3 Desember 1967

Transplantasi Jantung Manusia Pertama di Tengah Politik Apartheid

Oleh: Uswatul Chabibah - 3 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
“Dokter, jika Anda tidak dapat menyelamatkan putri saya, maka selamatkanlah orang ini.”
tirto.id - Sabtu sore yang cerah di Cape Town pada 2 Desember 1967, Denise Darvall bersama ayah dan ibunya sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi kawan-kawan mereka. Keluarga itu berhenti sejenak di Wrench’s Bakery hendak membeli buah tangan. Sementara Denise dan ibunya, Myrtle, membeli kue, ayahnya menunggu di mobil di seberang jalan. Ketika Denise dan ibunya menyeberang jalan untuk kembali ke mobil, sebuah mobil polisi yang melanggar lampu merah menghantam mereka. Myrtle Darvall meninggal di tempat, sedangkan Denise yang terluka parah segera dilarikan ke Groote Schuur Hospital tak jauh dari lokasi kecelakaan.

Sore itu juga Denise Darvall dinyatakan mengalami mati otak, yang menurut hukum di Afrika Selatan pada masa itu berarti statusnya sudah meninggal. Beberapa jam kemudian, dokter di rumah sakit menanyakan kepada Edward Darvall apakah boleh meminta jantung putrinya untuk ditransplantasikan ke tubuh pasien lain yang sangat membutuhkan donor.

“Dokter, jika Anda tidak dapat menyelamatkan putri saya, maka selamatkanlah orang ini,” jawab Edward Darvall.

Operasi dimulai pada tengah malam dan berhasil selesai pada Minggu dini hari 3 Desember 1967, tepat hari ini 54 tahun lalu. Jantung seorang gadis muda berusia 25 tahun yang dinyatakan meninggal sehari sebelumnya kini berdetak lagi. Kali ini di dalam dada seorang laki-laki berusia 54 tahun bernama Louis Washkansky yang sebelumnya sekarat karena gagal jantung sekaligus diabetes—kondisi yang tidak ideal sebagai penerima donor dengan standar masa kini.

Transplantasi jantung antarmanusia yang pertama itu dilaporkan tiga pekan kemudian dalam South Africa Medical Journal.

“Segera setelah donor dinyatakan meninggal (ketika elektrokardiogram menunjukkan ketiadaan aktivitas selama 5 menit dan ketiadaan gerakan pernapasan spontan serta ketiadaan refleks), satu dosis 2 mg heparin/kg berat tubuh disuntikkan melalui intravena. Dada donor dibuka secara cepat, dengan median sternotomi, dan perikardium dibelah secara vertikal…” (Barnard, CN. A Human Cardiac Transplant: An Interim Report of A Successful Operation Performed At Groote Schuur Hospital, Cape Town. South Africa Medical Journal. 30 December 1967, hlm. 1271).

Laporan itu ditulis sendiri oleh dokter jantung Christiaan Barnard yang memimpin jalannya operasi. Keberhasilannya memindahkan jantung manusia ke manusia lain untuk pertama kalinya di dunia menjadikannya selebritas dalam semalam. Transplantasi jantung itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah di abad ke-20 yang dapat disandingkan dengan pendaratan di bulan dua tahun kemudian, dengan semua mata dan media tertuju.

Dengan jantung baru, hari demi hari Louis Washkansky berada dalam sorotan media—demikian juga Christiaan Barnard. Apa pun yang dilakukan Washkansky sejak bangun pagi, tersenyum ke arah kamera, duduk, berbincang dengan istrinya, lalu sarapan telur rebus, akan muncul di halaman utama media-media di seluruh dunia. Demikian juga ketika Washkansky meninggal 18 hari kemudian karena pneumonia. Edward Darvall berduka untuk kedua kalinya, karena tak ada lagi bagian tubuh putrinya yang “masih hidup”.

Isu Etik dan Definisi Kematian

Popularitas Chris Barnard tak redup meski transplantasi pertama itu memperpanjang umur Washkansky hanya 18 hari. Pasien kedua Barnard adalah seorang dokter gigi bernama Philip Blaiberg, usia 59 tahun. Operasi yang berlangsung pada 2 Januari 1968 tersebut memodifikasi metode operasi sebelumnya. Barnard menggunakan metode yang dikembangkan pada anjing oleh Norman Shumway dari Universitas Stanford pada awal 1960-an. Metode inilah yang kemudian diadopsi oleh para dokter bedah jantung.

Transplantasi jantung yang kedua ini juga menarik perhatian media. Pertanyaan tentang etik dan definisi tentang kematian pun muncul, terlebih karena donor adalah seorang kulit hitam dan penerimanya adalah seorang dokter kulit putih. Saat itu politik apartheid masih berlaku ketat di Afrika Selatan.

Chris Barnard dan keluarganya adalah penentang keras apartheid. Latar belakang keluarga Barnard mengonfirmasi hal tersebut. Keluarga Barnard tinggal di wilayah pinggiran antara Johannesburg dan Cape Town yang dihuni oleh warga kulit hitam. Ayahnya, Adam Barnard, adalah seorang pendeta di sebuah gereja kecil yang hanya melayani warga kulit hitam. Di jalan yang sama, berdiri sebuah gereja megah dan indah yang hanya boleh dihadiri oleh warga kulit putih, kecuali keluarga Barnard. Keluarga ini dipandang hina oleh keluarga kulit putih lainnya karena ayah mereka melayani warga kulit hitam dan mau berjabat tangan dengan orang-orang kulit berwarna. (Styan, James-Brent. 2017. Christiaan Barnard and The First Heart Transplant).


Infografik Mozaik Transplantasi Jantung
Infografik Mozaik Transplantasi Jantung. tirto.id/Tino


Ketika Barnard menjadi dokter pun ia memastikan bahwa semua pasien mendapatkan perlakuan yang sama tanpa memandang warna kulit. Ia juga menunjuk perawat-perawat terbaik untuk mengepalai bangsal, meskipun hukum yang berlaku di Afrika Selatan menyatakan bahwa suster kulit hitam tidak berhak menjadi kepala bangsal.

Bahkan sebelum melakukan transplantasi jantung pertama, Chris Barnard memutuskan bahwa baik donor maupun penerima donor jantung harus sama-sama kulit putih. Barnard mempertimbangkan bahwa bila salah satu atau keduanya merupakan warga kulit hitam, maka tindakan medis tersebut akan disalahartikan sebagai eksperimen kedokteran kepada warga kulit hitam. (Cooper DKC. The surgeon who dared: The story of the first human-to-human heart transplant. Global Cardiology and Practice 2018: 11).

Raymond Hoffenberg, dokter yang merawat laki-laki kulit hitam yang jantungnya kemudian didonorkan kepada Philip Blaiberg itu melaporkan bagaimana malam itu ia didesak untuk menyatakan bahwa pasiennya sudah meninggal.

“Saya menolak. Pasien saya masih menunjukkan sedikit refleks neurologis. Saya kemudian pulang ke rumah. Satu atau dua jam kemudian saya kembali ke rumah sakit, masih mendapati adanya refleks dan saya tetap menolak menyatakan kematian pasien saya.” (Hoffenberg R. (2001). Christiaan Barnard: his first transplants and their impact on concepts of death. BMJ (Clinical research ed.), 323(7327), 1478–1480).

Baru keesokan paginya ketika Hoffenberg tidak menemukan lagi adanya refleks, ia bersedia menyatakan kematian pasiennya, sehingga transplantasi dapat dilakukan.

Definisi kematian menjadi perhatian para praktisi kesehatan setelah Barnard melakukan transplantasi kedua. Pada tahun 1968, panitia ad hoc dari Harvard Medical School menerbitkan sebuah laporan berjudul “A definition of irreversible coma. Report of the Ad Hoc Committee of the Harvard Medical School to Examine the Definition of Brain Death”. Dalam laporan itu disepakati bahwa untuk pasien dalam keadaan koma permanen atau mengalami mati otak, alat-alat penunjang hidupnya dapat dihentikan, dan dengan persetujuan yang layak, organ tubuhnya dapat didonorkan.

Tetapi kurangnya presisi atas apa yang dimaksud dengan mati otak menimbulkan kebingungan. Amerika Serikat terus-menerus memperbaiki definisi kematian manusia, tetapi yang akhirnya digunakan secara luas adalah definisi kematian versi akademisi Inggris. Pada 1976, UK Conference of Royal Colleges menyepakati bahwa yang dimaksud dengan mati otak adalah hilangnya fungsi batang otak sepenuhnya secara permanen. (Hoffenberg R. (2001). Christiaan Barnard: his first transplants and their impact on concepts of death. BMJ (Clinical research ed.), 323(7327), 1478–1480).

Baca juga artikel terkait TRANSPLANTASI atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Uswatul Chabibah
Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight