9 Desember 2013

Tragedi Bintaro II: Malapetaka Kereta yang Berulang

Ilustrasi Tragedi Bintaro II. tirto.id/Deadnauval
Reporter: Felix Nathaniel - 9 Desember 2019
Dibaca Normal 5 menit
Tragedi Bintaro I menjadi yang terburuk sepanjang sejarah perkeretaapian Indonesia. Namun sejarah berulang dalam Tradegi Bintaro II.
tirto.id - Jumat, 29 November 2019. Sebuah sepeda motor matik berpelat G 6454 NF ringsek total di Desa Tegalwangi, Tegal, akibat tertabrak kereta Joglosemarkerto yang menuju Purwokerto. Bagian depan motor itu--ban, spakbor, pelat nomor, dan lampu--koyak. Bangku pengemudi sudah tak lagi menempel. Sementara sang pengemudi tewas seketika.

Dua jam sebelumnya, kereta Joglosemarkerto lain arah Semarang juga menabrak mobil di rel sekitar Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Tegal. Kejadian ini disebabkan tidak tertutupnya palang pintu stasiun. Mobil yang melintas terkena hantaman di bagian muka, kedua penumpang pun masih selamat. Kendati terjadi dua kecelakaan dalam waktu berdekatan, aktivitas kereta api masih tetap dilanjutkan.

Pada 9 Desember 2013, tepat hari ini enam tahun lalu, kecelakaan kereta kembali terjadi. Kali ini, kendaraan yang tertabrak adalah truk pengangkut bensin dari Pertamina

Sekitar pukul 11.01 pagi, satu kereta Serpong-Tanah Abang meninggalkan stasiun Sudimara. Meski terlambat berangkat karena masalah pendingin udara, kereta tetap mengangkut banyak penumpang di stasiun Jurangmangu dan Pondok Ranji untuk bertolak ke perhentian terakhir.

Kereta baru berjalan 4 menit dengan jarak sekitar 2,5 kilometer dari stasiun Pondok Ranji. Sekitar pukul 11.15, kereta yang melintas dengan kecepatan sekitar 57,7 kilometer/jam itu menabrak truk tangki Pertamina di perlintasan palang pintu Pondok Betung atau perlintasan nomor 57A, Bintaro.

Truk Pertamina yang membawa 24 kiloliter bensin itu terseret sekitar 25 meter kemudian meledak hingga tiga kali. Asap hitam membumbung ke udara. Sementara para penumpang yang berada di dalam kereta tergencet satu sama lain imbas gerbong terguling dan keluar jalur. Gema takbir berkumandang, penanda ketakutan luar biasa.

"Allahu akbar, Allahu akbar..." ucap salah seorang penumpang bernama Dinda Irmawati seperti dilansir Liputan6. "Saya nginjek orang dan saya dengar yang di bawah sudah teriak minta tolong. Lalu saya pegang besi di atas dan nggak lama warga buka pintu."

Warga yang berada di sekitar dengan segera membuka paksa pintu kereta. Dinda mengklaim jadi orang ketiga yang berhasil dikeluarkan. Tasnya yang tersangkut sesuatu harus dia relakan demi menyelamatkan nyawanya, sebab kala itu api sudah merambat dan membakar sebagian rambutnya.

Salah seorang saksi hidup lain bernama Monika Astridlia. Ia seorang karyawan swasta yang berkantor di bilangan Tendean, Jakarta Selatan. Hari itu Monika masuk agak pagi dari biasanya, maka ia pun cukup was-was karena datang terlambat ke stasiun Sudimara. Akan tetapi, kereta yang ia tunggu rupanya juga mengalami keterlambatan. Nyaris jam 11 kereta baru tiba.

Monika biasa turun di stasiun Palmerah kemudian lanjut naik ojek menuju kantor. Dalam perjalanan yang memakan waktu satu jam itu, ia selalu ikut di gerbong perempuan. Namun, pada Senin yang nahas (9/12/2013) itu, Monika memilih untuk masuk di gerbong 6.

“Waktu itu males ke depan aja. Kebetulan juga kereta penuh gitu,” kata Monika ketika dihubungi, Selasa (3/12/2019).

Tidak lama setelah kereta berangkat, suasana mencekam itu muncul: dentuman keras, jerit suara para penumpang yang panik, ibu-ibu yang menangis, bau asap yang menguar...

Setelah sempat berlari menuju ke gerbong paling belakang usai suara dentuman terdengar, Monika akhirnya berhasil keluar paksa melalui pintu belakang. Ia masih mengingat betul kejadian tersebut, seakan baru terjadi minggu lalu. Termasuk jerit suara salah seorang ibu yang ketakutan:

"Aku nggak mau mati, aku nggak mau mati..."

Penumpang yang telah turun segera mengungsi ke rumah penduduk yang berada di samping rel kereta api. Tapi Monika kala itu justru memberanikan diri pergi ke depan dan melihat gerbong yang terbakar. Di dalam kereta,banyak orang yang terjebak dalam kobaran api. Sempat pula ada penumpang yang berhasil gerbong dengan kondisi terbakar.

Sembilan orang meninggal dan puluhan orang luka-luka dalam tragedi ini. Tiga yang meninggal adalah masinis Darman Prasetyo, asisten masinis Agus Suroto, dan teknisi kereta Sofyan Hadi. Lainnya adalah penumpang yang terjebak di gerbong wanita.

Sopir dan kernet truk Pertamina, Chosimin dan Mudjiono, nyaris pula menemui ajal. Namun, setelah truk mereka terseret kereta, keduanya memberanikan diri melompat keluar dari kendaraan. Mereka lalu dibawa ke rumah sakit terdekat. Sementara evakuasi korban lain yang terbakar dan terjepit di gerbong baru berhasil dimulai pukul 15.45.

Hari itu, Tragedi Bintaro seolah terulang kembali.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Hasil penyelidikan terkait Tragedi Bintaro 2013 itu berujung tidak jelas sampai hari ini. Tidak ada pihak yang dianggap bersalah, baik PT Kereta Api Indonesia, ataupun PT Pertamina. Hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memang sudah dirilis 2013 silam, tetapi berupa pemaparan fakta belaka yang prinsipnya mencegah kesalahan serupa terjadi.

Investigasi KNKT menyebutkan ada beberapa penyebab kecelakaan. Salah satunya adalah palang pintu dari arah Tanah Kusir, dibanding dari arah Ceger, menutup lebih lambat sehingga truk tetap melintas, padahal kereta sudah sangat dekat.

Menurut warga sekitar, palang pintu di Pondok Betung itu memang kerap terlambat turun. Pada saat kejadian, fakta di lapangan malah lebih parah. Palang pintu justru berada pada posisi terbuka sesaat setelah kecelakaan terjadi.

KNKT menduga palang tidak diturunkan karena truk terlanjur berada dalam lintasan, sementara kereta sudah sangat dekat dan sirine terus dibunyikan. Jika palang diturunkan, khawatir truk justru tidak bisa lolos dari tabrakan.

Selain itu, kondisi rambu perlintasan kereta juga menjadi masalah. KNKT menemukan warna rambu sudah dalam kondisi buram, termasuk jarak, fungsi, dan penempatan rambu yang tidak tepat. Temuan KNKT juga dijadikan alasan sopir truk yang mengklaim bahwa rambu tidak menyala saat kecelakaan.

Banyaknya ranting pohon juga menjadi halangan pengemudi melihat kereta datang. Ini selaras dengan pengakuan Monika. Menurutnya, sebelum kecelakaan terjadi, kereta yang ditumpangi sempat bersemuka dengan kereta arah berlawanan.

“Mungkin dia melihat satu kereta sudah lewat, terus maju, dia lupa ada satu kereta lagi,” kata Monika.

Sebab ketiga adalah jalanan di lokasi yang tidak rata dan menghambat laju kendaraan. Dampaknya, ketika sopir sudah melihat kereta datang, maka kendaraan tetap tak bisa menghindar. Padahal situasi lalu lintas saat kecelakaan tidak terlalu padat, tapi ada dua motor di depan truk yang melaju lambat akibat jalanan rusak. KNKT mencatat, seharusnya kecepatan minimum di lintasan adalah 12,8 km/jam.

“Kernet sudah memberi tahu sopir, namun sopir mengatakan, 'Saya harus gimana lagi', maka terjadi kecelakaan," ujar Letua Sub Komite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT Kusnendi Soehardjo, Senin (30/12/2013) seperti dikutip Kontan.

Sedangkan menurut versi PT KAI, truk justru menerobos palang pintu yang sudah mau menutup. Akibat kelalaian itu, truk tak bisa menghindari tabrakan.

Pada saat kecelakaan, masinis baru dapat melihat truk dalam jarak 107 meter karena lintasan yang melengkung. Dalam jarak segitu, masinis sudah berusaha mengerem sebanyak dua kali, tapi hasilnya nihil dan tabrakan tak terhindarkan. Ada pun jarak yang diperlukan untuk berhenti total mencapai 235,4 meter.

Dalam kondisi seperti itu, masinis, asisten masinis, serta teknisi sudah menyadari akan adanya tabrakan yang parah. Namun, mereka justru menutup pintu pengemudi dan memperingatkan penumpang akan adanya tabrakan supaya bisa mengungsi ke gerbong belakang.

Setelah memperingatkan penumpang, teknisi dan asisten masinis tidak melompat keluar dari kereta. Mereka menemani masinis yang sibuk mengerem kereta dan berharap tabrakan bisa dihindari. Petugas kereta api di sekitar lokasi memang sudah memberikan tanda bendera merah agar kereta mengerem, tapi percuma.

Darman Prasetyo, Agus Suroto, dan Sofyan Hadi kemudian dianggap pahlawan oleh penumpang maupun sebagian rakyat Indonesia. PT KAI bahkan membangun prasasti di Stasiun Tanah Abang untuk mengenang dedikasi ketiganya terhadap keselamatan penumpang.

Nama ketiganya juga turut diabadikan: Darman sebagai nama Balai Pelatihan Teknik Traksi, Yogyakarta, Agus sebagai nama Balai Pelatihan Operasional dan Pemasaran (BP-Opsar) di Bandung, lalu Sofyan sebagai nama Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian (BPTP) di Bekasi.

Tidak Jadi Pelajaran

Tragedi Bintaro 2013 adalah tragedi kecelakaan kereta kedua terbesar sejak terjadinya Tragedi Bintaro I (1987).

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah daerah sudah membangun jembatan layang Bintaro untuk mengatasi orang melintas lagi di palang pintu Pondok Betung. Perlintasan itu juga sudah dipasangi panel beton dan kawat logam agar tidak ada kendaraan yang nakal dan memaksa melintasi lagi daerah tersebut. Sialnya, masih saja ada orang yang membandel dan tidak melewati jalan layang.

Dua tragedi Bintaro menjadi contoh konkret betapa kecelakaan kereta terjadi bukan hanya karena fasilitas keamanan, tapi juga tingkah laku para pengendara dan pejalan kaki. Menurut penjaga palang pintu Pondok Betung sewaktu masih aktif, Sukarwo, banyak pengendara yang nekat, bahkan sampai marah-marah, ketika diberitahu kereta akan lewat.

"Buat mengatur mereka itu susah. Lihat yang ini, deh (sambil menunjuk sebuah mobil Avanza berwarna silver yang menerobos palang pintu yang sedang diturunkan), sudah di belakang masih maju. Nanti kalau ada kecelakaan saling menyalahkan,” keluh Sukarwo seperti dilansir Detik.



Masalah lain yang menjadi sorotan setelah kecelakaan adalah penempatan gerbong wanita di depan dan belakang KRL. Ada pihak yang menganggap bahwa hal itu seolah menjadikan wanita menjadi bantalan kereta ketika kecelakaan, alih-alih mendapat keistimewaan

Namun kritik ini tidak mengubah apapun. Sampai sekarang gerbong perempuan KRL masih berada di kepala dan ekor kereta. Hanya mass rapid transit (MRT) saja yang menjadikan gerbong wanita berada di tengah.

Terlepas dari segala kecelakaan dan kekurangan yang terjadi, kereta tetap menjadi sarana transportasi yang paling laku. Hal ini turut diamini oleh Monika selaku saksi hidup Tragedi Bintaro II. Menurutnya, kereta adalah pilihan paling efektif untuk menjejaki Jakarta. Bahkan hanya berselang satu minggu usai tragedi naas itu, ia memberanikan diri untuk kembali naik kereta.

Meski masih merasa mencium bau asap saat melewati lokasi kejadian, Monika berharap tak lagi mengalami kecelakaan kereta lainnya. Harapan yang sudah pasti turut diamini siapa saja.

Baca juga artikel terkait TRAGEDI BINTARO 1987 atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight