Tony Accardo: Setengah Abad Lebih Jadi Bos Mafia

Oleh: Eddward S Kennedy - 24 Maret 2019
Dibaca Normal 5 menit
Nama Tony Accardo abadi sama hal dengan keabadian kebengisan organisasi mafia yang pernah ada.
tirto.id - Nick Bosa menjadi salah satu pemain belakang yang banyak menyedot perhatian di NFL Combine, setidaknya dalam dua musim terakhir. Beberapa penghargaan seperti First Team All-Big Ten dan Smith-Brown Big Ten Defensive Lineman of the Year menunjukkan hal tersebut. Namun, siapa sangka mantan pemain belakang Ohio State ini ternyata keturunan mafia legendaris, Tony Accardo?

Football sudah menjadi olahraga favorit keluarga Bosa. Kakaknya, Joey Bosa, juga bermain di Ohio State semasa kuliah dan kini memperkuat Los Angeles Chargers di NFL. Demikian pula ayah mereka, John Bosa, yang pernah tiga musim bermain untuk Miami Dolphins.

Di mana posisi Tony Accardo dalam pohon keluarga Bosa? Accardo adalah kakek dari Cheryl Kumerow, perempuan yang dinikahi John Bosa. Dengan demikian, Nick serta Joey adalah cicit Accardo.



Lahir di Chicago pada 28 April 1906, Accardo merupakan anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pembuat sepatu, Francesco Accardo. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga, Maria Tilotta. Mereka berasal dari Castelvetrano, Trapani, Sisilia, yang kemudian beremigrasi ke Amerika, seperti kebanyakan orang Italia lain kala itu.

Ketika memasuki usia 14 tahun, Accardo berhenti dari sekolah dan mulai menjadi berandalan dengan bergabung bersama Circus Cafe Gang, sebuah geng kecil yang dijalankan oleh dua sosok bernama Claude Maddox dan Tony Capezio. Geng ini merupakan tempat para bandit pemula untuk mengasah karier kejahatannya sebelum masuk ke geng yang lebih besar.

Begitulah yang dialami oleh Accardo sebelum kemudian ia diajak oleh Jack "Machine Gun" McGurn, salah satu pembunuh bayaran yang paling galak dari Chicago Outfit pimpinan Al Capone, untuk menjadi anggota divisinya.

Sejak perekrutan tersebutlah Accardo secara perlahan menapaki jalan sebagai mafia yang kelak paling lama bertahan: enam dekade. Ini adalah durasi terlama bagi seorang bos mafia. Neil Gordon, penulis buku ‘Tony Accardo is Joe Batters: Mob Boss Murderer, the Untold Story’, mengatakan:

“Coba pikir. Dia menjadi bos mafia selama enam dekade dan secara matematis itu berarti 720 bulan. Jika dia bertanggung jawab untuk satu kasus kematian saja tiap bulannya, maka....”

Pembantaian Hari Valentine’ jadi Pintu Masuk

Nama Accardo mulai bersinar sejak ia menghabisi tiga mafia yang telah mengkhianati Outfit hanya dengan memakai tongkat baseball. Al Capone yang mengetahui hal tersebut bahkan sampai ikutan memuji: “Bocah ini, nih, Joe Batters yang asli." Namun demikian, surat kabar Chicago Tribune (dan beberapa media lain) lebih suka menjulukinya “Big Tuna”--merujuk pada foto Accardo tengah mengangkat tuna hasil tangkapannya saat memancing.

Accardo memanfaatkan betul keterpukauan Al Capone dan puja-puji lain terhadap dirinya. Dari sana, ia beberapa kali mulai membual tentang keikutsertaannya dalam tragedi St. Valentine's Day Massacre, sebuah peperangan yang melibatkan dua kubu besar, geng George “Bugs” Moran, di wilayah utara Chicago, dan Al Capone, di sisi selatan.

Perseteruan dua kubu ini melanjutkan apa yang sudah lebih dulu dilakoni pendahulunya, Dion O’Banion dan John Torrio. Moran adalah bagian dari sindikat O’Banion, sedangkan Capone berada di kubu Torrio.

Konflik antara geng Bugs dan Al Capone terjadi ketika Amerika Serikat tengah berada di Era Prohibisi yang ditandai dengan pemberlakuan UU Larangan Alkohol pada 16 Januari 1920. Konflik mengenai pelarangan alkohol kian meruncing karena industri minuman keras di AS sejatinya tengah bergeliat waktu itu.

Seiring ketatnya persaingan antar saloon, berbagai upaya kreatif pun dilakukan demi memikat konsumen. Antara lain dengan membuat fasilitas judi hingga prostitusi. Hal tersebut tentunya dijadikan amunisi bagi para penentang alkohol untuk mengajak masyarakat mengutuk minuman keras. Dan hasilnya, pada 16 Januari 1920, Kongres mengeluarkan The 18th Amendment, yang berisi larangan memproduksi, mendistribusikan, dan menjual minuman beralkohol.

Puncak persaingan antara North Side Gang dengan Chicago Outfit terjadi ketika anak buah Bugs membunuh dua rekanan Al Capone dari Unione Siciliane--semacam organisasi persaudaraan bagi para orang Italia-Amerika yang berasal dari Sicilia--salah satunya adalah orang kepercayaannya, Pasqualino Lolordo. Sudah tentu kejadian ini membuat murka kubu geng Italia. Capone segera Jack McGurn beserta empat anak buahnya yang lain untuk balas dendam langsung di markas Bugs.

Persis pada Hari Valentine, 14 Februari 1929, sekitar pukul 10.30 pagi, empat orang tersebut menyerbu markas Bugs yang berlokasi di North Clark Street. Dengan menyamar sebagai polisi dan turut membawa mobil patroli, mereka langsung melakukan penggerebekan. Namun, Bugs yang menjadi target utama justru tidak ada kala itu. Mereka pun menempuh rencana B: menghabisi siapa saja yang ada di sana.

Usai kejadian itu, Bugs praktis tak punya kekuatan apa-apa lagi untuk menghantam balik Capone. Kekuatannya limbung sebab tujuh korban yang tewas merupakan “orang-orang penting” di sindikat yang dipimpinnya. Ia kalah dengan membawa dendam, sampai-sampai mempersetankan kode gengster (code of silence atau Omertà dalam istilah mafia Italia). Itu adalah sebuah kesepakatan tak tertulis di mana pantang bagi sesama gengster untuk menyebut atau menuduh nama lawannya di muka publik.

Accardo mengaku turut serta dalam aksi pembantaian tersebut. Namun, banyak sejarawan yang khusus meneliti soal mafia Sisilia di Amerika meragukan omongan Accardo. Menurut mereka, yang terlibat dalam tragedi tersebut selain Jack McGurn adalah Gus Winkler, Fred Burke, serta Louis Campagna. Adapun Accardo kemungkinan “hanya” pernah ikut dalam pembunuhan pemimpin geng Northside Hymie Weiss di dekat Katedral Holy Name di Chicago pada 11 Oktober 1926.

Mulai Jadi Capo dan Mengubah Bisnis Chicago Outfit

Pada 1932, Al Capone dihukum penjara 11 tahun karena kasus penggelapan pajak. Sosok yang menggantikannya adalah Frank "The Enforcer" Nitti, yang meski terciduk atas kasus yang sama, ia hanya dipenjara selama 18 bulan.

Dalam periode ini, Accardo sudah menjadi sosok penting di Outfit karena sudah mampu menghasilkan uang untuk organisasi. Nitti yang mengetahui hal tersebut kemudian mengangkat Accardo sebagai salah satu kepala divisi dan dipersilakan untuk membentuk krunya sendiri. Beberapa anggotanya termasuk gerombolan pembunuh bayaran level atas di Outfit, seperti Gus "Gussie" Alex dan Joseph "Joey Doves" Aiuppa.



Accardo pun segera tancap gas dengan mengembangkan berbagai bisnis yang menguntungkan. Mulai dari perjudian, pinjaman hutang/rentenir, pemerasan, hingga distribusi alkohol dan rokok. Jika ada seseorang yang menolak membayar pajak jalan (atau membayar kurang dari setengah jumlah utang), mereka akan dihabisi. Dari seluruh total keuntungan, sebagaimana peraturan tak tertulis yang berlaku untuk setiap capo, Accardo menerima bagian 5%. Nantinya hasil tersebut akan disetorkan lagi kepada Nitti selaku bos Outfit.

Pada periode 1940-an, Nitti kembali menjadi buruan aparat setelah tersangkut kasus pemerasan serikat pekerja di Hollywood. Karena takut dipenjara untuk kedua kalinya, Nitti secara ironis memutuskan bunuh diri pada 1943. Posisinya digantikan oleh Paul "The Waiter" Ricca yang selama ini memang telah menjadi bos secara de facto. Ricca kemudian menyebut Accardo sebagai underboss. Sepanjang 30 tahun, kedua orang inilah yang memimpin Outfit sampai kemudian Ricca meninggal pada 1972.

Ketika Ricca sempat dipenjara selama 10 tahun karena tersangkut kasus yang sama dengan Nitti, Accardo menjadi pemimpin Outfit. Dalam praktiknya, ia tetap berbagi kekuasaan dengan Ricca, terutama setelah ia dibebaskan dengan syarat tidak boleh lagi melakukan kontak dengan dunia mafia manapun. Ketika ini, posisi Ricca kurang lebih seperti penasihat atau Consigliere.

Infografik Tony Accardo
Infografik Tony Accardo. tirto.id/Fuad


Di bawah kepemimpinan Accardo, bisnis Outfit fokus ke perjudian dan pemalsuan perangko pajak rokok dan minuman keras, serta memperluas penyelundupan narkotika. Berbagai mesin judi tak lagi ditaruh di dalam bar, melainkan di banyak pom bensin dan restoran hingga keluar teritori Outfit. Accardo juga melakukan ekspansi ke ke Las Vegas sampai sempat mengganggu kenyamanan bisnis Five Families of New York City. Dengan pengaruhnya, ia berhasil memastikan seluruh kasino di Las Vegas memakai mesin slotnya.

Di Kansas dan Oklahoma, Outfit menjadi pemain tunggal dalam distribusi minuman alkohol. Selain itu, ia juga menutup rumah-rumah bordil, dan mengalihkannya menjadi bisnis prostitusi panggilan. Sementara untuk mengurangi peluang terkena hukum, Accardo menghapus beberapa kegiatan tradisional seperti pemerasan serikat kerja. Dengan begini, Outfit mutlak mendominasi kejahatan terorganisir di sebagian besar wilayah barat AS dan berada di era keemasan.

Sadar bahwa bisnis Outfit sedang untung-untungnya, Accardo meminta Ricca agar menampilkan diri sebagai sosok yang rendah hati dan tidak tampil mencolok. Ini sebetulnya merupakan langkah politik agar perhatian aparat lebih tertuju kepada Salvatore "Sam" Giancana, petinggi Outfit lain yang sikap dan penampilannya dikenal kerap menarik perhatian publik. Dan dengan cara tersebutlah Accardo dan Ricca mampu memimpin Outfit lebih lama ketimbang Al Capone.
Ricca turut memuji langkah ini dengan mengatakan: "Accardo punya lebih banyak otak untuk sarapan daripada yang dimiliki Capone seumur hidupnya."



Menjadi Consigliere dan Akhir Hidupnya

Pada 1957, karena jengah merasa terus diincar oleh Internal Revenue Service (IRS) atau Badan Pajak AS, Accardo menyerahkan jabatan resmi sebagai bos Outfit ke Giancana dan memilih menjadi Consigliere. Namun, karena perangai Giancana yang terus menarik perhatian, terutama FBI, ia akhirnya digantikan oleh Joey Aiuppa. Giancana pun akhirnya dihabisi atas perintah Accardo pada Juni 1975 di apartemennya, di Oak Park, Illinois.

Salah satu bentuk kebengisan lain dari Accardo adalah ketika rumahnya dimasuki komplotan pencuri pada 1978. Accardo kala itu tengah berlibur ke California bersama keluarganya, dan usai mengetahui hal tersebut, ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menghabisi komplotan pencuri tadi. Hasilnya: tiga dari empat orang yang terkait dibunuh dengan cara digorok lehernya satu per satu.

Accardo menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Barrington Hills, Illinois, tinggal bersama putri dan menantunya. Pada 22 Mei 1992, ketika usianya sudah mencapai 86 tahun, ia meninggal karena serangan jantung. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Queen of Heaven Cemetery, di Hillside, Illinois. Dan cerita paling menarik dari kehidupan Accardo adalah: sepanjang delapan dekade menjadi mafia dan memimpin organisasi mafia setengah abad lebih, tercatat ia hanya satu kali dipenjara, yaitu pada tahun 1922.

Tebak berapa lama hukumannya? Satu malam saja.

Baca juga artikel terkait MAFIA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Suhendra