Tragedi Jatuhnya AirAsia QZ8501 di Laut Jawa pada Desember 2014

Oleh: Desika Pemita - 12 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
AirAsia QZ8501 jatuh di perairan Selat Karimata pada 28 Desember 2014, dengan membawa 162 orang di dalamnya.
tirto.id - Kabar duka kembali menyelimuti dunia penerbangan Tanah Air. Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Tujuan Jakarta-Pontianak jatuh di perarian Kepulauan Seribu, pada Sabtu (9/1/2021).

Pesawat jenis 737-500 dengan nomor registrasi PK-CLC itu sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada pukul 14.40 WIB.

Sriwijaya Air SJ182 membawa 62 orang, yang terdiri dari: 6 awak pesawat dan 56 penumpang. Rinciannya: 43 dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi.

Menurut data yang diperoleh dari Flightradar24.com diamati, sebelum jatuh, pesawat terbang merendah namun dalam kecepatan yang tinggi dan menghantam laut.

Hingga kini, tim gabungan terus berupaya mencari korban dan puing-puing pesawat di laut untuk diidentifikasi.

Penyebab jatuhnya SJ182 juga masih menunggu proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

AirAsia QZ8501


Sebelumnya, pada 6 tahun lalu, pesawat AirAsia QZ8501 tipe Airbus A320-200 juga jatuh di wilayah perairan selat Karimata sesaat setelah lepas landas pada 28 Desember 2014. Tidak ada korban selamat dalam kecelakaan tersebut.

Dilansir dari BBC, AirAsia QZ8501 tersebut membawa 162 orang dari Surabaya ke Singapura. Pesawat dilaporkan hilang kontak setelah kurang lebih 40 menit lepas landas dari bandara Juanda.

Penyelidik, yang awalnya mengindikasikan bahwa cuaca buruk yang mungkin menyebabkan kecelakaan itu, telah menemukan bahwa komponen yang rusak dan tindakan awak menjadi penyebabnya.

Puing-puing dan mayat ditemukan mengambang sekitar 16km (10 mil) dari koordinat terakhir pesawat yang diketahui.

Indonesia dan Singapura meluncurkan operasi pencarian gabungan. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan pesawat tersebut setelah lebih dari tujuh jam kehilangan kontak.

Kronologi Jatunya QZ8501

Djoko Murjatmodjo, penjabat direktur jenderal transportasi Indonesia saat itu, menjelaskan, komunikasi terakhir antara pilot dan kontrol lalu lintas udara adalah pada pukul 6:13 WIB pagi.

Pukul 06.11 Kapten Irianto yang memimpin penerbangan tersebut mengontak pengawas penerbangan Bandara Sukarno-Hatta untuk minta persetujuan bermanuver ke kiri sekali lagi. Ia melapor berada di ketinggian 32.000 kaki.

Kapten Irianto lalu membelokkan pesawat Airbus A320-200 itu ke arah 310 derajat. Pengawas penerbangan juga meminta Kapten Irianto melapor lagi jika cuaca membaik.

Tak berselang lama, Kapten Irianto mengontak lagi pengawas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. Bukan untuk melaporkan status cuaca, tapi minta izin menaikkan pesawat ke ketinggian 38.000 kaki.

Kali ini pengawas penerbangan meminta pesawat untuk tak melakukan perubahan ketinggian karena saat bersamaan ada tujuh pesawat lain di jalur yang sama.

Pengawas penerbangan perlu memastikan tak ada pesawat lain di atas QZ8501. Juga, ia perlu melapor ke menara pengawas Bandara Changi kalau-kalau ada pesawat lain di arah berlawanan.

Izin menaikkan ketinggian baru diberikan dua menit kemudian. Namun, pesawat QZ8501 sudah lebih dulu mendaki langit tanpa menunggu aba-aba dari pengawas penerbangan di Soekarno-Hatta.

Lebih aneh lagi, kecepatan pesawat juga menurun seiring pertambahan ketinggian. Saat dikontak pun tak ada jawaban dari Kapten Irianto.

Sesuatu yang buruk jelas sedang menghadang pesawat QZ8501. Berkali-kali pengawas penerbangan mencoba mengontak Kapten Irianto.

Semua panggilan tak berjawab hingga komunikasi keduanya benar-benar terputus pukul 06.18.

Meski begitu pesawat QZ8501 masih terlihat di layar. Lagi-lagi keanehan terjadi, pesawat itu berganti haluan berkali-kali hanya dalam rentang waktu lima menit. Lalu horor menyeruak ketika pesawat buatan 2008 itu hilang dari radar pukul 06.24.

Pengawas penerbangan di Soekarno-Hatta memerintahkan pesawat lain di jalur yang sama mengontak QZ8501, tapi sama saja hasilnya nihil.

Setelah setengah jam tanpa kabar, pukul 07.08, pengawas penerbangan menyatakan status incerfa—fase tak ada kepastian—dan melapor ke Basarnas.

Pagi itu, 28 Desember 2014, AirAsia nomor penerbangan QZ8501 jatuh di wilayah perairan Selat Karimata.

Dikenal sebagai Pesawat yang Aman


AirAsia QZ8501 merupakan pesawat Airbus yang dikenal aman. A320, meliputi A319 dan A321, memiliki catatan keselamatan yang sangat baik, dengan hanya 0,14 kecelakaan fatal per juta lepas landas, menurut sebuah studi keselamatan yang diterbitkan oleh Boeing pada bulan Agustus 2014.

Pesawat tersebut juga dikenal canggih. Jet Airbus sangat canggih dan mampu secara otomatis menyesuaikan diri dengan pergeseran angin atau gangguan cuaca lainnya.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi lewat Kemhubri mengumumkan hasil akhir investigasi pada tanggal 1 Desember 2015.

Pada laporan tersebut, dinyatakan bahwa penyebab pesawat nahas tersebut jatuh ialah karena adanya kerusakan pada bagian rudder-travel-limiter (FAC) bagian pesawat yang membatasi gerakan rudder di ekor pesawat yang dihasilkan akibat adanya keretakan kecil di bagian solder, sehingga solder tidak menghantarkan listrik dengan benar.

Miskomunikasi di antara kedua pilot juga memperparah keadaan, dan menyebabkan pesawat tersebut jatuh ke Laut Jawa dengan 162 orang di dalamnya.

Hasil akhir itu juga menyatakan bahwa pesawat tersebut telah mengalami masalah kerusakan sebanyak 23 kali dan tidak terdeteksi oleh teknisi AirAsia.

Langkah Pilot saat Darurat

Analis penerbangan CNN Mary Schiavo menjelaskan mengenai langkah yang diambil pilot dalam kondisi mendesak.

Menurutnya, dalam panggilan dengan kontrol, pilot harusnya mengeluarkan panggilan "mayday" atau "pan-pan."

Mayday berarti pesawat dalam bahaya, seperti kehilangan penerbangan. Sementara, pan-pan panggilan mendesak tetapi bisa melanjutkan penerbangan dan meminta rute atau bandara alternatif.

Namun Alan Diehl, mantan penyelidik kecelakaan Angkatan Udara dan NTSB, mengatakan pilot tidak selalu melakukan panggilan mayday dalam keadaan darurat.

"Anda tahu bahwa pengontrol tidak dapat membantu. Anda dan co-pilot Anda harus menyelesaikan ini," katanya.


Baca juga artikel terkait KECELAKAAN AIRASIA atau tulisan menarik lainnya Desika Pemita
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Desika Pemita
Penulis: Desika Pemita
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight