Menuju konten utama

Tuban: Hidup dari Geliat Industri dan Karomah Para Wali

“Sebelum ada pabrik, petani di sini hanya panen setahun sekali. Sekarang bisa tiga kali," ujar Badrus, seorang petani di area sabuk hijau pabrik Semen Indonesia.

Tuban: Hidup dari Geliat Industri dan Karomah Para Wali
Taman Arboretum Bukit Daun yang berada di sekitar area tambang Semen Indonesia, Tuban. Taman ini merupakan hasil reklamasi lahan tambang semen yang diubah menjadi ruang publik yang asri. Tirto.id/Ads

tirto.id - "Pada 1990-an, Tuban nyaris seperti kota mati.”

Ungkapan di atas disampaikan Bupati Tuban Fathul Huda saat Tirto menyambanginya di komplek Pendopo Krido Manunggal Tuban, Jumat (14/12) lalu. Kepala daerah yang kerap menjadi penceramah agama itu menerangkan istilah “kota mati” didasarkan pada perbandingan jumlah penduduk, yang sebagian besar bekerja sebagai petani, dengan luas lahan.

Kalau saya hitung sekarang, penduduk kami 1,3 juta jiwa. Lahan yang bisa ditanami kira-kira 180 ribu hektare. Lahan sebanyak itu pun hanya dimiliki kurang lebih 200 ribu orang,” katanya.

Jumlah petani di Tuban berkisar di angka 900 ribu jiwa, kurang lebih 70% penduduk. Di hadapan kondisi semacam itu, Fathul menegaskan: lapangan pekerjaan merupakan kebutuhan yang niscaya. “Mau tidak mau harus ada perusahaan,” katanya.

Perusahaan besar yang pertama kali masuk ke Tuban adalah Semen Indonesia (SI)—kala itu namanya masih Semen Gresik. Pabrik SI didirikan di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Tuban, dan diresmikan Presiden Soeharto pada 26 September 1994. Kini ia memiliki kapasitas terpasang 14 juta ton semen per tahun, seiring bertambahnya pabrik dari 1 menjadi 4 unit.

“Walaupun serapan tenaga kerjanya tidak sesuai harapan kami—kebutuhan karyawan SI paling-paling hanya sekitar 1.000 orang—tapi multiplier effect-nya sangat bermanfaat. SI juga melakukan hal-hal yang sangat strategis sehingga turunannya bisa menggerakkan sektor ekonomi lain, misalnya UMKM. Inilah yang membantu kami menghidupkan Tuban,” kata Fathul.

Menurut Kementerian BUMN, per September 2017, Semen Indonesia memiliki 7.579 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan di Tuban. Serapan tenaga kerjanya mencapai 9.108 orang, sedangkan omset keseluruhan senilai Rp185,8 miliar.

Dilansir dari Katadata, jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Tuban pada 1994 adalah Rp3,8 miliar dan berlipat ganda jadi Rp227,1 miliar pada 2013. Pada 2013 pula, sumbangan Semen Indonesia terhadap PAD Tuban, sebagaimana dinyatakan Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Hussein, mencapai 40%.

“Tenaga kerja yang terserap oleh pabrik Semen Indonesia juga membuat daya beli masyarakat meningkat, sehingga roda perekonomian Tuban berputar,” kata Noor.

Pada 2016, ketika PAD Kabupaten Tuban tumbuh hingga Rp364,1 miliar, pajak yang diberikan SI berupa pajak galian, pajak penerangan jalan umum, PBB, serta retribusi air bawah tanah mencapai Rp100 miliar.

Infografik Advertorial Semen Indonesia 5

Infografik Tambang Tapi teman pak tani

Komitmen terhadap Industri Hijau

Area pabrik semen biasanya identik dengan debu dan suasana tandus. Sejauh mata memandang, hamparan kapur melulu. Putih. Luas. Namun, Tuban berbeda. Pohon-pohon hijau tersebar melingkari area penambangan kapur pabrik Semen Indonesia. Sedangkan area pascatambang—lantai penambangan dengan elevasi 30 mdpl—mulai terlihat rimbun berkat kehadiran puluhan ribu pohon jati, mahoni, sengon, johar, trembesi, kesambi, flamboyan, dan sebagainya.

“Pada aktivitas tambang batu kapur, area pascatambangnya memang berubah menjadi hutan produksi. Jika melihat foto-foto area ini awal 90-an, lalu membandingkannya dengan situasi pascareklamasi seperti sekarang, kondisi di sini sudah jauh lebih baik: hijau, rindang, dan banyak tanaman produktif,” kata Eko Purnomo, Manajer Reklamasi Lahan Semen Indonesia, kepada Tirto.

Lahan seluas 800 hektare di area pabrik Tuban itu awalnya adalah lahan gersang dengan tanah-pucuk (top ground) tipis. Selain semak belukar, hanya sedikit tanaman yang tumbuh. Keberhasilan reklamasi, sebagaimana diklaim Eko, dapat diukur berdasarkan Indeks Keanekaragaman Hayati di kawasan pascatambang.

Sebelum ditambang, kami survei jenis-jenis flora dan fauna yang ada di sini. Saat ditambang, fauna-fauna itu tentu saja berpindah. Tapi sekarang mereka kembali lagi, bahkan bertambah banyak,” kata Eko. Pria berkacamata itu menambahkan: "Indeks Keanekaragaman Hayati area pascatambang adalah 3,54 dalam skala 1 sampai 4. Sebelum itu, indeksnya hanya satu koma sekian.”

Pada Maret lalu, dari 154 hektare lahan eks tambang batu kapur yang telah direklamasi, 38 hektare di antaranya sudah kembali menjadi hutan. Deputi Bidang Logistik Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan capaian itu mementahkan dugaan bahwa kegiatan penambangan pasti merusak lingkungan.

"Ternyata, reklamasi ini bisa mengubah lingkungan menjadi lebih indah. Kita bisa mengambil hasil alam dan balik memberi kepadanya. Langkah ini perlu diketahui masyarakat luas," katanya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Semen Indonesia—yang dalam lima tahun terakhir memperoleh penghargaan Industri Hijau Level 5 (Tertinggi) dari Kementerian Perindustrian—berorientasi pada 3P: Profit, People, dan Planet. Bukan sekadar slogan, keseriusan perusahaan menjalankan komitmen itu diakui dua petani, Badrus Sholeh dan Darsilan, yang bercocoktanam di area sabuk hijau (green belt) pabrik Semen Indonesia.

Sebelum ada pabrik, petani di sini hanya panen setahun sekali. Sekarang bisa tiga kali, yakni panen padi, pari, dan pantun,” kata Badrus, diiring tawa. Pari dan pantun artinya padi-padi juga.

Badrus mengatakan masyarakat di Kecamatan Kerek bisa panen tiga kali setahun lantaran bekas galian tanah liat (bahan baku semen selain batu kapur) disulap jadi embung atau terminal air. Selain untuk budidaya ikan, embung-embung itu pun dimanfaatkan untuk mengairi persawahan yang puluhan tahun sebelumnya menerapkan sistem tadah hujan.

Selain padi, Badrus juga menanam jagung di galengan sawahnya. Sebelum ada embung, menanam jagung tak ubahnya pertaruhan. "Kalau hujan tidak turun, jagung tidak bakal tumbuh,” katanya.

Selepas musim panen terakhir, Badrus berangkat ke Tanah Suci. “Kemarin saya berangkat umroh,” ujarnya, lembut.

Badrus Petani Green Belt

Badrus seorang petani green belt --petani yang bercocok tanam di area sabuk hijau kawasan industri Pabrik Semen Indonesia, Kecamatan Kerek, Tuban-- mengangkat pipa air untuk mengairi sawahnya. Jauh sebelum pabrik semen berdiri, biasanya petani hanya panen sekali dalam setahun, namun saat ini bisa panen tiga kali dalam setahun lantaran bekas galian tanah liat--bahan baku semen selain batu kapur-- disulap menjadi embung (terminal air). tirto.id/ads

Darsilan, petani di area green belt batu kapur, menyebut aktivitas tambang sama sekali tidak mengganggu mata pencahariannya. “Dulu ini memang lahan keluarga saya, kemudian dijual ke pabrik, dijadikan area green belt, dan setelah itu dikembalikan lagi kepada masyarakat untuk diolah. Lahan ini masih bisa digarap oleh anak-cucu saya,” katanya.

Di sela-sela pepohonan keras yang ditanam SI (nangka, sukun, mangga, dan lain-lain), Darsilan menanam aneka tanaman palawija. Dalam setahun ia bisa panen hingga empat kali. “Pertama jagung, lalu cabai, lalu kacang tanah, dan ubi kayu,” terangnya. Selain menyediakan lahan, sejak 2003 SI pun memberikan pendampingan kepada 370 petani binaannya.

Bupati Tuban Fathul Huda menyebut hasil pertanian Tuban secara umum memang menggembirakan. “Untuk padi, kami ada surplus 60%, dan untuk jagung, surplusnya lebih dari 90%. Terbaik se-Jawa Timur,” katanya.

Selain industri dan pertanian, perekonomian Tuban juga digerakkan sektor pariwisata. Fathul menyebut setiap tahun ada 5 juta kunjungan wisata ke Tuban, dan 80% di antaranya merupakan wisata religi. Merujuk catatan Dinas Pariwisata Jawa Timur, sang bupati menambahkan bahwa di antara semua makam Wali Songo, makam Sunan Bonang di Tuban adalah yang paling ramai.

Disinggung apakah gambaran demikian, secara tidak langsung, menunjukkan bahwa perekonomian Tuban pada dasarnya digerakkan oleh geliat industri dan karomah para wali, sebagaimana Gresik yang identik dengan industri serta makam Maulana Malik Ibrahim dan makam Sunan Giri, Fathul tertawa.

Konon begitu. Kata orang yang ahli perwalian, kota yang dilewati para wali memang punya potensi tambang luar biasa.”

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis