Tradisi Berburu dan Kelestarian Hutan Adat Tana' Ulen

(kiri ke kanan) Basmairan (29), Sion (7), Eli Safan (32) dan Anugerah (31) berpose dengan persenjataan berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara, Rabu (21/6). ANTARA FOTO/Zabur Karuru
17 Juli 2017
Pagi itu, empat pemuda bersiap-siap untuk berburu di hutan, seorang di antaranya menaikkan anjing peliharaannya ke atas perahu sementara yang lainnya menata peralatan berburu dan menyalakan mesin perahu, mereka adalah pemuda Dayak Kenyah Uma'lung yang tinggal di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.

Mereka akan berburu di hutan adat Tana' Ulen, sebuah hutan yang sangat mereka hormati dan dijaga kelestariannya, karena bagi mereka alam memberikan semua kebutuhan yang diperlukan.

Bagi masyarakat Dayak, kegiatan berburu biasanya dilakukan selepas musim panen dan dilakukan secara berkelompok, hasil buruannya pun tidak dijual tetapi dibagi sesuai kebutuhan yang ikut berburu.

Mereka masih menggunakan alat tradisional seperti mandau, sumpit dan tombak terkadang memakai senapan. Mandau merupakan senjata utama dan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Sumpit merupakan senjata yang paling efektif, tidak mengeluarkan bunyi namun mematikan. Sumpit biasanya terbuat dari kayu Ulin yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan bisa digunakan sebagai tombak. Sementara anak sumpit terbuat dari bilah bambu yang diolesi getah beracun.

Saat ini tradisi berburu masih sering dilakukan warga di desa itu, selain berladang dan beternak sebagai mata pencahariannya. Masyarakat Dayak yang bermukim di Desa Setulang berharap kearifan lokal yang mereka jaga dapat lestari hingga anak cucu mereka dan hutan adat tetap terjaga, walau pun saat ini beberapa perusahaan menginginkan hutan tersebut untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit.

Foto dan Teks: Zabur Karuru
a