Menuju konten utama

Tren Mobil Listrik, Faisal Basri: Bangun Kilang Minyak Dipikir Lagi

Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri meminta pemerintah memikirkan ulang rencana pembangunan kilang minyak mentah.

Tren Mobil Listrik, Faisal Basri: Bangun Kilang Minyak Dipikir Lagi
Faisal Basri saat acara INDEF di ITS Tower pada Senin (14/1/2019). Tirto.id/Vincent Fabian Thomas.

tirto.id - Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri meminta pemerintah memikirkan ulang rencana pembangunan kilang minyak mentah. Faisal yang juga merupakan mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas tahun 2015 menilai keputusan itu bisa merugikan pemerintah karena kurang sensitif terhadap pergeseran ke energi yang lebih bersih.

“Bisa bayangkan kilang baru jadi kalau akan dibangun 10 tahun lagi. Semakin mendekati 2040 saat pemerintahan bertekad tidak ada lagi produksi mobil konvensional. Semua mobil listrik atau B30-B40,” ucap Faisal dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Senin (31/8/2020).

Faisal mengatakan saat ini konsumsi minyak Indonesia memang sedang naik. Per 2019, konsumsi minyak Indonesia sudah mencapai 1,73 juta barel naik signifikan dari 1999 yang masih di kisaran 1 juta barel.

Sampai saat ini, ia bilang ide meningkatkan produksi minyak hingga 1-2 juta barel memang tampak masuk akal lantaran produksi Indonesia terus turun hingga di angka 781 ribu barel di 2019 dari tahun 1999 yang masih di atas 1,2 juta barel.

Namun, ia mengingatkan saat ini pemerintah sedang memacu industri mobil listrik baik itu baterai lithium maupun kendaraan bertenaga listrik. Belum lagi program biodiesel yang saat ini ditargetkan mencapai B40 atau paduan 60 persen solar dan 40 persen olahan minyak sawit dalam bentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Faisal bilang akan menjadi lebih bijak jika pemerintah menanggalkan ambisi membangun kilang ketimbang memaksakan kebijakan yang saling bertentangan satu sama lain dan menyisakan kendaraan listrik atau biodiesel.

“Waktu itu [2040] produksi kilang bisa 2 juta barel, itu mau dijual ke mana. Mobil kita sudah biodiesel atau listrik. Ini jalan sendiri-sendiri. Hanya Bapak-Ibu [Komisi VI DPR RI] yang bisa setop,” ucap Faisal.

Potensi kerugian, menurut Faisal, semakin tak terhindarkan karena sebagian besar pembangunan kilang memang ditujukan untuk minyak mentah. Menurut Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), ada total 6 proyek yang tergabung dalam Refinery Development Master Plan (RDMP) dan New Grass Root Refinery (NGRR).

Menurut Faisal, jika mau realistis, pembangunan kilang tidak lagi ditujukan bahan bakar, tetapi untuk keperluan petrokimia lantaran lebih bernilai tambah dan menguntungkan secara jangka panjang. Mirisnya, kata Faisal, dari 6 proyek itu, hanya 2 yang bisa menjawab keperluan Petrokimia.

“Jadi bangun kilang terintegrasi petrokimia. Yang baru-baru batalkan segera. Kuncinya meyakinkan Pak Jokowi ini bukan aib. Masanya sudah lewat. Waktu kita mau bangun, belum ada B30-B40 dan mobil listrik,” ucap Faisal.

Baca juga artikel terkait KILANG MINYAK atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri