Toronto Raptors, dari Pesakitan Jadi Jawara NBA

Oleh: Renalto Setiawan - 17 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Toronto Raptors berhasil menjadi juara NBA musim 2018-2019. Mereka berhasil meraih gelar tersebut dengan cara yang berbeda dengan tim-tim lainnya.
tirto.id - “Aku tidak bermimpi pada malam hari,” kata Steven Spielberg, salah satu sutradara ternama asal Amerika, suatu waktu. “Aku bermimpi pada siang bolong. Aku bermimpi setiap hari. Aku terus bermimpi untuk hidup.”

Pada tahun 1993 keinginan Steven Spielberg untuk terus bermimpi itu mampu menghasilkan sebuah film adiluhung yang berjudul “Jurassic Park”. Ia berhasil membawa dinosaurus yang telah lama punah ke layar lebar, seakan makhluk-makhluk raksasa tersebut benar-benar masih ada dan mengacaukan dunia.

Karena dinilai “berbeda” dengan karya-karya lainnya, “Jurassic Park” laku keras di pasaran. Ia meraup keuntungan lebih dari 5 miliar dolar AS hingga akhir tahun 1993 dan membuat Janet Maslin dari New York Times menyebutnya sebagai "tonggak bersejarah dalam dunia film".

Sekitar satu tahun setelah itu, kesuksesan “Jurassic Park” ternyata mempunyai andil besar terhadap kelahiran Toronto Raptors.

Menurut Ben Cohen dari The Wall Street Journal, pada tahun 1994, Toronto akan menjadi kota pertama dari luar Amerika yang memiliki tim di NBA. Untuk mendapatkan nama tim, pemiliknya lantas meminta ide dari seluruh warga Kanada. Warga Kanada pun menyambutnya dengan sukacita.

Ide terkumpul. Ada yang bagus. Ada yang buruk. Beberapa nama tampak mengerikan. Dan ada satu nama yang menarik: Raptors.

Setelah menimbang-nimbang, nama Raptors pun dipilih. Penyebabnya, tulis Cohen, “Itu adalah tahun 1994, tahun di mana ‘Jurassic Park’ masih bergema. Alasan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat tim itu dinamai seperti itu.”

Nama itu jelas dipilih agar Raptors mampu meraih kesuksesan seperti “Jurassic Park”. Sayangnya, pada awalnya tuah “Jurassic Park” ternyata tidak menyertai perjalanan Toronto Raptors di NBA: mereka menjadi pesakitan di NBA, terus-terusan ditinggal pemain bintangnya, bahkan sampai ke tahapan tidak mampu menarik minat para pemain berstatus bebas agen.

Namun, seperti Speilberg yang terus menghidupkan mimpinya, Raptors memilih terus melangkah. Akhirnya, sekitar 25 tahun setelah lahir, tepatnya dalam gelaran NBA musim 2018-2019, Raptors pun mampu menciptakan sebuah sejarah besar. Mereka mempunyai nama lain: juara NBA. Dan seperti cara Speilberg menyuguhkan “Jurassic Park”, Raptors meraih gelar itu dengan cara yang “berbeda” dengan tim-tim sukses lainnya.

Perjudian Masai Ujiri

Dan Devine, dalam salah satu tulisannya di The Ringer , menilai bahwa pemenang gelar NBA dalam beberapa tahun belakangan sebagian besar merupakan sebuah tim yang dihuni banyak talenta. San Antonio Spurs pernah sukses karena memiliki Tim Duncan, Manu Ginobili, Tony Parker, dan Kawhi Leonard. Cleverland Cavaliers pernah tak terhentikan berkat trio LeBron James, Kyre Irving, serta Kevin Love. Dan terakhir, Golden State Warriors berhasil membangun dinasti di NBA berkat lima pemain bintangnya yang mendapatkan julukan Hampton Five: Steph Curry, Klay Thompson, Andre Iguodala, Kevin Durant, serta Draymond Green.

Namun, saat melibas Golden State Warriors 4-2 pada babak final NBA 2019, Toronto ternyata tidak mempunyai pemain-pemain seperti itu. Bintang Raptors hanya Kawhi Leonard, yang didukung oleh “pemain kelas dua” seperti Kyle Lowry dan Marc Gasol. Sisanya, Toronto juga hanya mengandalkan jebolan G League, liga basket kelas dua di Amerika: Paskal Siakam, Fred VanVleet,Danny Green, Chris Boucher, Norman Powell, Patrick McCaw, Jeremy Lin, Malcolm Miller, dan Eric Moreland.

Devine lantas menyebut Toronto sebagai “peraih gelar yang paling tidak diharapkan di sepanjang sejarah NBA”. Sedangkan dalam salah satu tulisannya tentang di ESPN , Zack Lowe menulis judul: “Can Any Team Possibly Replicate What the Rapotrs just pulled of in the NBA Finals?”

Jika Devine hanya membicarakan tentang skuat yang dimiliki oleh Toronto Raptors, Lowe menulis judul seperti itu karena lebih menyoroti tentang bagaimana kinerja Masai Ujiri, bos Raptors, dalam membangun skuat seperti itu. Dimulai saat ia menukar Rudy Gay -- bintang utama Raptors -- ke Sacramanto Kings pada tahun 2013, Ujiri ternyata gemar melakukan perjudian.

“Kami menukar Rudy untuk melihat di mana kami akan berada,” kata Ujiri saat itu. “Apakah kita akan menghancurkan semuanya? Dari situlah keberuntungan biasanya akan muncul. Kita dapat berpikir bahwa kita adalah seorang jenius, tetapi dalam bisnis ini, Anda membutuhkan keberuntungan.”

Sesuai harapannya, perjudian Ujiri tersebut ternyata menghasilkan kesuksesan. Sebelum Gay pergi, Raptors hanya mampu menang 7 kali dan kalah sebanyak 13 kali pada musim reguler. Setelah Gay pergi, Raptors terus menang, menang, dan menang.

Setelah itu ada perjudian menarik Ujiri lainnya, tentang bagaimana caranya dalam mempertahankan Kyle Lowry, mendatangkan Marc Gasol, hingga merekrut ulang Fred vanVleet yang kelak akan menjadi salah satu bintang kemenangan Toronto di NBA final 2019.

Namun, dari perjudian-perjudian menarik tersebut, perjudian terbaik Ujiri tentu saja terjadi saat ia menukar DeMar DeRozan dan Jakob Poeltl, dua bintang Raptors musim 2017-2018, untuk mendapatkan Kawhi Leonard dan Danny Green dari San Antonio Spurs.

Semula, terutama untuk pertukaran DeRozan dengan Kawhi, keputusan Ujiri tersebut ditentang banyak orang. DeRozan adalah pencetak angka terbanyak Raptors sepanjang masa, sekaligus sahabat kental Lowry. Bagaimana bisa Ujiri menukarnya dengan pemain yang pada musim 2017-2018 hanya bermain dalam 7 pertandingan karena cedera panjang?

Selain itu, kontrak Kawhi juga hanya tinggal tersisa selama satu tahun. Jika ia tampil tidak sesuai harapan pada musim 2018-2019, Raptors bisa terkena bencana dahsyat.

Don Yaeger dari Forbes lalu menyebut bahwa Ujiri “tak akan bisa tidur nyenyak” karena keputusannya itu, tetapi Kawhi ternyata berhasil membuat Ujiri mimpi indah: ia tampil menggila pada saat yang tepat, membawa Raptors meraih gelar NBA untuk pertama kalinya, dan meraih gelar MVP final.

Zach Kram dari The Ringer pun menunjukkan 15 fakta tentang kehebatan Kawhi semenjak babak play-off hingga babak final. Tiga di antaranya ialah:

Pertama, saat Raptors mengalahkan 76ers di laga semifinal wilayah Timur, Kawhi adalah satu-satunya pemain di NBA yang mampu menciptakan buzzer-beater pada gim ketujuh. Kedua, dari babak play-off hingga final, Kawhi rata-rata mencetak 30,5 angka dalam setiap pertandingan, menjadi yang terbaik sejak tahun 2000 silam. Dan ketiga, Kawhi adalah satu-satunya pemain yang berhasil meraih gelar NBA dengan catatan lebih dari 30 angka per laga yang tingkat persentase tembakannya mampu mencapai 60 persen.

Perjudian Ujiri ternyata tidak hanya berhenti sampai di skuat Toronto saja.

Infografik Toronto Raptors Menang
Infografik Toronto Raptors Menang. tirto.id/Nauval

Peran Nick Nurse

Musim 2017-2018 lalu, Dawne Casey akhirnya dinobatkan sebagai pelatih terbaik di NBA setelah sukses membawa Toronto Raptors menjadi yang terbaik di Wilayah Timur [59 menang dan 23 kali kalah] pada musim reguler. Namun, Masai Ujiri ternyata tak peduli dengan prestasi Casey tersebut. Menjelang musim 2018-2019 dimulai, ia memecat Casey. Penggantinya: Nick Nurse, asisten pelatih Casey.

Keputusan Ujiri tersebut tentu saja mengejutkan. Nurse memang sudah malang melintang sebagai pelatih basket, tetapi tak pernah sekali pun menjadi pelatih kepala tim NBA sebelumnya. Namun, Ujiri ternyata memilih Nurse karena beberapa alasan.

Selain Nurse mempunyai hitung-hitungan matang, kata Ujiri, “Ia adalah pelatih luar biasa. Ia berada di jajaran top. Nick adalah pelatih yang mau mencoba hal-hal baru dan inovatif. Anda akan tahu bahwa ia benar-benar seorang ahli taktik yang selalu memikirkan permainan.”

Sekali lagi, perjudian Ujiri membuahkan hasil.

Kemampuan Nurse dalam menggunakan Kawhi Leonard bisa salah satu contoh hitung-hitungan matang pelatih Birmingham Bullets tersebut. Untuk memaksimalkan kemampuan Kawhi pada babak play-off hingga final, pada musim reguler, Nurse ternyata tak pernah memainkan Kawhi dalam pertandingan yang dilakukan dalam dua hari secara berturut-turut. Alhasil, dari 82 pertandingan, Kawhi hanya bermain dalam 60 pertandingan NBA reguler.

Sementara itu, pendekatan taktik yang diterapkan Nurse pada gim kedua dan keenam NBA final 2019 juga bisa menjadi contoh betapa inovatifnya pelatih yang berasal dari Iowa, Amerika Serikat itu.

Pada pertandingan gim kedua, Toronto sempat ketinggalan 13 angka dari Warriors. Mereka tak sekali pun mencetak angka saat anak asuh Steve Kerr tersebut berhasil melesakkan 18 angka. Dari sana, terutama setelah Klay Thompson diistirahatkan, Nurse kemudian menerapkan taktik yang jarang dilihat di NBA: box-and-one.

Taktik tersebut adalah perpaduan antara zonal dan man-to-man defense. Sementara empat pemain Toronto bertahan di dalam area secara zonal, seorang pemain Toronto akan melakukan man-to-man marking terhadap pemain terbaik yang dimiliki Warriors. Kala itu Nurse menyuruh Fred VanVleet untuk mematikan Steph Curry.

Karena hampir semua pemain NBA era sekarang -- apa pun posisinya -- bisa menyerang dari area luar maupun dalam, pendekatan taktik Nurse tersebut tentu saja sangat berisiko. Chris Herring, analis basket di Five Thirty Eight, bahkan menyebut taktik tersebut hanya layak digunakan dalam pertandingan basket antar SMP. Namun, pendekatan taktik Nurse tersebut ternyata bekerja: meski akhirnya kalah, Toronto berhasil memangkas jarak menjadi 109-104.

“Aku merasa senang bisa membuat mereka berhenti mencetak angka,” kata Nurse sesudah pertandingan. “Kami akhirnya menemukan sesuatu yang bisa membuat mereka tampak lamban.”

Yang menarik, terutama setelah Klay Thompson mengalami cedera pada kuarter keempat, Nurse kembali menerapkan taktik tersebut pada gim keenam. Raptors, yang sempat ketinggalan 86-88, akhrinya berhasil unggul dengan skor 114-104. Mereka berhasil mengunci gelar

Untuk semua itu, dari perjudian yang dilakukan oleh Masai Ujiri hingga keputusan yang diambil oleh Nick Nurse, Chris Herring mengambil kesimpulan menarik di balik kesuksesan Raptors: “Raptors sudah melakukan perjudian sejak lama dan kemampuan mereka dalam memasang taruhan pada waktu yang tepat adalah alasan utama mengapa mereka berhasil meraih gelar.”

Baca juga artikel terkait NBA 2019 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti