Menuju konten utama

Toyota Keluhkan Geliat Pertumbuhan Industri Otomotif Masih Lesu

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengatakan dari dalam negeri daya beli masyarakat untuk mobil sedang mengalami kelesuan.

Toyota Keluhkan Geliat Pertumbuhan Industri Otomotif Masih Lesu
Pengunjung memperhatikan Toyota Prius di stan Toyota pada pembukaan GIIAS 2017 di ICE, BSD City, Tangerang, Kamis (10/8). tirto.id/Arimacs Wilander

tirto.id - Pertumbuhan industri menurut pelaku usaha masih relatif datar pada 2018. Ini disebabkan oleh persaingan usaha global yang ketat di tengah pertumbuhan ekonomi rata-rata dunia yang masih belum stabil. Kondisi ini salah satunya berdampak pada pertumbuhan industri otomotif.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan dari dalam negeri daya beli masyarakat untuk mobil sedang mengalami kelesuan. Kendati demikian, masih ada keyakinan market size dapat bertumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

“Semua yakin industri domestik itu akan growth, tapi enggak cepet. Optimistisnya karena pertumbuhan ekonomi masih naik. Belum mengkonsumsi mobil secara masif mungkin karena waktu aja,” ucap Warih di Jakarta pada Senin (27/11/2017).

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2017 memang menunjukkan peningkatan menjadi 5,06 persen, dari kuartal I dan II yang sebesar 5,01 persen.

Lalu dibandingkan pada periode kuartal III 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 5,02 persen. Sementara, pemerintah dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini 5,2 persen.

Warih menyebutkan total kapasitas produksi otomotif di dalam negeri ada 2 juta unit. Saat ini baru mencapai 1,2 juta unit, hingga 2020 diproyeksikan kemampuan produksi hanya sebatas 1,25 juta unit.

Market kompetisinya berat sekali. Kita berharap total market size Indonesia makin besar. Pada 2020 masih diperkirakan kemampuan produksi 1,25 juta unit. Enggak signifikan increase,” ujarnya.

Lesunya pertumbuhan industri tercermin dari kemampuan ekspor yang baru mencapi 180 ribuan unit. Pada tahun depan pun diprediksikan angka itu tidak berubah jauh.

Penyebabnya adalah hampir semua negara mau mengembangkan produksi sendiri, mengakibatkan ekspansi pasar sulit dilakukan. “Hampir semua negara mau mengembangkan produksi sendiri, kompetisi besar,” ungkapnya.

Ia mengimbuhkan bahwa setiap market memiliki keunikan karakteristik tersendiri yang sulit untuk ditembus. Seperti Australia yang memiliki karakteristik serupa Eropa, yang mengedepankan perhitungan faktor keamanan dan kandungan emisi kendaraan.

Saat ini, produk Toyota Indonesia belum bisa menerobos pasar Australia. “Produk-produk kita perlu kita tune up dulu supaya siap untuk itu. Perlu waktu,” kata dia.

Untuk tahun depan, ekspansi pasar Toyota menyasar ke kawasan Laos, Afrika Utara, dan Myanmar juga dianggap pasar ekspor potensial. “Pasar baru rata-rata volumenya belum berkontribusi signifikan, seperti 1000 unit per tahun. Masih belum banyak merubah volume total produksi,” ungkapnya.

Sementara terkait Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dikatakannya Indonesia masih kalah dengan Thailand yang sudah mencapai TKDN 73 persen. Sedangkan Toyota Indonesia saat ini hanya menyentuh 61-62 persen, TKDN 70 persen lebih ditargetkan baru dapat terjadi pada 2019.

Menurutnya untuk mendorong peningkatan TKDN pada produk-produk yang diproduksi di Indonesia, termasuk merek asing, dikatakannya butuh insentif dari pemerintah melalui kemudahan-kemudahan investasi, secara marketnya sendiri sudah tersedia di Indonesia. Selebihnya untuk lebih mudahnya adalah melalui join venture.

“Mitra boleh dari mana saja, Jepang, Jerman, Korea, yang penting pokoknya yang produksi di Indonesia materialnya harus dari Indonesia,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI OTOMOTIF atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Otomotif
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Yuliana Ratnasari