Toy Story dan Resep Sukses Pixar Jadi Perusahaan Animasi Besar

Infografik Pixar
Toy Story 4. FOTO/pixar.com
Oleh: Faisal Irfani - 29 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kehati-hatian, orisinalitas, dan sinergi antar orang-orang dalam perusahaan: tiga resep jitu Pixar jadi digdaya.
tirto.id - George Lucas punya segudang fantasi di kepalanya. Berbekal modal nekat, sedikit keberuntungan, dan tentunya kreativitas tak terbatas, ia membikin karya yang kelak disebut-sebut sebagai tonggak budaya populer: Star Wars. Dalam rentang enam tahun, dari 1977 sampai 1983, Lucas membuat tiga film Star Wars: A New Hope (1977), Empire Strikes Back (1980), serta Return of the Jedi (1983).

Kendati bergelimang kesuksesan, Lucas tak ingin berpuas diri. Ia merasa karya-karyanya belum sempurna. Ada beberapa hal yang menurutnya harus dipoles lebih lanjut.

Tiga tahun sebelum Return of the Jedi rilis, Lucas merekrut Ed Catmull, pria asal Virginia yang juga lulusan Institut Teknologi New York, untuk mengepalai Divisi Komputer LucasFilm. Lucas melihat Ed punya kriteria yang cocok guna mengisi posisi tersebut.

Tugas Ed di pekerjaan barunya ialah mengembangkan teknologi komputer canggih yang bisa diaplikasikan dalam industri perfilman Hollywood. Yang diinginkan Lucas: sistem pengeditan film dan suara secara digital sampai eksplorasi grafik.

Kiprah pertama Ed beserta divisinya dapat dijumpai di film Star Trek II: The Wrath of Khan (1982). Dalam film yang disutradarai oleh Nicholas Meyer itu, tim Ed berhasil menciptakan efek visual yang memukau pada masanya: mengubah planet yang semula tak bernyawa menjadi ladang subur yang dipenuhi rumput hijau.

Pada 1986, terjadi sesuatu di luar prediksi. Steve Jobs, pendiri Apple, membeli Divisi Komputer milik Lucas dan mengubahnya menjadi perusahaan independen bernama Pixar.


Berkat Toy Story

Pixar bukan sembarang perusahaan. Merekalah yang bertanggungjawab atas lahirnya film-film animasi bernas macam Wall-E (2008), Finding Nemo (2003), Brave (2012), hingga yang terbaru: Toy Story 4 (2019).

Usai dibeli Jobs dengan harga $5 juta, Pixar segera tancap gas. Bermodal 40 karyawan, Pixar menggarap proyek kecil-kecilan seperti iklan televisi. Momentum besar datang kala Disney mengajak mereka untuk mengerjakan CAPS, Sistem Produksi Animasi Komputer, yang nantinya berandil besar dalam merevolusi dunia animasi Hollywood. Tujuan akhir dari kolaborasi ini ialah film animasi yang seluruh elemen di dalamnya dibikin dengan komputer.

“[Pixar] kelompok yang sangat kecil [ketika saya bergabung]. Tapi, di sana ada banyak orang-orang hebat dan menakjubkan dalam bidang komputer,” kata John Lasseter, Kepala Kreatif Pixar, dalam wawancaranya dengan The Telegraph.

Bersama Disney, Pixar mengerjakan film yang diberi judul Toy Story. Film animasi yang mengenalkan tokoh Buzz Lightyear dan Sheriff Woody ini tak dinyana meledak di pasar. Sejak debutnya pada 22 November 1995, Toy Story segera diburu orang-orang.

Pendapatan yang dihasilkan Toy Story pun tak main-main: $192 juta dari dalam negeri dan $362 juta dari seluruh dunia. Tak sekadar laris manis, Toy Story juga diganjar penghargaan di ajang Oscar untuk kategori Skenario Asli Terbaik, menjadikannya film animasi pertama yang menerima sepanjang sejarah penyelenggaraan Oscar.

Tak lama usai sukses besar Toy Story, Pixar memutuskan untuk melantai di bursa saham. Di titik ini pula, Pixar mengambil sikap tegas: memfokuskan diri pada film-film animasi berdurasi panjang.

Keberhasilan Toy Story membuka pintu rejeki Pixar. Setelahnya, film-film produksi Pixar seperti A Bug’s Life (1998), Monster, Inc. (2001), hingga Finding Nemo (2003) jadi tontonan wajib kala musim liburan tiba.

“Saya ingat saat makan malam dengan Jobs di San Francisco [sebelum Toy Story rilis]. Saya berdiri di luar restoran, kemudian Jobs datang menghampiri saya dan bilang, ‘John, di Apple, umur komputer mungkin cuma tiga tahun. Setelah lima tahun itu akan menjadi pertaruhan. Jika kamu melakukan pekerjaanmu dengan benar, apa yang kamu buat bakal bertahan selamanya,’” kenang Lassater.

Prediksi Jobs pun terbukti.


Naik Turun Bersama Disney

Pada 2006, Pixar kembali menapaki babak baru. Sebagaimana dilaporkan CNN, Disney resmi membeli Pixar dengan harga $7,4 miliar. Pembelian tersebut mengakhiri spekulasi yang berkembang di khalayak. Peran Disney pun ikut berubah: mereka tak lagi semata distributor, melainkan juga penentu arah kebijakan perusahaan di masa mendatang.

Sebelum akhirnya dibeli Disney, relasi kedua belah pihak sempat tegang. Penyebabnya adalah konflik antara Jobs dengan Michael Eisner yang saat itu duduk di kursi eksekutif Disney. Sebagaimana dilaporkan The New York Times, keretakan Pixar-Disney berpangkal soal kepercayaan. Suatu ketika dalam sebuah rapat, Eisner meremehkan slogan iklan Apple sampai-sampai Jobs murka dan memilih untuk tak lagi percaya kepada Disney.

Meski begitu, konflik ini perlahan mereda karena pertimbangan bisnis. Bagaimanapun Jobs menganggap Disney sebagai mitra yang ideal. Alih-alih mencari partner lain, tetap bekerjasama dengan Disney merupakan pilihan rasional.

“Disney dan Pixar sekarang dapat berkolaborasi tanpa hambatan dalam posisinya sebagai dua perusahaan maupun pemegang saham yang berbeda,” terang Jobs, dalam pernyataan resminya tak lama usai kesepakatan kedua belah pihak diteken. “Sekarang, semua pihak bisa fokus pada apa yang paling penting: menciptakan cerita inovatif serta karakter sekaligus film yang menyenangkan jutaan orang di seluruh dunia.”




Sebagai bagian dari kepakatan, Jobs bakal menempati posisi anggota dewan di Disney. Sementara Lasseter, yang sebelumnya sempat bekerja di Disney, ditunjuk sebagai direktur kreatif.

Kemitraan keduanya terbukti kokoh, solid, dan berlangsung lama. Tidak seperti kerjasama dua perusahaan yang berbeda lini kerja, relasi Disney-Pixar jarang sekali terkena isu perpecahan internal.

“Sebagian besar akuisisi, terutama yang berada di industri media, bisa menghancurkan nilai-nilai yang diusung masing-masing perusahaan. Tapi, itu tidak terjadi di sini [Pixar-Disney],” ungkap David Price, penulis The Pixar Touch: The Making Company.


Resep Sukses: Orisinalitas

Sejak beroperasi pada 1986, Pixar telah membuat 21 judul film panjang. Angka ini tentu terbilang sedikit untuk perusahaan yang berumur lebih dari tiga dekade. Menariknya, walaupun minim produksi, film-film Pixar punya konsistensi yang patut diacungi jempol baik secara finansial maupun kualitas.

Data dari Box Office Mojo memperlihatkan bahwa keseluruhan film Pixar punya pendapatan di atas $100 juta dolar—di ranah domestik. Film yang paling laku adalah Incredibles 2 (2018) dengan pendapatan sebesar $608,5 juta, disusul oleh Finding Dory ($486,2 juta), Toy Story 3 ($415 juta), Inside Out ($356 juta), serta Finding Nemo ($339,7 juta).

Apa resepnya?

Pertama, kehati-hatian. Pixar merupakan perusahaan kreatif yang senantiasa memegang teguh prinsip ini. Setiap film direncanakan sematang mungkin, melalui riset dan proses yang panjang. Bila film dirasa belum siap dirilis, Pixar akan tetap menyimpannya. Mereka tak ingin asal melepas film jika kualitasnya masih dianggap belum sempurna.

Ed Catmull menganalogikan film-film Pixar tak ubahnya seperti bayi yang mesti dilindungi. Menganggap sebuah film adalah investasi jangka panjang, yang dibikin tak hanya untuk sekarang, tetapi juga di beberapa tahun ke depan.

Resep kedua adalah orisinalitas. Pixar berupaya keras menyajikan cerita baru di film-filmnya. Mereka tak ingin mengekor pada naskah adaptasi, sebagaimana produksi Hollywood pada umumnya. Menawarkan cerita yang asli dan belum pernah digarap pabrikan lain merupakan cara agar para penonton tak bosan. Ditambah lagi, Pixar juga tidak terlalu tertarik dengan konsep sekuel.

Inilah yang kemudian membuat Pixar cuma mengeluarkan dua-tiga film per tahun—bahkan bisa kurang dari itu.

“Ketika ada perusahaan lain yang sukses, mereka mulai mengembangkan sekuel. Sementara kami tidak begitu. Kami hanya akan mulai mengembangkan sekuel ketika kami punya ide yang cukup bagus,” jelas Lasseter.

Presiden Pixar, Jim Morris, menambahkan, “Jika Anda perhatikan, kami termasuk perusahaan yang cukup menyedihkan dalam hal menjajaki potensi sekuel. Finding Dory, misalnya, baru keluar 10 tahun setelah Finding Nemo! Kami ingin menunggu sampai punya ide. Kami tidak begitu cocok dengan model sekuel Hollywood.”

Ketiga, dan ini menjadi inti dari Pixar, yaitu sistem kerja yang saling berkesinambungan. Di Pixar, tak ada sosok yang jadi bintang. Bila Pixar sukses, maka kesuksesan tersebut merupakan buah hasil kolektivitas—begitu pula jika gagal. Masing-masing pihak di Pixar punya kontribusi penting bagi keberlangsungan perusahaan. Semua terangkum dalam konsep bernama “Pixar Way.”

Selain menghibur, film-film Pixar mampu membuat penonton paham bagaimana cara mereka memandang dunia—yang tak baik-baik saja ini. Film Pixar, sekalipun animasi, mempunyai cerita yang dalam. Ia bisa mengajak penonton tertawa, bingung, hingga mengeluarkan air mata.

“Saya tahu bahwa di era sekarang, hal ini agak kedengaran kuno. Tapi, yang jelas, kami hanya ingin membuat film keren yang ingin ditonton orang. Kami ingin terus melakukan apa yang kami lakukan saat ini. Meskipun film-film kami dianggap besar, pada akhirnya itu hanyalah kisah personal,” tegas Morris.

Baca juga artikel terkait FILM ANIMASI atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight