknya sebagai istri karena dianggap tak bisa menghasilkan keturunan. Jepang memang memiliki peraturan hukum yang mendiskriminasi orang dengan disabilitas, individu dengan penyakit mental, atau penyakit keturunan hingga tahun 1996.

Mereka diharuskan melakukan sterilisasi atau aborsi paksa. Tujuannya adalah mengeliminasi generasi “inferior” di Jepang. Selain perempuan Sendai tadi, masih ada 25 ribu korban sterilisasi lain yang belum diberi kompensasi oleh pemerintah. Sebanyak 16.500 orang menjalani operasi tanpa persetujuan.

“Kami berjuang untuk mewujudkan masyarakat tanpa diskriminasi terhadap disabilitas,” kata sang adik ipar sebagai juru bicara penggugat.

Undang-undang serupa juga pernah diterapkan di Swedia dan di Jerman pada pemerintahan Nazi. Namun, pemerintah kedua negara tersebut telah meminta maaf secara terbuka dan membayar kompensasi pada para korbannya. Pada 2016, Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) PBB merekomendasikan Jepang melakukan hal serupa dengan memberi kompensasi dan rehabilitasi.

infografik tubektomi


Namun, hal tersebut belum mereka lakukan hingga sekarang. Pemerintah Jepang malah tak berencana menyelidiki kembali catatan kelam pelanggaran HAM yang pernah mereka lakukan itu. Dalihnya: kantor pemerintah telah membuang banyak catatan sterilisasi paksa.

Di India, seperti ditulis Livemint, perempuan masih memikul beban sebagai akseptor sterilisasi. Rasio perbandingan antara laki-laki dengan perempuan di tahun 2016-2017 mencapai 1:52. Sterilisasi pada perempuan tetap menjadi pilihan populer. Perempuan usia 15-49 tahun yang telah menikah, sebanyak 36 persennya memilih sterilisasi. Baru disusul kondom 6 persen, dan pil 4 persen.

Lalu pada perempuan belum menikah tapi aktif secara seksual, sterilisasi tetap menjadi metode pilihan. Sebanyak 19 persen memilih prosedur ini, baru diikuti kondom sebanyak 12 persen. Namun, sterilisasi di India menorehkan sejarah kelam. Sebanyak seribu perempuan meninggal setelah operasi sterilisasi dalam lima tahun terakhir.

Pola pikir patriarkis membuat perempuan India menerima tanggung jawab keluarga berencana. Mereka mempercayai mitos yang mengatakan sterilisasi pria dapat menghilangkan kejantanan. Padahal, prosedur sterilisasi pada pria, yakni vasektomi, adalah prosedur yang lebih sederhana, tanpa jahitan, dan lebih efektif dibanding sterilisasi perempuan, termasuk tubektomi.

“Situasi ini diperburuk setelah sterilisasi paksa tahun 70an,” kata Poonam Muttreja, direktur eksekutif, Population Foundation di India, sebuah organisasi non-pemerintah yang menangani kebijakan advokasi dan penelitian tentang masalah kependudukan.


Baca juga artikel terkait KONTRASEPSI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani